Berita Utama Birokrasi Budaya Entertainment Lintas Daerah News Regional Wisata

Pusaka Empu Ngatas Angin Dijamas, Disaksikan Reh Praja Kasunanan Keraton Surakarta

NGANJUK – ANJUKZONE – Setiap tahun, bertepatan bulan Syuro, 50 pusaka para Empu Negeri Ngatas Angin atau Desa / Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur dijamas. Jamasan pusaka diawali dengan kirap menuju balai desa Ngetos, Minggu pagi, 22 September 2019.

Sebelum dijamas, pusaka Empu Ngatas Angis tersebut dikirap dengan jalan kaki sejauh sekitar satu kilometer menuju balai desa Ngetos. Kirap pusaka melibatkan para empu, warga desa, serta pemuda setempat. Selain dihadiri pejabat, kirap dan jamasan pusaka juga dihadiri oleh abdi dalem Kasunanan Keraton Surakarta.

Menurut Kepala Desa Ngetos, Warno, tradisi jamasan pusaka dilakukan setiap tahun bertepatan bulan Syura. Sebelum dijamas pusaka-pusaka milik para empu dan warga masyarakat diarak dengan jalan kaki. kirap diikuti oleh para empu, sesepuh, dan pemuda setempat.

Bergantian, para Empu Ngatas Angin menjamas pusaka (foto-sukadi)

“Sudah tradisi tahunan, kalau bulan Syura, pusaka para empu Ngatas Angin minta dijamas,” terang Warno, usai prosesi jamasan.

Menurut Witanto, salah seorang perwakilan dari Kasunanan Keraton Surakarta menyampaikan, jamasan pusaka merupakan warisan budaya leluhur. Pusaka-pusaka tersebut dijamas sebagai bentuk nguri-uri budaya warisan dari para nenek moyang yang adiluhung.

Upacara jamasan tidak hanya dilakukan oleh warga Ngetos atau Nganjuk, di keraton kasunanan Surakarta juga dilakukan hal serupa. Bahkan, upacara jamasan pusaka tidak hanya dilakukan satu tahun sekali.

“Kalau di Kasunanan Keraton Surakarta, jamasan pusaka bisa dua kali dalam setahun,” ujar Witanto.

Hal serupa, Amin Fuadi menyampaikan, tradisi jamasan pusaka dapat dijadikan agenda tahunan untuk menarik wisata. Hanya saja, kemasan prosesi jamasan harus memiliki daya tarik dan unik.

“Kalau jamasan pusaka seperti ini dikemas lebih menarik, sebenarnya dapat dijadikan obyek wisata,” ucap Kasi Kesejarahan dan Kepurbakalaan Disparporabud Nganjuk.

setelah dikeluarkan dari sarungnya, limapuluh pusaka satu per satu mulai dijamas. secara bergantian, pusaka dijamas menggunakan uba rampe yang telah disediakan oleh masing-masing empu. proses terakhir, pusaka ditiriskan berjajar.

Reporter: Sukadi

Editor: Yuniar N.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *