Berita Utama Hukum Kriminal Lintas Daerah News Regional

13 Reka Ulang Pembunuh Paman Ini Tanpa Kejanggalan

Dipicu Hutang Rp 23 Juta Ditagih Rp 200 Juta

NGANJUK – ANJUKZONE – Reka ulang kasus pembunuhan yang dilakukan oleh keponakan terhadap pamannya, dilakukan hari ini, Kamis siang, 05 September 2019. Reka ulang dilakukan di tempat kejadian perkara (TKP), Dusun Ngrayung, Desa Musirlor, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk. Dalam menghabisi nyawa korban, Damin (69), tersangka Supar, (48) memperagakan 13 adegan reka ulang. Di mulai saat pertama terjadi cek-cok kepada korban hingga menyerahkan diri ke Polres Rejoso.

Kuasa Hukum tersangka, Prayogo Laksono menyampaikan, selama proses rekonstruksi yang dilakukan oleh tim penyidik Polres Nganjuk, ditemukan fakta–fakta bahwa antara pelaku dengan korban masih memiliki hubungan keluarga. Hanya, persoalan awalnya dipicu masalah utang–piutang. “Kepada korban, pelaku memiliki hutang sebesar 23 juta rupiah. Masalahnya terjadi mis-komunikasi, sehingga tersangka melakukan tindakan tidak sewajarnya (pembunuhan,Red),” jelas kuasa hukum pelaku usai reka ulang.

Selama reka ulang berlangsung, kuasa hukum sudah menemukan beberapa celah sebagai bahan pembelaan saat persidangan nanti. Hanya pihaknya tidak menyebut, celah-celah pembelaan yang dimaksud. Kendati demikian, pihaknya menegaskan bahwa proses rekonstruksi berjalan lancar, tanpa ada sanggahan dari pelaku, mulai adegan reka ulang pertama hingga menyerahkan di di Polres Rejoso.

“Semua dilalui dengan jelas, tersangka tidak ada sangkalan terkait rekonstruksi tadi,” jelasmnya.

Basitun 59, istri korban mengatakan, saat kejadian berada di dapur berusaha membantu suaminya saat dibacok oleh keponakan sendiri. Tapi pelaku mengancam akan membunuhnya juga menggunakan parang yang digunakan untuk membabat leher suaminya. Sedangkan, peristiwa pembunuhan terhadap suaminya, lanjut Basitun, berawal dari proses jual-beli tanah milik pelaku kepada suaminya. Menurut dirinya, tanah milik pelaku ini sudah dibeli dengan harga Rp 23 juta dari harga yang ditawarkan Rp 30 juta untuk seluruh bangunan rumah beserta tanahnya.

Basitun berharab agar penegak hukum bisa berbuat adil dengan menjatuhkan hukuman seberat-beratnya.

“Kalau perlu dihukum seumur hidup,” katanya.

AKP Nikolas Bagas Yudhi Kurniawan Kasat Reskrim Polres Nganjuk menyampaikan, selama proses reka ulang, tidak ada perbedaan antara berita acara pemeriksaan (BAP) dengan reka ulang sebanyak 13 adegan di TKP serta keterangan para saksi-saksi. Menurut Nokolas, sebelum peristiwa pembunuhan, pelaku meminjam uang kepada korban sebesar Rp 23 juta dengan jaminan sertifikat tanah. Namun setelah berjalan 4 tahun, ketika sertifikat hendak ditebus, namun hutang membengkak hingga mencapai Rp 200 juta lebih. Tentu saja pelaku menolak, ditambah korban telah membangun septic-tank di lahan milik pelaku.

Karena kesal, pelaku kemudian menghabisi korban dengan parang sebanyak tiga kali, mengenai leher dan kaki.

“Pasal yang kami terapkan pasal 338 KUHP, dengan ancaman maksimal 15 tahun penjara,” terangnya.

Seperti dipraktikkan dalam reka ulang, setelah menghabisi korban, pelaku langsung mendatangi rumah Kamituwo dusun setempat, berjarak sekitar 300 meter dari rumah korban. Kepada Kamituwo, pelaku minta tolong untuk mengantarkan ke Polsek Rejoso, menyerahkan diri.

Reporter: Sukadi

Editor: Yuniar N.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *