Berita Utama Birokrasi Lintas Daerah Nasional News Regional

Blokir Pabrik Kades Kedungrejo Didemo Buruh PT Kapasari

NGANJUK – ANJUKZONE – Ratusan buruh PT. Kapasari, Dusun Barong, Desa Kedungrejo, Kecamatan Tanjunganom melabrak kades setempat, Sujarwo, Jum’at pagi, 16 Agustus 2019. Massa yang mengatasnamakan “Gerakan Buruh Menggugat” tersebut mendesak Sujarwo, untuk mencabut somasi yang dialamatkan ke pihak pabrik. Karena, somasi yang ditandai dengan pemblokiran aktivitas pabrik percetakan tersebut, telah merugikan para buruh, sehingga mereka praktis tidak bisa bekerja.

Hampir sebulan ini, PT Kapasari Barong menghentikan proses produksinya. Sebelum berbondong-bondong menggeruduk Balai Desa Kedungrejo, massa buruh yang semuanya wanita tersebut berkumpul di halaman PT Kapasari sekitar pukul 08.00 WIB. 

Tampak Agus Frihannedy, Kepala Disnakerkop UKM Nganjuk dan AKP Agus, Kasat Intelkam Polres Nganjuk berusaha mendinginkan massa. Mereka berusaha menyelesaikan di tempat dengan berjanji akan memediasi perwakilan buruh, tujuannya agar aksi demo tidak sampai keluar pabrik.
Namun upaya ini gagal. Buruh tetap menggeruduk Balai Desa Kedungrejo untuk menemui Kades Sujarwo, berjarak sekitar 500 meter di barat pabrik dengan jalan kaki.
Neneng Maria Ulfa, koordinator massa “Gerakan Buruh Menggugat” menyampaikan, tuntutannya dalam satu bendel surat yang inti isinya agar mereka para buruh dapat kembali bekerja secara aman dan kondusif.
“Meminta Kades Sujarwo mencabut somasi yang isinya mau menutup pabrik dan tidak ada tindakan intimidasi kepada buruh. Jadi kita menyampaikan surat tuntutan saja biar kami cepat bekerja, soalnya sudah tiga minggu lalu tidak kerja,” ujarnya.
Sementara itu, Kades Sujarwo menjawab tuntutan massa dengan menjelaskan bahwa tutupnya PT. Kapasari hanya salah paham saja. Menurutnya, penyebab pabrik ditutup karena tidak ada order dan tidak ada stok.
“Tidak ada keterlibatan desa dengan Kapasari, karena MoU saja,” kilah Sujarwo.
Disinggung perihal latarbelakang somasi, Sujarwo menerangkan bahwa ada tuntutan warga pada PT. Kapasari untuk kembali pada MoU yang ada. “Ada ketersinggungan warga yang mendaftar menjadi sekuriti, namun akhirnya tidak diterima, malah memasukkan orang luar,” paparnya.
Mengenai surat somasi yang dilayangkan ke pihak pabrik, Kades Sujarwo membantah itu bukan dari pihak desa, melainkan perwakilan melalui paguyuban warga. Namun ia membenarkan jika ada tanda tangan kepala desa beserta kepala dusun. “Selaku kepala desa kan harus mengetahui kegiatan warganya,” tandasnya.
Menyikapi tuntutan dari massa, akhirnya pihak pemerintah desa mencabut somasi yang dilayangkan ke pihak pabrik.
Pihak desa memastikan tidak ada lagi intimidasi maupun tindakan yang merugikan para buruh. Usai menyerahkan surat tuntutan ke pihak pemerintah desa, massa membubarkan diri dengan tertib.
Reporter: Sukadi
Editor: Yuniar N.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *