Berita Utama Birokrasi Lintas Daerah Nasional News Regional

Semantok Bakal Jadi Bendungan Terpanjang se-Asia Tenggara, Tapi Bikin Pemkab Nganjuk Galau

NGANJUK – ANJUKZONE – Wakil Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi menunjukkan kegalauannya, melihat perkembangan megaproyek nasional Bendungan Semantok.

Marhaen menilai proses pembangunannya berjalan sangat lambat. Sampai-sampai, dia mewakili Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nganjuk harus curhat ke pemerintah pusat.

Pada Kamis 18 Juli 2019 lalu, Wabup Marhaen mengajak beberapa anggota DPRD Nganjuk untuk berkonsultasi dan bernegosiasi Dirjen Planologi Kementrian Lingkungan Hidup, Prof. Dr. Sigit, terkait permasalahan ini.

Menurut Marhaen, berdasarkan pengamatan Pemkab Nganjuk, proses pembangunan Bendungan atau Waduk Semantok baru mencapai sekitar 8 persen dari total seluruh pembangunan. Padahal, prosesnya sudah dimulai sejak dua tahun yang lalu.

Pembangunan proyek Bendungan Semantok di Desa Sambikerep, Kecamatan Rejoso dalam proses (*)

Dia seperti bertambah galau ketika mengingat-ingat target awal proyek ini, yang sesuai rencana bakal menjadi bendungan terpanjang se-Asia Tenggara, dan harus selesai pada tahun 2021 mendatang. Lebih-lebih, Bendungan Semantok nantinya juga direncanakan akan diresmikan langsung oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).

“Kami mengerti selama proses pembangunan ini pasti banyak masalah dan kendala, sehingga proses pembangunannya berjalan lambat. Tetapi harus tetap diupayakan, pembangunan mega proyek ini selesai sesuai rencana,” ujar Marhen.

Jika ingin tahun 2021 harus selesai, lanjut Marhaen, maka mulai sekarang pembangunan harus dipercepat.

“Kami yang di daerah perlu mendesak pemerintah pusat agar mempercepat pembangunannya. Karena proyek ini merupakan proyek pemerintah pusat,” tukas Marhaen.

Untuk diketahui, Bendungan Semantok berlokasi di wilayah Desa Tritik dan Desa Sambikerep, Kecamatan Rejoso.

Area bendungan memiliki luas lebih dari 700 hektare. Biaya pembangunannya berasal dari APBN senilai hampir Rp 2 Triliun. Bendungan ini diproyeksikan mampu mengairi lahan pertanian sekitar 1.554 hektare, dengan kapasitas 17.630 meter kubik, serta mampu menghasilkan tenaga listrik 1,01MW.

Reporter : Panji Lanang Satriadin

Editor: Sukadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *