Berita Berita Utama Birokrasi Budaya Edukasi Entertainment Lintas Daerah News Regional Wisata

Museum Anjukladang Tak Layak Simpan Koleksi Bersejarah

Lokasi Sempit, Koleksi Minim, Tidak Edukatif, Sepi Pengunjung

NGANJUK – ANJUKZONE – Museum Anjukladang yang berlokasi di Jalan Gatot Subroto Nganjuk tidak layak sebagai bangunan untuk menyimpan benda-benda kuna. Selain tempatnya sempit juga tidak banyak dikunjungi.  Padahal, lokasi Meseum Anjukladang terbilang strategis, berada di pinggir jalan raya, Kertosono – Madiun.

Kondisi Museum Anjukladang Kabupaten Nganjuk kontan mendapat sorotan dari masyarakat. Karena kondisi bangunan yang dinilai tidak layak sebagai tempat menyimpan benda-benda kuna, juga bangunannya terlalu sempit. Sehingga banyak barang-barang berharga bernilai sejarah tidak dapat tersimpan dengan baik. Akibatnya banyak koleksi yang masih tersimpan di gudang.

Sorotan muncul dari salah seorang pengacara, Bambang Sukoco, S.H. Pria asli Nganjuk ini menyebut, Museum Anjukladang sudah tidak layak untuk menyimpan benda-benda purbakala. Kendati lokasinya berada di tepi jalan, kenyataannya sepi pengunjung. Juga banyak koleksi benda bersejarah yang tidak terawat, sehingga banyak menumpuk di gudang, tidak ditata pada etalase-etalase museum.

“Kondisi bangunan ini terlalu sempit untuk ukuran koleksi benda purbakala yang jumlahnya terus bertambah,” jelasnya.

Untuk itu pihaknya mengusulkan agar museum dipindahkan ke lokasi yang lebih representatif, baik sebagai obyek wisata maupun edukasi. Salah satu tempat yang disebut adalah komplek Candi Lor, Desa Candirejo, Kecamatan Loceret. Karena lokasi tersebut lebih luas dan langsung bisa mengenal peninggalan bersejarah Candi Lor, sebagai cikal-bakal nama Nganjuk.

Adanya rumor, Museum Anjukladang akan dipindahkan ke seputar Alun-alun Berbek, Bambang Sukoco tidak sependapat. Melokasikan museum hendaknya juga memperhatikan faktor lain. Di antaranya, berdekatan dengan komplek peninggalan bersejarah dan lokasinnya harus luas. Karena, bakal mendatangkan banyak pengunjung dari berbagai daerah.

Selain itu, lokasi museum juga mendasarkan lokasi yang strategis, mudah dijangkau dari segala arah, serta memiliki nilai keindahan. Sementara, di seputar Alun-alun Berbek, lokasinya terlalu sempit dan ke pinggir.

Bambang Sukoco, S.H., pengacara juga pemerhati sejarah Nganjuk (foto-sukadi)

“Saya dengar kalau tanah di seputar Alun-alun Berbek itu masih sengketa dengan ahli waris Kanjeng Jimat, kenapa harus berisiko kalau ada lokasi yang lebih baik dan aman,” jelas pengacara yang juga pemerhati sejarah Nganjuk ini.

Wakil Bupati Nganjuk, Marhaen Djumadi juga sepakat bahwa Museum Anjukladang dipindahkan. Karena kondisinya tidak layak sebagai tempat untuk menyimpan benda-benda kuna. Selain sempit juga kurang menarik bagi pengunjung. Pihaknya berharap dipindahkan ke Candi Lor, Kecamatan Loceret juga, berdekatan dengan situs cikal-bakal nama Nganjuk.

Untuk itu, di tempat yang baru, nantinya dibangun di atas lahan lebih luas dengan arsitekturnya mencerminkan nilai-nilai edukatif di samping budaya dan wisata.

“Museum kalau ingin banyak dikunjungi, koleksinya harus ditata dengan baik dan memiliki nilai edukatif agar generasi milenial sekarang ini tertarik,” jelasnya Marhaen Djumadi usai membuka Pameran Koleksi Museum Tempo Doeloe di Musem Anjukladang Nganjuk, Selasa, 16 Juli 2019.

Terpisah, Kepala Dinas Pariwisata Pemuda Olahraga dan Kebudayaan (Disparporabud) Nganjuk, Drs. H. Supianto, M.M menyampaikan, rencana pemindahan Museum Anjukladang sedang menjadi pembahasan serius di internal Pemkab Nganjuk. Hingga saat ini, pemerintah daerah sedang membahas anggaran dan proses pembebasan lahan untuk bangunan infrastruktur di sekitar komplek Candi Lor. Sedikitnya, pemerintah daerah membutuhkan lahan sekitar 1, 5 hektare.  Lahan tersebut di atasnya bakal dibangun gedung utama, perpustakaan, tempat bermain, tempat parkir, pertamanan, replika prasasti, dan sebagainya.

“Gedung utama bisa untuk menyimpan semua koleksi benda-benda purbakala dan bersejarah yang ada di museum. Sedangkan perpustakaan akan diisi koleksi buku dan video atau film tentang sejarah,” terang Supianto.

Hanya, besaran anggaran yang bakal digelontorkan untuk pembangunan museum baru di Candi Lor, Supianto belum bisa memberikan keterangan. Lantaran, hingga saat ini masih berupa rencana dari pemerintah daerah.

“Tapi rencana ini serius,” tegasnya.

Tujuan pemindahan museum, lanjut Supianto, agar menjadi satu komplek dengan Candi Lor. Lantaran, Candi Lor dipercaya memiliki nilai sejarah cukup tinggi terkait keberadaan sejarah cikal-bakal nama Nganjuk. Sehingga, apabila ada pengunjung yang datang ke museum, mereka dapat secara langsung melihat keberadaan Candi Lor yang konon dibangun pada jaman Raja Medang Pu Sindok, sekitar tahun 937 Masehi silam.

Selain itu, lanjut Supianto, pemindahan museum diproyeksikan sebagai sarana pelurusan sejarah Nganjuk yang sebenar-benarnya. Lantaran, para pengunjung dapat secara langsung menikmati dan mempelajari koleksi yang ada dalam museum. Sehingga, setelah melihat dan mendengar penjelasan dari seorang pemandu yang disiapkan oleh dinas, pengunjung dapat menyimpulkan sendiri.

“Yang jelas, kami ingin meluruskan sejarah Nganjuk melalui koleksi benda bersejarah seperti yang kita miliki di museum,” katanya.

Hanya semangat untuk memindahkan museum tiba-tiba kendur, lantaran berkembang rumor bahwa pemerintah daerah Kabupaten Nganjuk merencanakan di seputar Alun-alun Berbek, di atas lahan yang masih sengketa dengan para ahli waris Kanjeng Jimat, bupati pertama Berbek.

Reporter: Sukadi

Editor Yuniar N.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *