Berita Utama Lintas Daerah News Regional

Pandergoen Sentra Peringatan Hari Bhayangkara ke-73 di Nganjuk

NGANJUK – ANUKZONE – Penelusuran jejak pejuang polisi Intelijen Pandergoen di Nganjuk menjadi sentra perhatian warga Nganjuk. Di antara acara yang dikemas dalam puncak peringatan hari Bhayangkara ke-73 di Nganjuk yang diselenggarakan di Alun-alun Berbek, Kabupaten Nganjuk, ada satu acara yang paling banyak menyita perhatian. Adalah pemberiah penghargaan kepada salah satu ahli waris Pandergoen, pejuang polisi intelijen asal Desa Baleturi, Kecamatan Prambon. Dia adalah Guntari, 68, anak kedua Pandergoen.

Menurut Guntari, ayahnya dikenal warga sekitar hanya sebagai polisi Semarang. Hanya saat perang agresi Belanda kedua, Pandergoen pulang kampung setelah istri pertamnya meninggal. Sehingga dia tidak kembali ke Semarang, karena ketika hendak kembali lagi ke kesatuannya, seluruh akses jalan darat telah ditutup oleh Belanda. Takut identitasnya diketahui Belanda, akhirnya Pandergoen memutuskan bergabung dengan pasukan Mobile Brigade Polisi di Nganjuk. Hanya, Guntari tidak mengetahui bila ayahnya adalah seorang intelijen, karena selama hidupnya tidak pernah cerita tentang kegiatan yang dilakukan tiap harinya.

“Bapak kula niku mboten kathah omong, ngertos kula nggih polisi Semarang ngoten mawon,” terang Guntasi usai menerima penghargaan dari Polres Nganjuk dalam bahasa Jawa, Kamis, 11 Juli 2019.

Kata Guntari, meski ayahnya keturunan orang Belanda, namun Pandergoen menolak dikatakan sebagai polisi Belanda. Dia menjawab dengan cepat bahwa dirinya adalah sebagai polisi negara. Kendati demikian, ayahnya tidak pernah terlihat mengenakan seragam polisi. Saat di rumah atau sedang pergi, cukup mengenakan pakaian biasa, atas kaos oblong, bawah celana hitam dengan ikat kepala. Biasanya, kalau pergi tidak pernah cerita kemana tujuannya.

“Kalih ibuk nggih mboten nate criyos, menawi ditangkleti malah nesu,” tegasnya.

Meskipun istrinya sendiri, Pandergoen tidak mau berterus terang. Pergi biasanya berhari-hari hingga bermingu-minggu baru pulang. Setelah pulang, istrinya, Raden Roro Soeratmi bila bertanya, pasti dijawab dengan marah. Setelah itu, istri Pandergoen seorang perempuan asal Keraton Surakarta itu lebih memilih diam daripada bertengkar dengan suaminya.

Kebiasaan Pandergoen saat bepergian selalu naik kuda, ditemani oleh salah seorang sahabat dekatnya, Ran Menthek. Sabahat dekat Pandergoen ini sejak kecil sebagai teman bermain. Hanya Ran Menthek memiliki kebiasaan tidak baik, dia suka mencuri dan melukai orang lain. Sehingga, Ran Menthek sering dihukum oleh ayah Pandergoen, Demang Vandergoen.

Setelah dewasa, Ran Menthek insyaf dan menjadi orang suruhan Pandergoen bersama bersama melawan Belanda. Sedangkan, Pandergoen semasa tua, setelah Indonesia aman dari pendudukan Belanda, sedikit terbuka kepada keluarganya. Termasuk kepada Raden Roro Soeratmi, istrinya, Pandergoen menceritakan pengalaman semasa menjadi polisi negara. Pandergoen mengakui, seringkali pergi meninggalkan rumah tanpa sepengetahuan pihak keluarga dan pulang setelah beberapa hari. Lantaran, Pandergoen sebagai mata-mata yang harus merahasiakan identitasnya. Meski kepada istrinya, Pandergoen pantang untuk membocorkan rahasia intelijennya.

Selain pemberian penghargaan kepada ahli waris Pandergoen, rangkaian acara lainnya cukup banyak. Di antaranya, pemutaran video, PKS SMKN 1 Nganjuk, tari Salepuk, grup musik akustik, drum band, serta malam harinya pertunjukkan wayang kulit semalam suntuk, dan lain-lain.

“Puncak peringatan hari Bhayangkara tahun ini sengaja kami selenggarakan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, yang paling kami tonjolkan adalah hasil penelusuran jejak pejuang polisi di Nganjuk bernama Pandergoen,” terang Kapolres Nganjuk AKBP Dewa Nyoman Nanta Wiranta.

Reporter: Sukadi

Editor: Yuniar N.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *