Berita Utama Birokrasi Budaya Entertainment Lintas Daerah News Regional Wisata

Jejak Pejuang Polisi Intelijen Pandergoen di Nganjuk (Bagian 3)

Selama Dipenjara di Kertosono, Akses Intelijen Pandergoen Terputus

NGNJUK – ANJUKZONE – Pandergoen selama menjalani hukuman di penjara Kertosono, akses informasi kepada para pejuang tentang Belanda di Nganjuk terputus.  Sehingga, Belanda leluasa melancarkan aksinya kepada para pejuang, karena pergerakannya tidak terendus oleh mata-mata di Nganjuk.

Pada 14 April 1949 sekitar pukul 20.00 WIB, Belanda kembali berhasil menduduki kota Nganjuk. Situasi ini memaksa Iptu A. Wiratno Puspoatmojo, saat menjabat Kepala Polisi Kabupaten Nganjuk (sebutan sekarang kapolres) untuk mengambil tindakan cepat.

Kapolres Wiratno memerintahkan anggotanya untuk melaksanakan patroli dan penyisiran ke daerah pinggiran untuk mempertahankan wilayah serta melindungi masyarakat Nganjuk. Selain itu juga untuk mencegah agar pasukan/tentara Belanda yang berusaha memasuki wilayah Nganjuk lewat perbatasan tidak bertambah banyak.

Sedikitnya ada dua regu yang diperintah oleh Kepala Polisi Kabupaten Nganjuk untuk patroli. Satu regu bergerak ke arah sektor selatan, berkedudukan di Desa Nglaban Kecamatan Loceret, dipimpin langsung oleh Kepala Polisi Kabupaten Iptu. A. Wiratno Puspoatmojo.

Satunya lagi, di sektor utara dipimpin Pembantu Inspektur Polisi II Pagoe Koesnan. Rombongan patroli sektor utara dipimpin Agen Polisi I Soekardi, beranggotakan 17 polisi istimewa. Rombongan sektor utara bermarkas di Dukuh Turi, Desa Ngadiboyo, di sebuah Loji (sebutan bangunan Belanda ), yakni perumahan milik Perhutani Nganjuk.

Akhirnya terjadi pertempuran sengit di Dusun Turi Desa Ngadiboyo Kecamatan Rejoso. Pertempuran para pejuang polisi istimewa melawan tentara Belanda, 15 April 1949 tersebut dikenang sebagai “Tragedi Ngadiboyo”.

Sedikitnya 12 pejuang polisi meninggal, 3 luka berat, dan dua selamat, Tiga korban luka berat, yakni Lasimin, Sukidjan alias Oeripno, dan Suparlan. Sedangkan dua pejuang yang berhasil lolos, yakni Agen Polisi II Ramelan dan Agen Polisi II Suripto. Ramelan kabur dari kepungan tentara Belanda dengan membobol pintu belakang Loji.

Sementara, 12 pejuang Polri gugur, yaitu; (1) Agen Pol Kelas II Bagoes, (2) Agen Pol Kelas II Diran / Sogol, (3) Agen Pol Kelas II Laiman, (4) Agen Pol Kelas II Soekatmo, (5) Agen Pol Kelas II Moestadjab, (6) Agen Pol Kelas II Soemargo, (7) Agen Pol Kelas II Sardjono, Agen Pol Kelas II Saimun, (8) Agen Pol Kelas II Samad, (9) Agen Pol Kelas II Masidi, (10), (11) Agen Pol Kelas II Simin, dan(12) Agen Pol Kelas II Musadi.

Menyusul tragedi Ngadiboyo yang menewaskan banyak korban pejuang polisi, pada tanggal 22 April 1949, sekitar pukul 09.00 WIB, Kapten Kasihin bersama anggota tentara yang lain berjuang melawan Belanda di wilayah Tanjunganom. Salah satu saksi sejarah yang mengetahui pasti gugurnya Kapten Kasihin adalah Kabul, anak Rasio (alm), warga Dusun Tawangsari, Desa Kedungombo, Kecamatan Tanjunganom.

Kabul mengatakan saat terjadinya serangan Belanda, pagi itu, tiba-tiba terdengar suara tembakan dari kejauhan yang ternyata berasal dari area persawahan yang tak jauh dari rumah Kabul.

Pertempuran itu terjadi antara pasukan Belanda dengan tentara Indonesia. Tak berselang lama, tiba-tiba datang Kapten Kasihin ke rumah Kabul dengan kondisi bahu sebelah kiri sudah berdarah karena terkena tembakan. Kapten Kasihin langsung masuk ke rumah Rasio dan berbaring di dipan.

Namun di luar rumah tentara Belanda masih terus melakukan pencarian terhadap Kapten Kasihin. Ternyata persembunyian Kapten Kasihin itu berhasil diketahui oleh Belanda karena dari dalam rumah Kabul itu Kapten Kasihin terus merintih menahan sakit akibat luka yang dideritanya.

Tentara Belanda langsung masuk ke rumah Kabul dan menemukan Kapten Kasihin yang sedang terbaring lemah. Saat itulah tentara Belanda langsung menghabisi Kapten Kasihin dan selanjutnya meninggalkan rumah Kabul.

Dusun Tawangsari dan sekitarnya memang saat itu menjadi pusat atau pangkalan tentara nasional Indonesia (TNI). Selain menjadi pangkalan militer, ternyata Desa Kedungombo juga sempat dijadikan pusat pemerintahan Nganjuk sementara.

Kapten Kasihin gugur pada usia 32 tahun. Saat gugur pangkat Kasihin adalah kapten. Sedangkan jabatannya saat itu adalah Komandan Kompi (Danki) III Kesatuan Yon 22 Sriti Kediri.

Dusun Tawangsari dan sekitarnya memang saat itu menjadi pusat atau pangkalan tentara nasional Indonesia (TNI). Selain menjadi pangkalan militer, ternyata Desa Kedungombo juga sempat dijadikan pusat pemerintahan Nganjuk sementara.

Di masa tuanya, Pandergoen lebih dikenal dengan nama Eyang Admodimoeljo. Dia lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Banyak para teman seperjuangannya datang menjenguknya di masa tua. Tak sedikit di antaranya menawarkan untuk mengurus pensiunan yang menjadi haknya.

Saat menjadi intel, Pandergoen memakai nama Suratman, setelah tua lebih dikenal dengan nama Eyang Admodimoeljo. Pernah ditawari temannya untuk ngurus pensiun, kata beliau perjuangannya ikhlas tanpa pamrih.

Untuk menopang hidupnya, Pandergoen alias Admodimoeljo mengandalkan hasil sawah peninggalan Demang Vandergoen, ayahnya. Sering kali dia memenuhi panggilan warga yang punya hajat untuk mendalang. Karena, setelah agresi Belanda II, kondisi keamanan di Nganjuk relatif aman. Pandergoen banyak menekuni ilmu kejawen, budaya dan adat Jawa. Ini seperti ditekui oleh ayahnya, Demang Vandergoen, setelah keluar dari kesatuan tentara KNIL Belanda, memilih menjadi demang dan menekuni ilmu kejawen, budaya, adat Jawa. Hanya, bila Demang Vandergoen sebagai dalang wayang Kurcil atau wayang kayu, Pandergoen mahir memainkan wayang kulit.

Semua cerita tentang kehidupan Pandergoen alias Vandergoen, yang memiliki nama pribumi Jawa Soeratman dan nama tua Admodimoeljo, dari kecil hingga masa tua diceritakan kepada anak dan cucunya. Salah satu cucu yang banyak mengetahui perjalanan hidup Pandergoen adalah Witanto.

Witanto, (56), warga Desa Baleturi, Kecamatan Prambon adalah cucu Pandergoen, anak ketiga dari Gundari. Gundari sendiri anak kedua dari tiga bersaudara.

Sejak kecil Witanto diasuh oleh Pandergoen bersama Raden Roro Soeratmi di rumah, yang ditempati hingga sekarang bersama ibunya, Gundari beserta keluarganya. Witanto diasuh Pandergoen, lantaran ibunya sedang mengandung anak kedua, tinggal di Purwoasri, Kabupaten Kediri. Sedangkan Pandergoen hanya tinggal bersama istrinya, Raden Roro Soeratmi dan Witanto.  Sehingga, nyaris seluruh hidupnya, Witanto diasuh oleh keluarga Pandergoen.

Menurut Witanto, kakeknya sering bercerita tentang kehidupannya, semasa masih kecil hingga masa tuanya. Kakek Pandergoen banyak bercerita tentang masa-masa menjadi seorang polisi Belanda hingga menjadi seorang polisi intelijen di masa agresi Belanda. Namun setelah berhenti menjadi polisi, Pandergoen banyak menekuni ilmu kejawen, dan belajar budaya dan adat Jawa. Hingga, kakeknya benar-benar menjadi seorang pribumi Jawa, meski penampilan fisiknya lebih menggambarkan sebagai orang Belanda keturunan.

Hal yang tak bisa dilupakan oleh Witanto, hukuman cambuk peninggalan Demang Vandeergoen untuk menghukum anggota keluarga yang punya salah, tetap diberlakukan oleh Pandergoen.

Menurut Witanto, sistem perjuangan Pandergoen tidak begitu dikenal seperti pejuang-pejuang lain. Selama berada di Nganjuk dan menikah lagi dengan Raden Roro Soeratmi, justru Pandergoen sering pergi tanpa pamit. Dengan mengendarai kuda, Pandergoen sudah terbiasa menghilang, dan baru pulang ke rumah setelah 3 hari hingga seminggu.

Ketika ditanya oleh istrinya, Pandergoen pasti marah besar. Karuan, membuat istrinya takut untuk bertanya lagi ketika Pandergoen pergi hingga berhari-hari baru pulang. Begitu seterusnya, kebiasaan Pandergoen selama perang kemerdekaan menghadapi tentara Belanda dan pemberontak PKI Muso.

Baru setelah kondisi Indonesia benar-benar aman dan usianya menginjak tua, Pandergoen menceritakan seluruh sepak terjangnya selama perang kemerdekaan kepada istri dan anak-anaknya. Bahwa apa yang dilakukan, semata-mata membantu perjuangan TNI dan polisi melawan Belanda dan pemberontak PKI Muso. Sehingga, keberadaannya sebagai seorang polisi intelijen tidak boleh diketahui oleh siapa saja, meskipun istrinya yang bertanya.

Di masa tuanya, Pandergoen lebih menekuni sebagai petani dan seorang dalang wayang kulit. Seperti dilakukan oleh tujuh saudaranya yang lain, mereka juga sama-sama menekuni dalam bidang seni dan budaya. Yang laki-laki berprofesi sebagai dalang, sedang yang perempuan sebagai waranggana atau pesinden. Hingga akhir hayatnya, polisi intelijen berdarah Belanda ini dikenal oleh masyarakat desa setempat sebagai polisi Semarang dan dalang wayang kulit. Beliau tutup usia 61 tahun, tepat 27 Oktober 1970, dimakamkan di pemakaman umum, Desa Baleturi, Kecamatan Prambon. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *