Berita Utama Birokrasi Budaya Entertainment Lintas Daerah News Politik Regional Wisata

Pemkab Nganjuk Inisiasi Pindahkan Museum Anjukladang

NGANJUK – ANJUKZONE – Pemerintah Kabupaten Nganjuk merencanakan pemindahkan Museum Anjukladang dari Jalan Gatot Subroto, Nganjuk ke kompleks Candilor, Desa Candirejo, Kecamatan Loceret, paling lambat akhir 2021.

Kepala Dinas Pariwisata Pemuda Olahraga dan Kebudayaan (Disparporabud) Nganjuk, Drs. H. Supianto, M.M menyampaikan, rencana pemindahan Museum Anjukladang sedang menjadi pembahasan serius di internal Pemkab Nganjuk. Hingga saat ini, pemerintah daerah sedang membahas anggaran dan proses pembebasan lahan untuk bangunan infrastruktur di sekitar komplek Candi Lor. Sedikitnya, pemerintah daerah membutuhkan lahan sekitar 1, 5 hektare.  Lahan tersebut di atasnya bakal dibangun gedung utama, perpustakaan, tempat bermain, tempat parkir, pertamanan, replika prasasti, dan sebagainya.

“Gedung utama bisa untuk menyimpan semua koleksi benda-benda purbakala dan bersejarah yang ada di museum. Sedangkan perpustakaan akan diisi koleksi buku dan video atau film tentang sejarah,” terang Supianto ditemui di ruang kerjanya, Senin, 13 Mei, 2019.

Hanya, besaran anggaran yang bakal digelontorkan untuk pembangunan museum baru di Candi Lor, Supianto belum bisa memberikan keterangan. Lantaran, hingga saat ini masih berupa rencana dari pemerintah daerah.

“Tapi rencana ini serius,” tegasnya.

Candi Lor – foto/sukadi

Tujuan pemindahan museum, lanjut Supianto, agar menjadi satu komplek dengan Candi Lor. Lantaran, Candi Lor dipercaya memiliki nilai sejarah cukup tinggi terkait keberadaan sejarah cikal-bakal nama Nganjuk. Sehingga, apabila ada pengunjung yang datang ke museum, mereka dapat secara langsung melihat keberadaan Candi Lor yang konon dibangun pada jaman Raja Medang Pu Sindok, sekitar tahun 937 Masehi silam.

Selain itu, lanjut Supianto, pemindahan museum diproyeksikan sebagai sarana pelurusan sejarah Nganjuk yang sebenar-benarnya. Lantaran, para pengunjung dapat secara langsung menikmati dan mempelajari koleksi yang ada dalam museum. Sehingga, setelah melihat dan mendengar penjelasan dari seorang pemandu yang disiapkan oleh dinas, pengunjung dapat menyimpulkan sendiri.

“Yang jelas, kami ingin meluruskan sejarah Nganjuk melalui koleksi benda bersejarah seperti yang kita miliki di museum,” katanya.

Terpisah, Sukadi, budayawan dan penulis novel, “Laskar Pu Sindok, Prahalaya Sima Anjukladang,” menyambut baik rencana Pemerintah Daerah Nganjuk memindahkan Museum Anjukladang ke Candi Lor. Pasalnya, lokasi museum yang sekarang ini ada, selalu sepi pengunjung. Lantaran, nyaris tidak pernah didatangi oleh pengunjung, baik dari lokal Nganjuk sendiri maupun dari luar kota. Padahal, koleksi yang tersimpan di museum tersebut cukup banyak, bahkan ada beberapa koleksi yang belum sempat tertata.

“Museum itu dibangun agar pengunjung dapat dengan mudah melihat koleksi-koleksi yang disimpan. Mereka akan banyak mendapatkan nilai tambah setelah mengetahui koleksi benda kuna dan bersejarah. Tapi, lokasinya juga harus menunjang, tempat parkirnya luas, lokasinya nyaman, dan memiliki nilai wisata dan edukasi juga,” terang Sukadi.

Lebih-lebih, di Candi Lor ini, sebagai komplek ditemukannya prasasti Candi Lor, yang di dalamnya memiliki kekuatan sejarah Nganjuk yang sangat erat dengan asal mula nama Nganjuk. Seperti disebutkan pada Prasasti Candi Lor, pernah terjadi perang besar antara prajurit Kerajaan Swanadwipa Sriwijaya yang dibantu oleh Kerajaan Haji Wura-Wari dari Luwaram pada saat Kerajaan Mataram dipimpin oleh Dyah Wawa. Bersamaan itu, juga terjadi gunung merapi meletus yang sangat dahsyat dan banyak kerajaan kecil yang menentang kepada Raja Dyah Wawa. Sehingga, kondisi Kerajaan Mataram hancur lebur, dan Dyah Wawa mati.

Pu Sindok mendapat bantuan berupa logistik dan tenaga untuk melawan prajurit Swanadwipa Sriwijaya dari rakyat Sima Anjukladang. Merasa kekuatan pasukan perang tidak seimbang dibanding dengan kekuatan musuh, Pu Sindok membuat strategi perang yang disebut “Lorong Parit”. Sehingga pada saat terjadi perang, banyak prajurit musuh yang terjebak dan masuk ke dalam parit. Akhirnya, kemenangan yang gilang-gemilang ada di pihak Pu Sindok akibat dibantu oleh rakyat sipil Sima Anjukladang.

Selanjutnya, Pu Sindok bersama pengikutnya melanjutkan perjalanan ke Desa Tawmlang, daerah Jombang di dekat Sungai Brantas. Di sana, Pu Sindok dinobatkan menjadi Raja Medang sebagai kelanjutan dari Kerajaan Mataram di Jawa Tengah dengan gelar “Sri Maharaja Pu Sindok Isana Wikrama Dharmotunggadewa”.

Delapan tahun kemudian, istana kerajaan Medang dipindahkan ke Watugaluh, masih daerah Jombang, karena sering mendapat gangguan keamanan dari musuh dan dilanda banjir dari Sungai Brantas. Bersamaan perpindahan istana ke Watugaluh ini, Pu Sindok teringat atas jasa dari rakyat Sima Anjukladang ketika perang melawan prajurit Swarnadwipa Sriwijaya. Pu Sindok memerintahkan kepada dua pejabat kerajaan, yaitu Pu Baliswara dan Pu Sahasra untuk membangun sebuah prasasti. Isi prasasti tentang pemberian hadiah kepada rakyat Sima Anjukladang agar dibebaskan dari kewajiban membayar pajak atau disebut “Swatantra”. Sebuah prasasti yang kemudian disebut “Prasasti Anjukladang”, adalah sebagai simbol tugu kemenangan melawan musuh (jayastambha). Dalam prasasti itu juga tertulis tentang perintah Pu Sindok agar Sri Jayamerta (Candi Lor) sebagai tempat persembahan kepada para dewa dan perintah tentang pemberian hadiah kepada rakyat sipil Sima Anjukladang berupa emas dan kain.

“Kemudian Prasasti Anjukladang yang di dalamnya tertulis angka 14 April 937 Masehi, ditetapkan sebagai hari jadi kabupaten Nganjuk. Dan nama Anjukladang berubah nama menjadi Nganjuk,” pungkas Sukadi.

Reporter : Deasy

Editor: Yuniar N.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *