Berita Utama Birokrasi Budaya Entertainment Lintas Daerah Nasional News Regional Tokoh Wisata

Nama Anjukladang Masih Misteri

Bukan Nama Tempat Tapi Seorang Samgat Pu Anjukladang

NGANJUK – ANJUKZONE – Hari jadi Kabupaten Nganjuk yang berasal dari kata Anjuk Ladang diperingati setiap tahun, bertepatan dengan tanggal 10 April, ternyata bukan nama sebuah tempat atau wilayah. Melainkan nama seorang tokoh bernama Samgat Pu Anjuk Ladang yang tinggal di Kakatikan Sri Jayamerta. Pernyataan ini tertera pada Prasasti Candi Lor, bait ke lima, “……. marpanakna / i /  bhatara / i / sang hyang prasada kabhaktyan / i / dharma / samngat / pu anjuk ladang”. ( …….. dipersembahkan / kepada / bhatara / di / sang hyang prasada khabaktyan / (sebagai) / dharma / (dari) samgat / pu anjuk ladang).

Pada bait ketiga juga disebutkan, “sanya / ajna / sri maharaja pu sindok / sri isana wikrama dhramamogunggodewa / tinadah / rakryan mapinghai kalih (ra)”. (turun / perintah / sri maharaja pu sindok / isana wikrama dharmmotunggadewa / diterima kedua rakryan mapinghe / yaitu ra -) dan baik keempat, (ke hino pu sahasra / rake) wka pu baliswara / umingso / i / rakai kanuruhan pu da / kumonakan / ikanang / lmah sawah kakatikan /”. (ke / hino pu sahasra /  rake wka pu baliswara / diturunkan / kepada / rakai kanuruhan pu da / (sr maharaja) yang memerintahkan / agar / tanah sawah kakatikan).

Jadi bila diterjemahkan secara keseluruhan, artinya sebagai berikut, “telah turun perintah Sri Maharaja Pu Sindok Isana Wikrama Dharmmotunggadewa yang diterima oleh kedua rakryan mapinghe yaitu Rake Hino Pu Sahasra dan Rake Wka Pu Baliswara, kemudian diturunkan kepada Rakai Kanuruhan Pu Da, Sri Maharaja memerintahkan agar tanah sawah kakatikan (sri jayamerta) hendaknya diperuntukkan sebagai persembahan kepada bhatara di prasada khabaktyan, (sebagai) dharma (dari) Samgat Pu Anjukladang.

Selanjutnya, pada bait keenam hingga keenambelas, secara berturut-turut, “sri maharaja / i / sri jayamrta / …. / sima / punpunana / bhatara.” (……. sri maharaja / di / sri jayamrta / ….(sebagai) / sima /  (tempat) pemujaan / bhatara /).

“……. pratidina / mangkan / …. / sri maharaja / rikanang / sawah kakatikan.” (……. setiap hari / demikianlah / …… / sri maharaja / (agar) sawah kakatikan).

“……………………………………… n / i / bhatara / i / sang hyang / i / sang hyang prasada kabhaktyan / i / sri jayamri mari ta / yan /  lmah sawah kakati (ka).” (………………………………………..n / kepada / bhatara / di / sang hyang prasada kabhaktyan / di / sri jayamerta / akhirnya / tanah sawah kakatikan).

“n / iyanjukladang / tutugani / tandha / sambadha / ikanang / rama / iyanjukladang / tutugani / tanda / kanugrahan / de / sri maharaja / …. ….. / manglaga.” ((milik) anjukladang / sebagai / tanda / ikatan / kepada / rama (pemimpin) / (dan/atau) anjukladang, / sebagai / tanda / anugerah / (dari) / sri maharaja).

“…….. i / saparana / i / satahun / matangnyan / papinda / lamwit 6 / (?) / ikanang sawah / kakatikan / iyanjukladang / tutuga.” (…….. seorang setiap tahun, karena jumlah sawah kakatikan (milik) anjukladang 6 lamwit).

“……. (n)i / tan / wuang / i / tani / rama / dumadyakan / ikanang / katik / smangkana / ya / ta / matangyan / inanugrahan / ikanang / rama / iyanjukladang.” (……. (sehingga) tidak (lagi) / berhak / terhadap / warga / rama / yang dijadikan / katik / demikianlah / dianugerahinya / kepada / rama (pemimpin) / (dan/atau) anjukladang).

“…….. / katik / de / sri maharaja / tamolaha / magawi / ma / 4 / madrwyaji / irin / mas / su 12 /  i /  satahun satahun.” (………./ katik (dari) sri maharaja / agar tidak / diganggu / masa / 4 / membayar pajak / irin / emas / 12 / suwarna / tiap tahun).

“…….. / mangkana / ( ) nn ( ) / nyanugrahan / sri maharaja / irikanang / rama iyanjukladang / tutugani / tanda tlas / mapageh / tan / kolahulaha.” (…….. / demikianlah / ( ) nn ( ) / anugerah / si maharaja / kepada / rama / anjukladang / tanda sudah / diputuskan / tidak boleh /diganggu).

“…….. yakapa / ( ) / ya / tka / i / dlahaningdlaha / parnnahaikang / lmah / uggwani / sang hyang prasada / ateherang / jayastamba.” (……. sampai / akhir / masa / di tempat / sang hyang prasada / ditetapkan / jayastamba (tugu kemenangan)).

“…….. / muang / ikang / sawah / kakatikan / iyanjukladang / tutugani / tanda / swatantra / tan / kataman / deni / winawa / sang mana / katrini / pangkur.” (…….. dan sawah kakatikan (milik) anjukladang sebagai (bukti hak) swantantra tidak boleh dimasuki oleh siapa saja, termasuk pangkur (pejabat penarik pajak dari kerajaan).

“…….. / muang / saprakara / ning / mangilala drwyahaji / ing / dangu / ……… “ (……. / dan / seluruh / pemungut pajak / pada masa sebelumnya / ……… )

Artinya, demikianlah inisiatif Sri Maharaja di Sri Jayamerta, menjadikan sima pumpunan bhatara setiap harinya, agar sawah kakatikan itu hendaknya dipersembahkan kepada bhatara di sang hyang prasada kabhaktyan di Sri Jayamerta yang berada di wilayah sawah kakatikan milik Anjukladang tersebut sebagai tanda anugerah dari Sri Maharja, dengan penghasilan lemah sawah kakatikan milik Anjukladang tersebut 6 lamwit dengan kewajiban membayar pajak berupa emas sebanyak 12 suwarna dan 4 massa setiap tahunnya, agar warga dan rama yang dijadikan katik (tenaga kerja bhakti) kepada Sri Maharaja sudah tidak lagi dan tidak boleh diganggu.

Demikian anugerah Si Maharaja kepada rama Anjukladang sebagai tanda yang sudah ditetapkan, tidak boleh diganggu sampai akhir masa di tempat sang hyang prasada seperti yang tertuang dalam jayastambha.

Dan sawah Kakatikan (milik) Anjukladang yang statusnya menjadi daerah swatantra, tidak boleh dimasuki oleh siapa saja, termasuk pangkur dan seluruh pejabat pemungut pajak kerajaan semenjak dahulu (menarik pajak).

Berdasarkan pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa Anjukladang bukan nama suatu tempat atau wilayah, melainkan nama seorang samgat, pejabat setingkat sima dalam bidang keagamaan, bernama Pu Anjukladang. Sedangkan yang menyatakan tempat atau wilayah adalah Kakatikan Sri Jayamerta, yang setelah ditetapkan sebagai tanah perdikan dengan hak swatantra, terbebas dari keajiban membayar pajak, baru disebut sima.

Lantas, mengapa Raja Medang Pu Sindok memberikan anugerah sebagai daerah swatantra kepada lemah sawah kakatikan Sri Jayamerta?

Hal ini sebagai bentuk dharma dari Samgat Pu Anjukladang, karena telah merelakan lemah sawah kakatikan dengan luas 6 lamwit, kewajiban membayar pajak emas 12 suwarna dan 4 massa, serta menyediakan tenaga kerja bhakti (katik) kepada kerajaan setiap tahunnya, sebagai bangunan suci untuk persembahan kepada bhatara di sang hyang prasada khabaktyan di Sri Jayamerta.

Sedangkan, bangunan tugu prasasti berupa jayastambha, merupakan simbol tugu kemenangan. Kemungkina, laskar Pu Sindok sewaktu berperang melawan prajurit sekutu Swarnadwipa Sriwijaya, mendapat bantuan dari Samgat Pu Anjukladang bersama rakyat sipil Sri Jayamerta hingga mencapai kemenangan.

Reprter : Sukadi

Editor: Yuniar N.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *