Uncategorized

HUT Nganjuk ke 1082, Warga Tetap Sebut Boyongan

NGANJUK-ANJUKZONE- Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Nganjuk yang ke 1082 tahun ini nampaknya masih monotone seperti tahun-tahun sebelumnya. Tidak nampak adanya inovasi dan kreatifitas yang berarti, yang dapat menambah gereget sebagai sebuah peringatan hari jadi. Pemerintah daerah melalui Dinas Pariwisata Pemuda Olahraga dan Kebudayaan Nganjuk masih mempertahankan tradisi yang keliru sebagai visualisasi hari jadi Nganjuk berupa prosesi allegories yang menggambarkan boyongan pusat pemerintahan Kabupaten Berbek menuju Kabupaten Nganjuk. Padahal antara boyongan dengan hari jadi Nganjuk tidak memiliki korelasi sama sekali. Peristiwa Boyongan terjadi tahun 1880 Masehi, sedangkan hari jadi Nganjuk terjadi pada tahun 937 Masehi. Tak heran, peringatan hari jadi Nganjuk yang setiap tahun diperingati sejak puluhan tahun silam, muncul anggapan dari masyarakat Nganjuk bahwa hari jadi diidentikan dengan hari boyongan.

Farida, mahasiswa Universitas Terbuka Pokjar Nganjuk menyampaikan bahwa peringatan hari jadi Nganjuk adalah memperingati perpindahan pusat pemerintahan dari Kabupaten Berbek ke Nganjuk. Untuk itu, setahun sekali diperingati dengan bentuk pawai allegories boyongan.
“Sebenarnya dulu pusat pemerintahannya ada di Berbek, karena suatu hal kemudian dipindahan ke Nganjuk,” katanya.
Hal serupa, Mbakyu Nganjuk, 2018 menyebut HUT Nganjuk yang diperingati dengan pawai allegories sebagai perwujudan proses boyongan pemerintah Kabupaten Berbek menuju Nganjuk.
“HUT Nganjuk itu hari boyongan dari Berbek ke Nganjuk,” Rahayu Margiasih.
Nampak di Alun-alun Berbek sedangkan persiapan pawai allegories boyongan menuju Kabupaten Nganjuk. Mereka adalah Bupati Nganjuk dan wakilnya, beserta istri, anggta DPRD Nganjuk, pejabat OPD, kepala sekolah, serta warga masyarakat Nganjuk.
Masing-masing menaiki kereta, bendi, dokar, becak, dan sepeda onthel.
Reporter: Sukadi
Editor: Yuniar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *