Berita Utama Budaya Entertainment Lintas Daerah News Regional Wisata

Wawancara Imajinerku dengan Pu Sindok

“Bertepatan hari jadi Kabupaten Nganjuk ke 1082, anjukzone.com mencoba melakukan wawancara imajiner kepada Raja Medang, Pu Sindok. Wawancara seputar pembelokan sejarah berdirinya Kabupaten Nganjuk yang berawal dari nama Sima Anjukladang, sebagaimana disebutkan dalam prasasti yang dikeluarkan oleh Pu Sindok, 10 April 937 Masehi silam. Saat itu, Pu Sindok memerintahkan kepada dua pejabat kerajaan, yaitu Pu Baliswara dan Pu Sahasra untuk membangun sebuah prasasti. Isi prasasti tentang pemberian hadiah kepada rakyat Sima Anjukladang agar dibebaskan dari kewajiban membayar pajak atau disebut “Swatantra”. Sebuah prasasti yang kemudian disebut “Prasasti Anjukladang”, adalah sebagai jayastamba, simbol tugu kemenangan melawan musuh. Dalam prasasti itu juga tertulis perintah Pu Sindok agar Sri Jayamerta (Candi Lor) sebagai tempat persembahan kepada para dewa dan perintah tentang pemberian hadiah kepada rakyat sipil Sima Anjukladang berupa emas dan kain. Hanya, dalam peringatannya, nama Pu Sindok dan nilai heroik rakyat sipil Anjukladang tenggelam, setelah terkontaminasi adanya prosesi alegories boyongan Kadipaten Berbek menuju Nganjuk, yang tidak memiliki korelasi sama sekali.” Berikut adalah wawancara imajenernya, yang dikemas dengan gaya selingkung bahasa saya:

Anjukzone: “Mohon ampun Paduka, apakah Paduka merasakan telah terjadi pembelokan sejarah terhadap berdirinya Kabupaten Nganjuk saat ini?”

Pu Sindok: “Sebenarnya saya sudah lama merasakan sakit hati setelah sejarah yang saya wariskan tidak dijalankan sebagaimana perintahku!”

Anjukzone: “Apa yang kemudian Paduka lakukan setelah mengetahui adanya pembelokan sejarah Anjukladang?”

Pu Sindok: “Saya hanya menunggu perkembangan selanjutnya, barangkali ada itikad dari pemangku kebijakan di Bumi Anjukladang ini untuk berbuat baik kepadaku, meskipun berulang kali telah saya ingatkan!”

Anjukladang: “Sebenarnya, pada bagian mana yang menurut Paduka paling dianggap menyimpang?”

Pu Sindok: “Tidak etis untuk saya katakan, karena bangsa manusia di jaman sekarang ini lebih cerdas dibanding bangsa manusia pada jaman saya dulu!”

Anjukzone: “Bukankah justru menambah kesalahan fatal apabila Paduka enggan untuk menjelaskan?”

Pu Sindok: “Semuanya sudah jelas yang saya sampaikan lewat prasasti Anjukladang, kepada siapa dan untuk siapa anugerahku saya berikan!”

Anjukzone: “Sebenarnya apa saja yang telah Paduka lakukan saat itu sehingga begitu penting bagi kelangsungan Bumi Anjukladang ini?”

Pu Sindok: “Tidaklah etis untuk saya sampaikan, nanti dianggapnya saya mengungkit-ungkit kembali apa yang telah menjadi sabda saya!”

Anjukzone: “Rakyat Anjukladang butuh penjelasan dari Paduka, meskipun hanya garis besarnya.”

Pu Sindok: “Baiklah kalau memaksa! Jaman dahulu, saya memerintah kerajaan Medang di Jawa Timur, didampingi oleh dua istri saya, yaitu Dyah Kebi dan Dyah Mangibil, serta dibantu oleh delapan punggawa kerajaan. Mereka adalah Srawana, Sahasra, Sahitya, Susuhan, Madhura Lokaranjana, Jatu Ireng, Buyut Manggali, dan Kunda.

Sebelum menjadi raja, saya bersama pengikutku dikejar-kejar oleh prajurit Kerajaan Haji Wura-Wari dari Luwaram, sekutu dari Kerajaan Swarnadwipa Sriwijaya. Mereka ingin membunuh kami semua, karena saya diketahui sebagai keturunan Wangsa Syailendra dari Kerajaan Mataram di Jawa Tengah. Sedangkan antara Wangsa Syailendra dengan Kerajaan Swarnadwipa Sriwijaya sudah lama menjadi musuh sejak raja-raja terdahulu.

Suatu hari, terjadi perang besar antara prajurit Kerajaan Swanadwipa Sriwijaya yang dibantu oleh Kerajaan Haji Wura-Wari dari Luwaram pada saat Kerajaan Mataram dipimpin oleh Gusti Prabu Dyah Wawa. Bersamaan itu, juga terjadi gunung merapi meletus yang sangat dahsyat dan banyak kerajaan kecil yang menentang kepada Raja Dyah Wawa. Sehingga, kondisi Kerajaan Mataram hancur lebur, dan Dyah Wawa mati. Perang ini disebut “Pralaya”.

Kemudian saya berhasil menyelamatkan mahkota kerajaan dan dua pusaka milik kerajaan untuk saya bawa lari ke Jawa Timur. Sebelum sampai di tempat yang kami tuju, saya dan semua pengikutku bertemu dengan rakyat Sima Anjukladang (Nganjuk) di Lereng Gunung Wilis. Kami mendapat bantuan berupa logistik dan tenaga untuk melawan prajurit Swanadwipa Sriwijaya dari rakyat Sima Anjukladang. Merasa kekuatan pasukan perang tidak seimbang dibanding dengan kekuatan musuh, kami membuat strategi perang yang disebut “Lorong Parit” atau “Hot Gate”. Sehingga pada saat terjadi perang, banyak prajurit musuh yang terjebak dan masuk ke dalam parit. Akhirnya, kemenangan yang gilang-gemilang ada di kami akibat dibantu oleh rakyat sipil Sima Anjukladang.

Selanjutnya, saya bersama pengikutku melanjutkan perjalanan ke Timur, menuju Desa Tawmlang, daerah Jombang di dekat Sungai Brantas. Di sana, saya dinobatkan menjadi Raja Medang sebagai kelanjutan dari Kerajaan Mataram di Jawa Tengah dengan gelarku “Sri Maharaja Pu Sindok Isana Wikrama Dharmotunggadewa”.

Hanya, setelah pemerintahan berjalan delapan tahun, istana kerajaan Medang kami dipindahkan ke Watugaluh, daerah Jombang juga, karena sering mendapat gangguan keamanan dari musuh dan dilanda banjir dari Sungai Brantas. Bersamaan perpindahan istana ke Watugaluh ini, sayta teringat atas jasa dari rakyat Sima Anjukladang ketika perang melawan prajurit Swarnadwipa Sriwijaya. saya memerintahkan kepada dua pejabat kerajaan, yaitu Pu Baliswara dan Pu Sahasra untuk membangun sebuah prasasti. Isi prasasti tentang pemberian hadiah kepada rakyat Sima Anjukladang agar bebas dari kewajiban membayar pajak atau disebut “Swatantra”. Sebuah prasasti yang kemudian disebut “Prasasti Anjukladang”, adalah sebuah jayastamba sebagai simbol tugu kemenangan melawan musuh. Dalam prasasti itu juga tertulis tentang perintah saya agar Sri Jayamerta (Candi Lor) sebagai tempat persembahan kepada para dewa dan perintahku tentang pemberian hadiah kepada rakyat sipil Sima Anjukladang berupa emas dan kain.

Kemudian Prasasti Anjukladang yang di dalamnya tertulis angka 14 April 937 Masehi, ditetapkan sebagai hari jadi kabupaten Nganjuk. Dan nama Anjukladang berubah nama menjadi Nganjuk.

Anjukzone: “Setiap tahun, peringatan hari jadi Kabupaten Nganjuk diperingati dengan visualisasi pawai alegories boyongan. Bagaimana menurut pendapat Paduka?”

Pu Sindok: “Itu yang membuat hati saya sedih. Yang namanya sejarah harus benar dan lurus, tanpa ada campuraduk dari kepentingan pribadi atau golongan. Sampai kapanpun pewarisku tidak akan mengenal nama saya dan tidak menghargai perjuangan rakyat anjukladang sewaktu membantu perjuang kami melawan musuh.”

Anjukzone: “Terus, apa yang akan Paduka lakukan apabila mereka tetap mempertahankan boyongan sebagai visualisasi hari jadi Kabupaten Nganjuk?”

Pu Sindok: “Sapathaku sebenarnya sudah jelas, bagi siapa saja yang telah menjadikan rakyat Sima Anjukladang menderita, mereka bakal menerima konsekuensinya. Telah banyak pejabat dan pemimpin yang masuk penjara, karena mereka terkena karmanya.”

Anjukzone: “Kutukan Sang Paduka itu seperti apa, sehingga begitu menakutkan bagi yang terkena karmanya?”

Pu Sindok: “Seperti yang telah saya perintahkan untuk ditulis pada prasasti Anjukladang. Pada pasal penutup, saya memerintahkan Sang Makudur. Setelah memberikan hadiah kepada semua undangan yang hadir, Sang Makudur (pemimpin upacara sima) mempersembahkan air suci, dan mentahbiskan susuk serta kalumpang. Kemudian dia memberi hormat Sang Hyang Teas ( sebutan tugu prasasti, sinonim dengan susuk dan Sang Hyang Watu Sima) yang terletak di bawah witana. Selanjutnya, dengan langkah yang teratur Makudur menuju tugu batu tersebut dan menutupnya dengan kain wdihan. Mulailah Sang Makudur memegang ayam, lalu memotong lehernya berlandaskan kalumpang. Disusul dengan membanting telur ke atas batu sima sambil mengucapkan sumpah, agar watu sima tetap berdiri kokoh. Demikian ucapan Makudur: “Berbahagialah hendaknya Engkau semua Hyang Sri Haricandana, Maharesi Agasti, yang menguasai timur, selatan, barat, utara, tengah, zenith, dan nadir, matahari, bulan, bumi, air, angin, api, pemakan korban, angkasa pencipta korban, hukum, siang, malam, senja……… Engkau yang berinkarnasi memasuki segala badan. Engkau yang dapat melihat jauh dan dekat pada waktu siang dan malam, dengarkanlah ucapan kutukan dan sumpah kami… Jika ada orang jahat yang tidak mematuhi dan tidak menjaga kutukan yang telah diucapkan oleh Sang Wahuta Hyang Makudur. Apakah ia bangsawan atau abdi, tua atau muda, laki-laki atau perempuan, wiku atau rumah tangga, patih, wahuta, rama, siapapun merusak sawah kakatikan Anjukladang sebagai sima yang telah diberikan kepada samgat di Anjukladang, maka ia akan terkena karmanya. Bunuhlah olehmu hyang, ia harus dibunuh, agar tidak dapat kembali di belakang, agar tidak dapat melihat ke samping, dibenturkan di depan, dari sisi kiri, pangkas mulutnya, belah kepalanya, sobek perutnya, renggut ususnya, keluarkan jeroannya, keduk hatinya, makan dagingnya, minum darahnya, lalu laksanakan. Akhirnya habiskanlah jiwanya. Semoga dikoyak-koyak badannya oleh para dewa, dicaplok harimau bila masuk hutan, dimakan buaya bila mandi di sungai, disambar petir bila hujan, dipathuk ular berbisa. disiksa dewa maut, dimasukkan dalam bejana penyiksaan (tamragomukha) di neraka nanti bila sudah mati. Begitulah matinya orang jahat, melebur kedudukan desa perdikan di Anjukladang.”

Anjukzone: “Terima kasih Paduka atas waktunya, semoga rakyat Anjukladang terbebas dari kutukan tersebut.”

Penulis: Sukadi

Editor: Yuniar N.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *