Berita Utama Birokrasi Budaya Entertainment Lintas Daerah News Regional Wisata

Peringati HUT Nganjuk, Bupati Novi ‘Membeo’ Mantan Bupati Soetrisno

Meski Tidak Nyambung, Tetap Pertahankan Boyongan dalam Prosesi Hari Jadi

NGANJUK – ANJUKZONE – Peringatan hari jadi Kabupaten Nganjuk ke 1082 tetap masih mempertahankan visualisasi alegoris boyongan.  Ternyata ini alasan Bupati Nganjuk, Novi Rahman Hidayat. Menurut Novi, karena pada tahun 1880 silam, di Kabupaten Nganjuk telah terjadi peristiwa bersejarah berupa perpindahan pusat pemerintahan Kadipaten Berbek menuju Nganjuk. Untuk itu, pemerintah daerah telah mempertahankan prosesi boyongan untuk mengisi peringatan hari jadi Kabupaten Nganjuk sebagai bentuk penghormatan dan nguri-nguri tradisi leluhur bersama masyarakat.

“Sekitar empatratus tahun yang lalu, di Nganjuk ada prosesi pindahan dari kadipaten lama ke kadipaten baru, kami juga harus menghormati prosesi itu untuk nguri-nguri bersama masyarakat mewarisi tradisi yang dibawa oleh para leluhur kita,” terang Bupati Nganjuk didampingi wakilnya, Marhaen Jumadi usai melaksanakan prosesi pawai alegories dari Berbek menuju pendapa kabupaten, Selasa, 09 April 2019.

Prosesi boyongan mencapai Alun-alun Nganjuk (foto-sukadi)

Lantas, apa korelasi antara peringatan hari jadi Kabupaten Nganjuk dengan pawai alegories boyongan? Novi menyampaikan ada hubungan yang sangat erat. Dia menyebutnya, pada waktu itu masih ada di Berbek pemerintahannya, kemudian dipindahkan ke Nganjuk.

“Jadi sebenarnya prosesi pindahan itu pada tanggal 21 Agustus 1880 lalu, tapi karena pada tanggal 21 Agustus ada peringatan HUT RI, sehingga rasanya kurang khidmad. Akhirnya pada waktu itu oleh (mantan) Bupati Soetrisno ditarik menjadi satu dengan HUT Nganjuk, pada tanggal 9 April,” tegasnya.

Kendati terkesan ‘membeo’ terhadap keputusan mantan Bupati Soetrisno, namun Novi tetap saja mempertahankan prosesi alegories boyongan dalam peringatan hari jadi Kabupaten Nganjuk tahun ini. Bahkan, Bupati Nganjuk yang belum genap satu tahun menjabat ini mengelak dikatakan bahwa HUT Nganjuk itu tidak sama dengan hari boyongan. Lebih-lebih setelah disebut bahwa ada sejumlah anggapan dari masyarakat bahwa HUT Nganjuk identik dengan boyongan.

“Sebenarnya masyarakat tidak mempersalahakan itu,  mereka pada prinsipnya menyebutnya satu rangkaian, ya kita menghormati rangkaian itu memang dijadikan satu dengan ulang tahun dengan proses pindahan. Sehingga ini merupakan daya tarik yang luar biasa bagi wisatawan, baik lokal maupun nasional. Maka nanti akan kita tarik wisatawan dari manca juga,” jelasnya.

Anehnya, ketika disoal, apakah peringatan hari jadi Kabupaten Nganjuk kali ini menurutnya sudah sesuai, pihaknya masih akan mengkaji lebih lanjut.

“Saya juga belum bisa mengatakan iya atau tidaknya. Cuma perlu duduk bersama antara para sesepuh, kemudian juga paara generasi muda ini  untuk menyamakan satu persepsi, apakah ini sudah dirasa cukup. Kalau ini sudah dirasa benar, tentunya mulai dari pemerintahan Pak Tris juga tidak pernah ada masalah. Sekiranya nanti perlu diadakan pemisahan, iya akan kita lakukan, kalau tidak iya akan berjalan seperti ini, hanya dikemas lebih baik lagi,” tukasnya.

Sekadar diketahui bahwa peristiwa hari jadi Kabupaten Anjuk berawal dari penemuan sebuah Prasasti Anjukladang di kompleks Candilor, Desa Candirejo, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk awalnya berasal dari kata Anjukladang. Lantas, berdasarkan kalendrik penanggalan berbahasa Sansekerta itu ditetapkan bahwa tanggal 10 April sebagai hari jadi Kabupaten Nganjuk. Dalam prasasti terdapat perintah Raja Medang Pu Sindok kepada Pu Baliswara dan Pu Sahasra untuk diteruskan kepada Kepala Rama Kanuruhan Pu Da itu menyebutkan pemberian hak swatantra atau bebas dari kwajiban membayar pajak bagi rakyat Sima Anjukladang dan pemberian pasak-pasak (hadiah) kepada rakyat yang berprestasi. Prasasti ditorehkan dalam sebuah batu lingga pala atau disebut Jaya Stamba, sebagai tugu kemenangan perang laskar Pu Sindok dibantu rakyat sipil Anjukladang mengalahkan prajurit Swarnadwipa Sriwijaya.

Lantas, peringatan hari jadi Nganjuk diperingati setiap tahun dengan visualisasi prosesi boyongan diawali dari Berbek mernuju Nganjuk, tanpa sedikitpun terkesan perjuangan heroik rakyat sipil Anjukladang dan situs cikal-bakal ditemukan nama Anjukladang di Desa Candilor.

Reporter: Sukadi

Editor: Yuniar N.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *