Berita Berita Utama Edukasi Hukum Lintas Daerah News Regional

Jaksa Masuk Sekolah Sebut Kasus Perkelahian  Dominan

Anak-anak Masih Awam Hukum, Lebih Kenal Polisi daripada Jaksa

NGANJUK – ANJUKZONE – Guna memasyarakatkan hukum agar tidak terkena jeratan hukum, Kejaksaan Negeri (Kejari) Nganjuk menyelenggarakan penyuluhan dan penerangan hukum kepada pelajar di Kabupaten Nganjuk. Salah satunya, program Jaksa Masuk Sekolah dengan tema “Kenali Hukum, Jauhkan Hukuman”, dilaksanakan di SMPN 1 Bagor, Senin, 11 Maret 2019.

Sedikitnya ada sekitar 300 pelajar, dari dua lembaga pendidikan, SMPN 1 Bagor dan SMPN 3 Bagor mengikuti penerangan hukum yang diselenggarakan oleh Kejari Nganjuk, di aula SMPN  Bagor. Bertindak sebagai narasumber adalah Deris Andriani, SH., MH. dan Ratrieka Yuliana, SH., masing-masing menjabat sebagai Jaksa Fungsional pada Kejari Nganjuk, dihadiri oleh Suhardi, S.Pd., Kepala SMPN 1 Bagor dan Minarti, M,Pd., Kepala SMPN 3 Bagor, serta sejumlah guru.

OSIS SMPN 1 Bagor foto bersama Tim Jaksa Masuk Sekolah (foto-Sukadi)

Menurut Deris Andriani, tujuan dilaksanakan penyuluhan hukum saat itu untuk mengenalkan para pelajar kepada masalah hukum. Lantaran, selama ini mereka belum mengetahui sepenuhnya, apa itu jaksa. Mereka lebih mengenal polisi daripada jaksa,” terang Jaksa Fungsional Kejari Nganjuk itu.

Sehingga, lanjutnya, mereka bisa mengenal secara keseluruhan, mulai dari tingkat bawah hingga kota tentang institusi kejaksaan.

Sedangkan, metode yang dikenalkan selama program Jaksa Masuk Sekolah adalah metode pengenalan dengan sistem tanya jawab, mengenai materi tindak pidana yang selama ini sempat terjadi pada kalangan anak-anak. “Karena selama ini, mereka tidak tahu, apa itu tindak pidana. Yang mereka tahu (anak-anak,Red), bila melanggar hukum pasti tidak akan dikenakan tindak pidana,” tegasnya.

Di Kabupaten Nganjuk, menurut Deris, kasus anak-anak yang paling mendominasi adalah kasus perkelahian antar perguruan silat. Bahkan, kejadiannya terus menerus, tidak pernah berhenti. Mereka saling baku hantam dan saling membalas. Setelah dilerai, mereka berkumpul lagi, berantem lagi dan berkelahi kembali.

“Kasus perkelahian anak-anak, marak sekali di Nganjuk,” katanya.

Antisipasinya, kejaksaan secara periodik melakukan kegiatan penyuluhan hukum, di antaranya Jaksa Masuk Sekolah, seperti yang dilakukan di sekolah-sekolah, seluruh Kabupaten Nganjuk tahun ini.

Penyematan PIN bagi siswa yang bisa menjawab pertanyaan dari Tim Jaksa Masuk Sekolah di SMPN 1 Bagor (foto-sukadi)

“Agar mereka mengetahui, kalau sudah masuk ke ranah tindak pidana, maka mereka harus hati-hati. Tidak boleh, serta merta, sembarangan melakukan tindak pidana. Akhirnya, lewat program jaksa masuk sekolah ini, mereka berpikir dua kali, tidak hanya sekali itu saja,” tukasnya.

Suhardi, S.Pd., Kepala SMPN 1 Bagor mengaku, banyak manfaat yang dapat dipetik dari program Jaksa Masuk Sekolah. Salah satunya, dapat memberikan pengetahuan kepada peserta didik tentang hukum, supaya mereka tidak melanggar hukum. “Sehingga anak-anak akan lebih taat terhadap hukum adanya pengenalan hukum yang disampaikan hari ini,” terang Suhardi.

Suhardi tidak menampik anggapan bahwa tingkat kenakalan pelajar juga merambah SMPN 1 Bagor. Kendati intensitasnya sangat kecil, namun membutuhkan penanganan lebih dini. Apabila, pihak sekolah menerima laporan ada siswa yang hendak berkelahi, pihak sekolah langsung menangani, sehingga tidak sampai berlanjut sudah damai terlebih dahulu.

“Kalau ada informasi ada anak yang mau berkelahi, cepat-cepat, kami bertindak supaya tidak berlanjut,” tegasnya.

Untuk itu, Suhardi menghimbau kepada peserta didiknya untuk lebih dewasa dalam bertindak, karena segala sesuatu yang terkait dengan perkelahian pasti akan bersentuhan dengan hukum.

Supaya lebih dewsa dlm bertindak, krn segala sesuatunya terkait dengan perkelahian pasti akan berkaitan dengan hukum.

Reporter : Sukadi

Editor: Yuniar N.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *