Berita Utama Birokrasi Hukum Kriminal Lintas Daerah Nasional News Regional

Drama Nikah dari ‘Belenggu’ Tahanan Polres Nganjuk

Minta Doa Restu hingga Berlutut Mencium Kaki Ibunya

NGANJUK – ANJUKZONE – Haru meraja dari prosesi pernikahan dua mempelai di Nganjuk, Jawa Timur ini. Mereka melangsungkan pernikahan tidak lazimnya warga pada umumnya. Namun, mempelai pria bernama Guntur Agung Satria bin Hartono (alm) ini menikahi wanita pujaan hatinya, Masrifatus Malfin Romadhoni binti Taukit dalam status terbelenggu tahanan Polres Nganjuk.

Yang membuat hati tersentuh, perjaka asal Desa Cengkok, Kecamatan Ngronggot ini melangsungkan pernikahan bersama kekasihnya Masrifatus Malfin Romadhoni, asal Desa Paron, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri tidak di kampung halamannya. Melainkan, mereka melangsungkan akad nikah di Masjid Al Ikhlas dan duduk di kursi pelaminan di aula Mapolres Nganjuk, Senin pagi, 03 Maret 2019. Pasti saja, kedua mempelai tersebut diarak oleh ratusan anggota polisi di bawah komando Kapolres Nganjuk, AKBP Dewa Nyoman Nanta Wiranta, didampingi ibu Bhayangkari, beserta keluarga mempelai berdua.

Guntur, tahanan polres Nganjuk minta doa restu dan berlutut mencium kaki ibunya dalam sel tahanan (foto-sukadi)

Sebelum melangsungkan akad nikah di Masjid Al Ikhlas Polres Nganjuk, Guntur dijemput oleh ibunya, Tuti Dwi Murni didampingi pamannya, dari dalam sel tahanan. Ibu Tuti nampak tegar di depan anak laki-lakinya saat berada di antara para tahanan. Meski air mata memaksa untuk menetes, namun ditahan agar tidak terlihat oleh anaknya yang sedang menjalani proses hukum, lantaran kasus kecelakaan yang mengakibatkan korban meninggal. Untuk menguatkan anaknya, beberapa kali, ibunya mencium kening dan pipinya sambil mematut-matut pakaian putih yang dikenakan. Juga ibunya, berulangkali menyisir rambutnya yang acak-acakan sebelum dibawa keluar dari sel tahanan.

Di luar sel tahanan, ibu Tuti dan pamannya tertahan, karena Guntur sengaja menghentikannya untuk minta doa restu. Kedua orang tua tersebut sepontan duduk di kursi kayu depan pintu sel, mendekap anak laki-lakinya yang berlutut di kakinya.

“Yang sabar ya nak, pasrahkan semua masalah kepada Allah, ambil hikmahnya agar dalam menempuh hidup bersama istrimu mendapat ridlo-Nya,” ucap ibu Guntur dengan mata berkaca-kaca.

Lantas, mempelai tahanan diarak menuju Masjid Al Ikhlas, berjarak sekitar 200 meter dari sel tempat Guntur ditahan, didampingi beberapa anggota polisi.

Akad Nikah, Guntur Bayar Seperangkat Alat Shalat dan Uang Tunai Rp 100 Ribu

Di depan masjid Al Ikhlas sudah menyambut calon mempelai wanita didampingi oleh kedua orang tuanya, Kapolres Nganjuk, AKBP Dewa Nyoman Nanta Wiranta, Ketua Bhayangkari, serta puluhan perwira.

Sebelum bertemu calon istri pujaannya, Guntur mendapat kehormatan dari Kapolres Nganjuk berupa jas hitam dan songkok. “Ukurannya sudah pas, tidak terlalu sempit kan…?,” ucap Kapolres Nganjuk saat mematutkan antara jas hitam dengan kopyah kepada calon mempelai pria.

Prosesi akad nikah tahanan Polres Nganjuk di Masjid Al Ikhlas (foto-sukadi)

Tak hanya kapolres, Ketua Bhayangkari tak ingin ketinggalan momen yang sempat menyita perhatian ratusan warga yang kebetulan berkunjung di Mapolres Nganjuk pagi itu. Ibu Kapolres memberikan seikat bucket bunga kepada calon mempelai wanita. Kontan, aura keceriaan keluar dari kedua wajah calon mempelai tersebut, setelah sekian lama tidak saling bertemu.

Tak berselang lama, kedua calon mempelai melangsungkan akad nikah dalam masjid, yang telah siap pejabat dari Kantor Urusan Agama (KUA), hendak memandu ijab khobul.

Dalam masjid suasana kembali berubah setelah keceriaan sesaat. Suasana sakral benar-benar mewarnai prosesi akad nikah antara Guntur dengan Masrifatus. Keduanya masih dipisahkan oleh tempat duduk, Taukit, ayah calon mempelai wanita di hadapan naip, petugas KUA yang akan memimpin jalannya akad nikah.

Prosesi akad nikahpun dimulai. Petugas KUA membacakan biodata kedua calon mempelai. Bertindak sebagai wali nazab adalah Taukit, ayah kandung Masrifatus, serta dua saksi, AKP AM. Rido Ariefianto, Kasat Lantas dan Sugino SH, Kanit Lantas Polres Nganjuk.

Setelah ijab khobul sah diikrarkan dengan pembayaran tunai mas kawin berupa seperangkat alat shalat dan uang senilai Rp 100 ribu, dilanjutkan dengan penandatanganan kartu nikah. Berkah lantunan ayat-ayat suci Al Qur’an dan doa dari para-para yang menyaksikan pun turut menyempurnakan prosesi akad nikah. Kini, kedua mempelai telah resmi menjadi sepasang suami istri.

Menyambut kegembiraan kedua mempelai, di luar masjid sudah menunggu para musisi srukalan, hendak mengiringi prosesi pernikahan.

Polres Nganjuk Tanggung Seluruh Biaya Pernikahan

Bak raja dan ratu sehari, Guntur dan Masrifatus setelah keluar dari masjid. Keduanya disambut lantunan musik srukalan, berjalan perlahan terukur. Di belakangnya, puluhan pengiring menuju kursi singgasana pelaminan megah yang telah disiapkan di aula Polres Nganjuk. Kendati tanpa ritual injak telur dan saling tukar kembar mayang atau suapan nasi putih dan seteguk air minum dari keluarga mempelai perempuan, tidak mengurangi kesakralan proses pernikahan.

Di depan pintu masuk istana pelaminan, sepasukan polisi wanita siap masing-masing sebakul bunga mawar. Setiba di bibir pintu, bunga-bunga beraroma wangi bertaburan mengenai sekujur tubuh sang raja dan ratu sehari.

Dua Mempelai diapit oleh masing-masing orang tuanya di kursi pelaminan (foto-sukadi)

Keduanya langsung dibimbing oleh para polisi wanita, menuju singgasana kursi pelaminan. Di kanan dan kirinya, masing-masing kedua orang tua mempelai mendampingi.

Tak disangka, Polres Nganjuk telah melangsungkan pesta pernikahan terhadap salah seorang warga tahanannya semeriah itu. Ini untuk kali pertama, Polres Nganjuk mengukir sejarah lewat pernikahan warga tahanannya yang semestinya dibelenggu oleh sel jeruji besi.

Entah apa yang tersirat dalam semangat orang nomor satu di jajaran Polres Nganjuk ini. Seorang AKBP Dewan nyoman Nanta Wiranta telah membuktikan rasa saling merasakan antar warga bernegara ini. Bukan hanya sebagai aparat penegak hukum, tapi juga sebagai pengayom masyarakat.

“Meski berstatus sebagai tahanan, tapi hak-hak mereka tetap kami perhatikan,’ ujar kapolres.

Menurut Kapolres Nganjuk, pernikahan warga tahanan dilakukan setelah mengakomodir dari rencana kedua belah pihak, baik keluarga mempelai pria maupun wanita yang telah memutuskan bahwa hari ini, Senin, 04 Maret 2019 ditetapkan sebagai hari terpilih untuk melangsungkan pernikahan. Hanya saja, beberapa waktu lalu, tersangka telah menyenggol orang tua, penggendara sepeda onthel hingga meninggal. Selanjutnya, pihak Polres Nganjuk melakukan penahanan guna proses hukum lebih lanjut.

“Kami telah memperhatikan kearifan lokal, atas permintaan orang tua dari kedua mempelai bahwa tepat hari ini telah diputuskan pernikahan. Maka kami menyetujuinya dengan seluruh biaya akomodasi kami yang tanggung,” terang kapolres Nganjuk di tengah prosesi pernikahan warga tahanannya.

Hal ini, lanjut kapolres, sesuai semboyan dari Polres Nganjuk bahwa jeruji besi bukan penghalang cinta sejati.

Hanya, Polres Nganjuk hanya dapat membantu prosesi pernikahan saja, untuk masalah bulan madu dan hak-hak lainnya, meminta kepada kedua mempelai untuk bersabar. Meski demikian, pihaknya secepatnya memroses berkas tersangka untuk dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Nganjuk, dan segera mendapatkan putusan hukum yang sesuai.

“Untuk pasal yang disangkakan yaitu pasal 310 ayat 4, karena kelalaian yang menyebabkan orang meninggal dunia dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara,” tegasnya.

Guntur, mempelai pria mengaku tidak menyangka sebelumnya bahwa Polres Nganjuk telah mempersiapkan sebuah pesta pernikahan baginya semeriah itu. Meski sebelumnya telah direncanakan, proses pernikahan dilangsungkan di aula Polres Nganjuk, dalam pikirannya tidak terlintas sedikitpun akan melibatkan ratusan anggota polisi dan pejabat daerah.

“Kami hanya bisa mengucap terima kasih kepada Bapak Kapolres bersama anggota polisi lainnya, tidak mengira sama sekali dimeriahkan semeriah ini,” ucap Guntur setelah melangsungkan prosesi pernikahan di aula Polres Nganjuk.

Rencana Pernikahan Sempat Ditunda

Menurut Guntur, jauh hari sebelaum kesandung masalah kecelakaan yang mengakitakan korban meninggal, rencana pernikahan dengan kekasihnya telah diputuskan oleh kedua pihak keluarganya. Sehingga, bersepakat hendak menunda pernikahan, meski telah siap akomodasi dan menyebar undangan.

Guntur Agung Satria bin Hartono (alm) ini menikahi wanita pujaan hatinya, Masrifatus Malfin Romadhoni binti Taukit dalam status terbelenggu tahanan Polres Nganjuk. (foto-sukadi)

“Sebenarnya ada rencana untuk menunda (pernikahan,Red) saat saya ditahan, tapi dari pihak polres membantu agar pernikahan tetap dilaksanakan, tapi harus di Mapolres Nganjuk, ya akhirnya seperti ini,” tegas Guntur.

Hanya, bersama istrinya, Guntur mengaku kecewa tidak bisa menikmati masa bulan madu setelah resmi menikah. Namun kekecewaan harus ditahan, menunggu hingga proses menjani hukuman bebas.

“Mau gimana lagu, memang saya yang salah, harus bersabar sampai bebas,” tandasnya.

Ditambahkan Masrifatus, istri Guntur hingga rela menunggu suaminya keluar dari hukuman baru menikmati masa bulan madu lantaran terikat oleh janji suci atas cinta suaminya. Berulang kali disampaikan kepada Masrifatus bahwa suaminya begitu menyayangi sepenuh tulus dan hanya pernah menikah sekali seumur hidup bersama dirinya.

“Pernyataan mas Guntur yang membuat hati saya kuat dan rela menunggu dia sampai keluar dari hukuman,” ucap Masrifatus yang mengaku menikah dengan Guntur tanpa melalui proses pacaran sebelumnya.

Reporter : Sukadi

Editor : Yuniar N.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *