Berita Utama Budaya Entertainment Lintas Daerah News Regional Wisata

Umat Hindu Lereng Wilis Jalan Kaki 3 KM Rayakan Melasti

Ritual Ditandai Mengambil Sari Alam Ciptaan Tuhan dari Sumber Air Mengalir

NGANJUK – ANJUKZONE – Ratusan umat Hindu di Lereng Gunung Wilis, Desa Bajulan, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk, menyelenggarakan upacara Melasti. Upacara religi untuk menyambut tahun baru Saka dan hari raya Nyepi ini dipusatkan di objek wisata, air merambat Roro Kuning, Desa Bajulan, Minggu, 03 Maret 2019, dimulai pukul 07.00 WIB dan berakhir pukul 12.00 WIB.

Upacara Melasti dimulai dengan prosesi jalan kaki dari Pura Kertha Bhuwana Giri Wilis, Dusun Curik, desa setempat menuju objek wisata air merambat Roro Kuning, Desa Bajulan.

ritual mengambil tirta amerta (foto-sukadi)

Mengku Damri, Ketua umat Hindu Pura Kerta Bhuawana Giri Wilis menyampaikan, setiap menyambut hari besar Nyepi dan tahun baru Saka, umat Hindu selalu mengadakan ritual upacara Melasti ke tempat-tempat sumber air.

“Tujuannya untuk menyucikan diri dan lingkungan sekitar,” ucap Mengku Damri usai memimpin upacara di Roro Kuning, dihadiri oleh Kapolres Nganjuk, AKBP Dewan Nyoman Nanta Wiranta beserta istri dan anak-anaknya.

Dengan hati, pikiran dan alam suci, menurut Mengku Damri, umat Hindu dapat melakukan kegiatan hari raya Nyepi dan menyambut tahun baru Saka dengan khidmat, serta bisa memulai lagi kehidupan yang lebih baik pada tahun berikutnya.

Ritual ditandai dengan mengambil tirta amertha dari sumber air, menggambarkan pencapaian hidup yang lebih baik. untuk itu, dengan mengambil air dari sumber seperti halnya mengambil sari-sari alam ciptaan Tuhan.

ratusan ratusan umat Hindu melangsungkan doa-doa di hadapan air merambat Roro Kuning (foto-sukadi)

“Hendaknya manusia tidak mengeksploitasi alam secara berlebihan sehingga merusaknya, yang akan menyebabkan kesengsaraan bagi manusia itu sendiri,” tegasnya.

Dalam rangkaian upacara Melasti tersebut, sekitar 600 warga Hindu Gunung Wilis berjalan kaki menuju Roro Kuning sejauh sekitar 3 kilometer dengan medan naik turun. Mereka membawa perangkat-perangkat pura yang disakralkan seperti, pratima, pralingga, arca dan juga jempana.

Semua perangkat tersebut diusung menuju sumber air berikut sesajen, umbul-umbul, payung serta senjata nawa sanga, diringi dengan seni reog. Mereka juga membawa berbagai hasil bumi dan ternak, seperti ayam, burung, bebek, dan sebagainya.

Setelah selesai, benda-benda sakral tersebut diusung kembali ke Pura Kerta Bhuwana Giri Wilis. Namun berbagai hasil bumi dan ternak dilarung ke sungai dari aliran air merambat Roro Kuning. Tampak saat prosesi larung, banyak anak kecil berebut berkah berupa hasil bumi dan sejumlah binatang ternak.

Sebelumnya, ratusan ratusan umat Hindu melangsungkan doa-doa di hadapan air merambat Roro Kuning dipimpin soerang ketua pura, Mengku Damri. Di dalamnya juga dilantunkan gendhing-gendhing dan tari-tarian, yakni tari bali Rejang Dewi dan reog Ponorogo.

Reporter : Sukadi

Editor : Yuniar N.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *