Berita Utama Hukum Kriminal Lintas Daerah News

Kerjakan Proyek Fiktif, Kades Kacangan Masuk Penjara

NGANJUK – ANJUKZONE –M. Arif Hasanuddin, Kepala Desa Kacangan, Kecamatan Berbek, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur akhirnya ditahan oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Nganjuk, Rabu, 09 Januari 2019, pukul 13.30 WIB.

Kades M. Arif Hasanudin lang dibawa ke Rumah Tahanan (Tutan) Kelas II-B Nganjuk setelah sebelumnya, ditetapkan sebagai tersangka oleh Tim Penyidik Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Satreskrim Polres Nganjuk, Oktober 2018 lalu. Kades ditetapkan sebagai tersangka terkait dugaan korupsi Dana Desa (DD) tahun anggaran 2017.

Sebelum dilimpahkan ke Kejari Nganjuk, Kades Arif sebelumnya juga sudah ditahan di Mapolres Nganjuk, sampai pelimpahan tahap II berkas perkaranya kemarin, dari polisi kepada jaksa.

Eko Baroto, Kepala Seksi Pidana Khusus (Kasipidsus) Kejari Nganjuk, mengatakan, modus korupsi yang dilakukan tersangka, yakni dengan mengerjakan proyek fisik fiktif. Kerugian negara dari penyelewengan dana desa ini ditaksir sebesar Rp 310 juta. Namun, kejaksaan baru menyita barang bukti uang sebesar Rp 18 juta.

Eko Baroto juga menyebut, dalam proyek fisik yang tidak dikerjakan tersebut, salah seorang oknum rekanan kontraktor berinisial FE asal Nganjuk, diduga ikut terlibat menghabiskan uang negara.

“Ada kemungkinan penambahan tersangka lain, selain tersangka kepala desa,” ujar Eko, kepada wartawan Rabu 9 Januari 2019.

Kepada penyidik, Kades Arif mengaku awalnya mencairkan DD dari salah satu bank BUMN di Kecamatan Berbek. Setelah itu, dia menemui rekanan FE, untuk mengerjakan proyek pengaspalan jalan desa. Selanjutnya, Muh memberi uang ke FE sebesar Rp 150 juta, untuk segera mengaspal jalan desa. Namun hingga akhir Oktober 2017 pengaspalan tidak terwujud.

Belakangan, ulah Kades Arif tersebut dilaporkan warganya ke Polres Nganjuk dan kemudian ditetapkan sebagai tersangka.

Kasi Pidsus Kejari Nganjuk, Eko Baroto mengatakan, tersangka dijerat dengan Undang-Undang 31/1999 tentang tindak pidana korupsi, dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara.

Kuasa hukum Arif, Bambang Sukoco mengatakan, sebagaian besar dana proyek tersebut diserahkan kepada rekanan  berinisial FE. Karena itu, pihaknya dan mewakili tersangka Arif berharap FE bisa dijadikan tersangka.

“Jadi klien kami tidak semuanya memakai,” tegas Bambang Sukoco.

Bambang Sukoco berharap, FE ikut disidik dan ditetapkan menjadi tersangka, karena dia yang menyebabkan program yang ditetapkan oleh pelaksana pembangunan di Desa Kacangan tidak terlaksana, setelah pembelian aspal tidak bisa direalisasikan.

Hanya saja, lanjut Bambang, saksi FE mengelak telah ikut menerima uang dari Kades Kacangan. Bahkan dibalik, bahwa kliennya dikatakan mempunyai hutang, senilai Rp 60 juta.

“Hutangnya tidak sesuai, pengakuan hutang Rp 60 juta, yang diterima Rp 200 juta, ini ada apa?,” tukasnya.

Reporter: Sukadi

Editor: Yuniar N.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *