Berita Utama Budaya

Legenda Gunung Kendil dan Kisah Jaka Tirip

NGANJUK – ANJUKZONE – Di Dusun Tirip, Desa Suberurip, Kecamatan Berbek, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, beredar sebuah mitos yang sangat kuat. Yakni, banyak perjaka yang tidak menikah hingga usia dewasa, bahkan tidak sedikit yang menyandang status sebagai perjaka tua. Tragisnya, di sebuah dusun dekat hutan jati ini, ada beberapa pemuda ditemukan tewas karena bunuh diri, lantaran gagal menikah. Selain itu, juga pernah ada, beberapa pemuda yang terkena penyakit aneh dan tidak dapat diobati. Kejadian yang diperkirakan sudah puluhan tahun tersebut, lantaran para pemuda yang sudah menginjak dewasa, waktunya untuk menikah, mereka lebih memilih membujang. Berdasarkan cerita dari mulut ke mulut, apabila seorang perjaka sudah menginjak dewasa, agar secepatnya menikah. Bila tidak, maka musibah bakal terjadi. Hanya saja, mitos banyak perjaka tua di Dusun Tirip berangsur  sirna seiring perkembangan jaman. Lebih-lebih, setelah banyak warga yang merantau dan menetap ke desa lain.

Mitos perjaka tua ini seperti disampaikan, Mbah Mujadi, (77) juru kunci Makam Jaka Tirip, di dusun Tirip, desa setempat.

Konon, menurut cerita Mbah Mujadi, mitos perjaka tua di dusun Tirip sudah berlangsung secara turun-temurun. Mbah Mujadi sendiri menerima cerita dari orang tuanya, bernama almarhum Sanraji.

Diceritakan, dahulu semasa kerajaan Jenggala Kediri, seorang putri bernama Dewi Sekartaji hendak mengadakan perjalanan ke daerah Ponorogo. Diperkirakan, untuk bisa sampai ke Ponorogo, Dewi Sekartaji dikabarkan akan melewati jalur lereng Gunung Wilis di sisi utara. Salah satu jalan yang akan dilewati adalah Gunung Pegat.

Patung Jaka Tirip yang dibuat oleh Kepala Desa Sumberurip, dekat pasar desa (foto-sukadi)

Kabar perjalanan Dewi Sekartaji, istri Panji Inu Kertopati ini santer didengar oleh banyak orang. Salah satunya adalah seorang pemuda Gunung Pegat, bernama Jaka Tirip. Diam-diam, Jaka Tirip sangat mengagumi Dewi Sekartaji, putri Jenggala yang dikenal memiliki paras cantik dan sempurna itu. Bukan hanya mengagumi kecantikannya, Jaka Tirip bahkan berhasrat untuk meminang Dewi Sekartaji. Peminangan akan disampaikan sendiri bila bertemu Dewi Sekartaji, saat melewati Gunung Pegat.

Jaka Tirip akhirnya memutuskan untuk mencegat di Gunung Pegat, karena dia percaya bahwa Dewi Sekartaji, gadis pujaannya akan melewati jalan itu. Berhari-hari, Jaka Tirip tidak beranjak dari tempat itu, karena takut kelewatan, bila Dewi Sekartaji sewaktu-waktu lewat. Bahkan, Jaka Tirip rela menanak nasi sendiri di Gunung Pegat.

Jaka Tirip menanak nasi cukup sederhana, beras hanya direbus dalam ‘kendil’, sejenis alat dapur terbuat dari tanah liat.

Jaka Tirip tidak pernah pulang, siang dan malam selalu tinggal di Gunung  Pegat. Kedua saudara perempuannya, bernama Sunthi dan Mayangsari tidak tega melihat kakaknya, sering merenung dan melamun sendiri. Akhirnya, Sunthi dan Mayangsari menemani Jaka Tirip, dan membantu nanak nasi.

Hari-hari telah berganti minggu, bulan hingga tahun. Namun sang pujaan hatinya belum juga datang. “Kakang, apa tidak sebaiknya pulang saja, Dewi Sekartaji tidak mungkin lewat jalan ini, lebih baik kita tunggu saja di rumah,” bujuk Sunthi, adiknya.

“Iya, kakang!, apalagi gadis yang menjadi pujaan hati kakang sudah menjadi istri orang, Panji Inu Kertopati. Tidaklah baik, berharap cinta untuk dijadikan istri dari wanita yang sudah bersuami,” sambung Mayangsari.

“Tidak adik-adikku, sudah menjadi tekadku untuk mencintai Dewi Sekartaji dan menjadikan dia sebagai istriku. Saya percaya, dia pasti datang dan bersedia menerima pinanganku,” balas Jaka Tirip.

“Terhitung, kakang sudah hampir sewindu menunggu, sing dan malam tidak pernah tidur, namun Dewi Sekartaji tidak juga kunjung datang. Sampai kapan, kakang tetap akan menunggu,” lanjut Sunthi, berusaha membujuk kakaknya agar mau pulang dan mengurungkan niatnya untuk meminang Dewi Sekartaji, “Dewi Sekartaji itu anak orang terhormat, sedangkan kita dari keluarga tidak mampu. Apa tidak menjadi bahan gunjingan banyak orang, bila keinginan kakang terus dilanjutkan.”

“Adik, tidak usah mengganggu keinginanku. Hasratku sudah bulat, ingin meminang Dewi Sekartaji untuk kujadikan istri. Bila adik-adikku tidak berkenan, apa tidak sebaiknya pulang dan tinggalkan aku sendiri. Saya tetap akan menunggu Dewi Sekartaji sampai kapan pun. Saya tidak akan meninggalkan Gunung Pegat, sebelum bertemu Dewi Sekartaji, dan menyampaikan pinanganku,” sergah Jaka Pasek.

“Kakang tidak boleh ngomong sembarangan seperti itu. Itu pamali diucapkan. Kakang bisa jatuh sakit dan mati kedinginan bila ini diterus-teruskan dan berharap sesuatu yang tidak mungkin,” Mayangsari terus membujuk kakaknya.

“Sudah aku bilang, semua sudah menjadi tekadku. Kalian tidak usah ikut campur urusanku. Pati dan urip (hidup dan mati) bukan urusan kita. Saya tetap akan menunggu Dewi Sekartaji,” kata Jaka Tirip dengan nada bicara tinggi.

Selang beberapa lama berdebat dengan kedua adiknya, Jaka Tirip dikejutkan kedatangan seorang gadis, tetangganya. Gadis bernama Sekar Sejati datang membawa kabar bahwa Dewi Sekartaji telah sampai di daerah Ponorogo, bertemu suaminya Panji Inu Kertopati.

“Tidak mungkin. Semua ucapanmu itu… tidak mungkin. Omong kosong, Dewi Sekartaji pasti datang dan menemui Jaka Tirip. Saya sudah bertahun-tahun menunggu, sampai ‘ngliwet’ saja saya lakukan di Gunung Pegat ini hanya untuk menunggu kedatangan Dewi Sekartaji, sewaktu-waktu lewat,” ucap Jaka Tirip dengan marah.

Mendengar kabar yang dibawa Sekar Sejati, tentang Dewi Sekartaji yang gagal melewati Gunung Pegat, Jaka Tirip marah besar. Apapun yang ada di dekatnya ditendang dan diobrak-abrik. Termasuk kedua adiknya, Sunhti dan Mayangsari terkena amukan Jaka Tirip. Lebih-lebih, Sekar Sejati, yang membawa kabar tidak luput dari kemarahan Jaka Tirip.

Jaka Tirip justru menuduh bahwa Sekar Sejati sengaja menggagalkan rencananya untuk mempersunting Dewi Sekartaji, karena sejatinya Sekar Sejati sendiri telah menaruh hasrat kepada Jaka Tirip untuk diperistri. Namun, keinginan Sekar Sejati ditolak, karena Jaka Tirip terlanjur mencintai Dewi Sekartaji.

“Ini semua akal-akalan kamu, Sekar Sejati, supaya saya gagal memperistri Dewi Sekartaji. Sebenarnya, kamu ini ingin saya persunting. Iya… kan!,” bentak Jaka Tirip.

Saya bersumpah, lanjut Jaka Tirip, pati – urip (hidup dan mati) saya, tidak akan menikah bila tidak terkabul untuk menikahi Dewi Sekartaji.

“Semua pergi…!!!,” teriak Jaka Tirip sambil menendang kendil yang digunakan untuk ‘ngliwet’.

Kendil yang selama ini digunakan untuk ‘ngliwet’ melayang hingga jauh dan jatuh tengkurep, membentuk sebuah gunung di utara Gunung Pegat. Hingga sekarang, tumpahan kendil yang ditendang Jaka Tirip ketika marah itu dienal warga dengan nama Gunung Kendil. Letaknya tidak jauh dari Gunung Pegat, berada di sisi utaranya. (Sumber adalah Mujadi, (77), juru kunci Makam Jaka Tirip, di dusun Tirip, Desa Sumberurip, Kecamatan Berbek, Kabupaten Nganjuk) dan beberapa sumber tidak tertulis atau cerita dari mulut ke mulut, berserta mitos yang berkembang kuat di dusun Tirip hingga sekarang).

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *