Berita Utama Edukasi Lintas Daerah News

Perpustakaan Umum Daerah Nganjuk

Menyimpan Koleksi Buku Tua Berbahasa Belanda.

NGANJUK – ANJUKZONE – Tidak menyangka bila bangunan yang terletak di Jalan Diponegoro Nganjuk itu adalah sebagai pusat perbukuan daerah. Pasalnya, kondisi bangunan yang selanjutnya dikenal sebagai Perpustakaan Umun Daerah Nganjuk itu tidak menampakkan sebagai bangunan yang menyimpan segala ilmu pengetahuan yang berguna bagi anak-anak bangsa. Selain bentuk bangunannya sangat sederhana juga bekas kantor Kecamatan Nganjuk. Bila tidak terpasang papan nama “Perpustakaan Umum Daerah Nganjuk” di depan bangunan, tidak banyak orang yang mengetahuinya. Hanya saja untuk ‘mengelabuhi’ publik agar terlihat sebagai bangunan yang bernilai manfaat, bangunan yang berhadapan dengan toko pakaian dan disekitarnya banyak permukiman itu sedikit mendapat perawatan. Terlihat cat temboknya cukup menyolok, kuning terang dengan perpaduan hijau di beberapa sudut. Cat itu juga terlihat masih baru. Sepertinya baru beberapa bulan lalu.

Memang tepat di depan bangunan itu ada sebuah papan kayu bertuliskan ‘Perpustakaan Umum Daerah Nganjuk’. Atap teras bangunan itu juga dibuat sedikit menjorok, di bawahnya digunakan sebagai tempat parkir. Jika siang hari ada banyak sepeda dan motor yang berteduh di bawah atap itu.

Siapa sangka Perpustakaan Umum Nganjuk memiliki koleksi buku-buku yang cukup tua. Bahkan, beberapa di antaranya masih tertulis dalam bahasa Belanda.

Begitu masuk ke ruangan itu deretan rak yang dipenuhi buku-buku terlihat tertata rapi. Di tengah-tengah ruangan juga ada beberapa meja dan kursi yang digunakan untuk membaca.

Namun di sudut bangunan lainnya juga ada lemari-lemari berkaca. Buku-buku didalamnya sebagian besar terlihat sangat tebal. “Buku-buku lama memang kami simpan di dalam,” kata Fitri Puji Astutik, salah satu staf perpustakaan.

Ya, selain buku-buku terbitan terbaru, perpustakaan itu juga memiliki koleksi buku-buku lama. Namun tidak semua buku lama itu diletakkan di rak yang biasa dikunjungi orang. Wajar saja jika tidak banyak masyarakat tahu koleksi apa saja yang dimiliki oleh perpustakaan.

Ternyata ada banyak koleksi buku tua yang dimiliki oleh perpustakaan itu. Di antaranya yang paling tua adalah Ramers Algeneebe Kunstwoordentolh yang merupakan sebuah kamus istilah dalam bahasa Belanda. Kamus itu dikarang oleh H.W.F Bonte dan diterbitkan oleh Gouda, GB. Van Goor Zonen pada 1886. Tebal buku itu adalah 1.306 halaman.

Lalu, ada pula buku berjudul  Cultur En Maatschappij yang berisi tentang kebudayaan dunia. Buku itu dikarang oleh DR. Henri C.A Muller yang diterbitkan oleh Denhaq-Batavia, WL Vitgevers pada 1932. Tentu saja buku itu berbahasa Belanda.

Sebenarnya masih ada banyak buku-buku lama lainnya. Sebagian besar menggunakan bahasa Belanda dan Inggris. “Penerbitnya juga dari luar negeri,” lanjut Fitri.

Selain buku lama, di perpustakaan itu juga ada berbagai koleksi buku baru berbahasa Inggris. Sebagian besar adalah buku-buku jenis referensi terbitan penerbit terkenal dunia, misalnya saja McGraw Hill.

Lalu, sebenarnya berapa jumlah koleksi buku di perpustakaan itu? Fitri mengatakan dari hasil pendataan 2010 tercatat ada 33 ribu koleksi buku dan majalah dengan 22 ribu judul. Jumlah yang tidak sedikit.

Kendati demikian koleksi buku-buku lama itu memang tidak bisa dipinjamkan. Masyarakat yang ingin membaca buku itu hanya boleh membacanya di perpustakaan. “Tapi kalau ingin mengkopi boleh,” ujar Fitri.

Namun dalam beberapa kesempatan buku itu juga dipamerkan. Di antaranya saat perayaan hari ulang tahun (HUT) kemerdekaan atau ulang tahun Nganjuk. Dari situlah akhirnya ada banyak warga yang tertarik untuk melihat.

Menurut Fitri butuh perhatian ekstra untuk merawat buku-buku itu. Maklum, usianya yang sudah cukup tua membuat kondisi fisik buku itu juga mudah rusak. Sehingga perawatan harus benar-benar diperhatikan.

Lalu, dari mana buku-buku itu berasal? Menurut Fitri buku-buku lama itu sebagian besar merupakan sumbangan dari Abdurrohim, mantan Bupati Bangkalan, Madura. “Anak beliau (Abdurrohim, Red) juga ikut menyumbang,” sambung Fitri. Kendati demikian ada pula masyarakat lain yang juga memberikan bukunya ke perpustakaan.

Reporter : Sukadi

Editor: Yuniar N.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *