Berita Utama Budaya Lintas Daerah News

Klentheng Hoek Yoe Kiong Pertahankan Tradisi Sembahyang ‘Bo To’

Mengentaskan Arwah Leluluhur Sebatang Kara di Alam Baka

NGANJUK – ANJUKZONE – Tradisi sembahyang rebutan atau oleh warga Tionghoa di Nganjuk disebut “Bo To” telah menjadi salah satu kegiatan penting di Klentheng Hok Yoe Kiong, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Biasanya, tradisi “Bo To” diselenggarakan ketika memasuki bulan ketujuh Imlek.

Warga Tionghoa yang sudah menjadi warga negara Indonesia ini sengaja melestarikan tradisi Tiongkok yang sudah berlangsung ribuan tahun dan dilaksanakan secara turun-temurun dan jatuh pada setiap bulan ketujuh Imlek.

Ketua Klenteng Hok Yoe Kiong, Sukomoro, Kabupaten Nganjuk menyampaikan Sembahyang Rebutan atau sering disebut Sembahyang ‘Bo To’,  mempunyai makna, sebagai keturunan bangsa Tiongkok bermaksud mengentaskan arwah para leluluhur yang di alam baka sana tinggal sebatang kara, agar mendapatkan tempat yang lebih baik.
“Masalah tanggal pelaksanaannya dimulai pada awal bulan sampai pada akhir bulan tujuh,” jelas Teguh Susilo Saputro

Di bulan tujuh ini, lanjut ketua Klenteng Hok Yoe Kiong merupakan bulan terbaik untuk melaksanakan Sembahyang Rebutan. Bahkan upacara ini dilakukan oleh setiap keluarga terhadap leluluhurnya yang sudah meninggal.
“Ada yang dilakukan di awal bulan dan ada pula di kemudian hari pada bulan tujuh imlek,” tegasnya. Dengan tujuan agar arwah leluhurnya di alam baka bisa tenang dan aman serta melegakan hati bagi keluarga yang ditinggalkan karena telah menunaikan baktinya kepada leluluhur. Sembahyang Bo To tidak hanya diselenggarakan di setiap Klenteng, namun di Kuil-Kuil dan Vihara di seluruh dunia pun melaksanakan sembahyang ini secara bergantian.

“Sama seperti yang dilaksanakan di klenteng ini,” ujarnya.

Upacara Sembahyang Bo To sendiri diawali dengan ritual-ritual, seperti membakar ‘hio’, media pemujaan menyerupai lidi yang dibakar pada bagian ujungnya. Kemudian dilanjutkan dengan ritual-ritual lain seperti pemujaan terhadap para leluluhur dan Raja Dewa dipimpin oleh ketua Klenteng. Ketua Klenteng diapit oleh dua pendamping mengenakan kostum serupa berwarna kuning. Mereka diikuti sejumlah pengikutnya, berjajar di belakangnya, melakukan ritual di depan pelataran altar Yang Mulia Kong Co Kong Tek Cung Ong. Kemudian upacara dilanjutkan dengan sembahyang untuk memuja Raja Dewa Alam Baka, Maha Agung Tee Jang Wang Po Sat dilaksanakan di depan altar Maha Agung Tee Jang Wang Po Sat. Selama prosesi Sembahyang Bo To selalu dipandu oleh seorang pembawa acara hingga usai.

Dalam rangkaian Sembahyang Bo To juga diwarnai ritual pembakaran barang-barang yang sudah disiapkan dalam bentuk bulatan menyerupai sumur galian di sebelat barat Klenteng. Hanya saja kedalamannya sekitar 1 meter dari bibir lubang. Menurut Teguh, barang-barang yang dibakar mensiraatkan kiriman dari para anak dan cucunya yang masih hidup di dunia kepada para arwah leluhurnya. Barang-barang yang dibakar berupa baju, sepatu, uang, bahkan ada yang membakar batangan emas.

“Tapi semua dalam bentuk tiruan,” tandas Teguh.

Masalahnya, menurut keyakinan umat Kong Hu Chu, upacara pembakaran barang-barang itu sebagai wujud kepedulian kita terhadap para arwah para leluhur mereka. Maka mereka mengirimkan barang-barang lewat dibakar agar cepat sampai ke tingkat Nirwana (Surga).

“Agar kiriman doa dari anak-cucu yang masih hidup ini cepat sampai ke alam baka sana, dan upacara seperti ini selalu dilaksanakan setiap tahun,” ujarnya.

Diakhir prosesi Sembahyang Bo To diakhiri dengan rebutan barang-barang oleh para warga Klenteng sendiri. Hanya saja pelaksanaannya dikemas dengan memberikan kupon untuk menghindari keributan. Barang-barang yang sudah disiapkan di atas panggung sudah diberi nomor tersendiri sehingga umat yang mendapatkan kupon tinggal mencocokkan dengan barang yang sudah dibungkus.

“Sebenarnya, setelah upacara selesai dilanjutkan dengan rebutan barang. Tapi, untuk menghindari agar tidak terjadi keributan, umat diberi kupon dan tinggal mencocokkan dengan barang yang akan diambil,” pungkasnya.

Reporter : Sukadi

Editor: Yuniar N.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *