Berita Utama Budaya Internasional News

Wayang Timplong Asli Nganjuk Tersimpan di Yale University Art Gallery

NGANJUK – ANJUKZONE – Beberapa buah wayang Timplong, seni asli khas Nganjuk tersebut ditemukan di Yale University Art Gallery, New Haven, USA. Buah wayang berkarakter Panji, kondisinya masih utuh, belum terdapat kerusakan yang berarti. Padahal, bahan dasar wayang Timplong, terbuat dari kayu. Konon, wayang Timplong rata-rata terbuat dari kayu waru, pinus atau mentaos, karena teksturnya yang halus dan ringan. Sehingga, ketika dimainkan dalam pergelaran, terasa ringan.

Bukan hanya buah wayang saja yang ada di Museum Leiden, Belanda, melainkan bulu merak, yang biasa dipasanga pada kanan kiri perkeliran juga masih utuh, serta wayang boneka, yang biasa dimainkan di sela-sela pertunjukkan wayang.

Menurut Matthew Isaac Cohen dalam facebook-nya, koleksi wayang asli dari Nganjuk tersebut tertulis wayang Klithik dari seseorang bernama Seloguna, Nganjuk, Jawa Timur tersebut terdapat di antara koleksi wayang-wayang Indonesia milik Dr. Walter Angest dan Sir Henry Angest, Gallery Seni di Universitas Yale. Diperkirakan, wayang-wayang tersebut didapat sekitar abad 19. Wayang-wayang tersebut tersimpan bersama beberapa wayang golek yang unik.

“Wayang klitik from Seloguna (Nganjuk, Jawa Timur) in the Dr. Walter Angest and Sir Henry Angest Collection of Indonesian Puppets at Yale University Art Gallery. Many date back to 19th century, if not earlier. Plus a couple of unusual wayang golek puppets,” kata Matthew.

Memang, di antara wayang kayu, wayang Timplong memiliki kemiripan dengan wayang Klithik atau Krucil. Hanya, wayang Timplong dihasilkan asli dari Nganjuk, Jawa Timur oleh Mbah Boncol, dari Dusun Kedungbajul, Desa Jetis, Kecamatan Pace. Sedangkan Wayang krucil adalah kesenian khas Kabupaten BloraJawa Tengah. Buah wayang dari kulit dan berukuran kecil sehingga lebih sering disebut dengan Wayang Krucil. Wayang ini dalam perkembangannya menggunakan bahan kayu pipih (dua dimensi) yang kemudian dikenal sebagai Wayang Klithik. Sementara wayang Klithik pertama kali diciptakan oleh Pangeran Pekikadipati Surabaya, dari bahan kulit dan berukuran kecil sehingga lebih sering disebut dengan wayang krucil. (https://id.wikipedia.org/wiki/Wayang_klithik)

Munculnya wayang menak yang terbuat dari kayu, membuat Sunan Pakubuwana II kemudian menciptakan wayang klithik yang terbuat dari kayu yang pipih (dua dimensi). Tangan wayang ini dibuat dari kulit yang ditatah. Sama dengan wayang wayang Timplong, wayang klithik memiliki gagang yang terbuat dari kayu. Apabila pentas menimbulkan bunyi “klithik, klithik” yang diyakini sebagai asal mula istilah penyebutan wayang klithik.

Tampaknya, kondisi buah-buah wayang yang berada di Museum Leiden sedikit berbeda dengan kondisi wayang Timplong yang saat ini ada di Kabupaten Nganjuk. Bila wayang timplong yang sekarang ada, tampak kasar dengan guratan-guratan asesorios pada tubuh wayangnya. Sehingga, penampilan wayang seperti gambar mati atau lukisan dua dimensi. Namun jenis tokoh wayang relatif masih sama.

Sedangkan wayang timplong asli yang ada di Leiden, hampir seluruh bentuknya halus, mulai dari guratan-guratan asesoris hingga pewarnaan yang menempel. Seperti cara pembuatannya tidak asal, benar-benar penuh perhitungan dan kesabaran, sehingga tampilan wajahnya seperti hidup.

Hal menarik pada kondisi asli wayang Timplong dari Leiden tersebut, ujud kayu masih terlihat jelas. Meski pipih, bentuknya menyerupai gambar tiga dimensi.

Sumadi, budayawan Nganjuk menyampaikan, kesenian tradisional ini konon mulai ada sejak tahun 1910-an dari Dusun Kedung Bajul Desa Jetis, Kecamatan Pace, provinsi Jawa Timur. Wayang ini terbuat dari kayu, baik kayu waru, mentaos, maupun pinus. Instrumen gamelan yang digunakan sebagai musik pengiring, juga sangat sederhana. Hanya terdiri dari Gambang yang terbuat dari kayu atau bambu, ketuk kenong, kempul dan kendang

Wayang timplong pertama kali dibuat oleh Mbah Boncol, karena kegemarannya masa kecil senang menonton pertunjukkan kesenian wayang Klithik yang berinisiatif membuat wayang baru yang berbeda dengan wayang lainnya dan semata mata untuk hiburan.

Keahlian mendalang mbah Bancol diturunkan kepada putranya Ki Karto Guno hingga Ki Tawar. Hanya sekarang, perkembangannya proses pewarisan mendalang wayang Timplong bukan lagi dari garis keturunan, yang mengakibatkan banyak bermunculan dalang-dalang wayang Timplong yang berasal dari berbagai daerah di Kabupaten Nganjuk luar Desa Jetis.

Pada awalnya kesenian wayang Timplong dipentaskan sebagai sarana hiburan namun kini menggalami perubahan kesenian wayang Timplong lebih banyak dipentaskan sebagai sarana ritual upacara seperti ruwatan dan bersih desa. Pada tahun 2005 salah satu dalang wayang Timplong di Kabupaten Nganjuk mendapatkan penghargaan dari Gubernur Jawa Timur Imam Utomo sebagai apresiasi seniman kesenian Tradisional. “Pada saat ini kesenian wayang Timplong tidak hanya dipentaskan di daerah Nganjuk saja tapi di luar Nganjuk dalam acara pentas seni untuk lebih mengenalkan kesenian wayang Timplong,” terang Sumadi.

Kendati demikian, wayang Timplong di Nganjuk sudah mulai punah. Perlahan-lahan, keberadaannya begitu memprihatinkan. Perkembangannya tidak seperti pertunjukan wayang jenis lain, seperti wayang kulit, wayang golek, wayang krucil, dan lain-lain. Wayang Timplong hanya beberapa kali dipentaskan dalam setahun. Itu pun hanya dipentaskan pada saat hajatan bersih desa.

Sumadi berinisiatif, apabila ingin mempertahankan eksistensi wayang Timplong sebagai kesenian asli dari Nganjuk masih terbuka peluang. Atas campurtangan pemerintah daerah, pertunjukkan wayang Timplong dapat dibuat lebih bervariasi dengan menambah jenis gamelan yang semula hanya terdiri dari lima jenis. Selain itu, penampilan sang dalang, niyaga dan pesinden juga disesuaikan dengan kondisi jaman sekarang.

“Kalau ingin dipertahankan, masih banyak cara, jangan berpedoman pada pakem, sehingga menghambat kreatifitas untuk berkembang,” tukasnya.

Reporter : Sukadi

Editor : Yuniar N.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *