Berita Utama Budaya Lintas Daerah News

Tradisi Angon Putu Nobatkan Wanda Juara I

Lomba Penulisan Sejarah dan Tradisi Lokal Tingkat SMP/MTs se Kabupaten Nganjuk

NGANJUK – ANJUKAZONE – Setelah melewati tahapan yang mendebarkan, Wanda Yulia Ayuningtyas, siswi SMPN 1 Bagor lolos sebagai juara pertama lomba penulisan sejarah dan tradisi lokal Nganjuk tingkat SMP/MTs. Siswi kelas IX ini berhasil mempertahankan karya tulisnya yang berjudul “Menggali Potensi Tradisi Angon Putu sebagai Obyek Wisata Budaya Nganjuk,” di hadapan juri lomba yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Keemudaan Olahraga dan Kebudayaan (Disparporabud) Kabupaten Nganjuk tahun 2018.

Wanda berhasil menyisihkan 9 nominator lain yang sama-sama mempresentasikan masing-masing karya tulisnya di hadapan tiga juri sekaligus, di aula Disparporabud Nganjuk, Selasa, 11 Desember 2018.

Wanda yang tampil memukau lewat sajian video prosesi tradisi anggon putu, berlatar lokasi di Desa Petak, Kecamatan Bagor, sempat mencuri perhatian ketiga juri yang mewawancarai siang itu. Hasilnya, ketiga juri, masing-masing menorehkan nilai sangat baik dengan total 545

Penguasaan materi dalam menjawab pertanyaan juri dari Wanda mengungguli Lintang Guretno peserta dari SMPN 1 Pace sebagai juara dua dengan total nilai 466

dan Oktavian Bagas P. siswa SMPN 1 Kertosono sebagai juara tiga dengan total nilai 464.

Menurut Wanda, hal unik dalam Tradisi Angon Putu adalah suatu tradisi menggembala putu atau cucu sebanyak 25 orang, layaknya menggembala binatang ternak oleh seorang kakek dan nenek. Hanya saja, tempat untuk menggembala bukannya di tanah lapang atau persawahan, melainkan di pasar atau suatu tempat yang sudah dipersiapkan.

Upacara adat atau tradisi angon putu yang diselenggarakan oleh keluarga Bapak Sakidjo dengan ibu Poni tersebut diawali dengan perkenalan pihak keluarga dilanjutkan dengan ritual sungkeman,  dimulai dari anak tertua hingga termuda, menantu, cucu, dan cicit.

Selama prosesi sungkeman, ibu poni,  istri bapak Sakidjo sembari memberikan bekal berupa uang saku kepada seluruh anak dan cucunya.

Setelah ritual sungkeman selesai, dilakukan pemotongan tumpeng oleh anak tertua untuk diberikan kepada bapak Sukidjo. Nasi tumpeng lengkap dengan lauk pauknya disuapkan kepada ibu poni. Sisanya disuapkan kepada seluruh anak dan cucu hingga cicitnya.

Ritual selanjutnya adalah tabur bunga setaman. dilakukan oleh simbah kepada seluruh anak. Menantu, cucu dan cicitnya. Tabur bunga setaman ini memiliki mitos, dapat melancarkan rejeki, dimudahkan dalam menghadapi segala hal, diberikan kesehatan, serta umur panjang.

Puncak  ritual angon putu adalah berkeliling kampung, seperti orang mengembala ternak. Seluruh  anak, menantu, cucu dan cicitnya berkeliling kampung dengan berjalan kaki, sementara mbah Sakidjo dan istrinya naik kereta kuda.

Kesembilan anaknya masing-masing membawa cemethi,  sedangkan anak perempuan dan menantunya membawa bakul berisi jajan pasar untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang yang mereka temui di tepi jalan.

Sementara para cucu dan cicitnya dibiarkan menghabiskan uang saku yang diberikan untuk membeli barang atau jajan di warung. Ada tiga warung yang dituju, yakni warung yang berjualan jajan, barang,  dan minuman dawet.

Sebagai ungkapan kegembiraan, juga  dilangsungkan berbagai hiburan rakyat, diantaranya pertunjukan seni tradisional reog Ponorogo.

Supianto, Kepala Disparporabud Nganjuk menyampaikan, sedikitnya ada 41 peserta lomba penulisan sejarah dan tradisi lokal Nganjuk yang ikut lomba dari tingkat SMP/MTs se kabupaten Nganjuk. Sedangkan untuk jenjang SLTA ada 26 peserta. Dari masing-masing jenjang, diambil 10 besar untuk mengikuti penilaian selanjutnya.

“Peserta yang masuk 10 besar, masih mengikuti penilaian lagi, presentasi dan wawancara di hadapan juri,” terang Supianto.

Reporter : Sukadi

Editor : Yuniar N.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *