Berita Utama Edukasi Lintas Daerah News

Hadiri HUT PGRI Jatim, Ribuan Guru Nganjuk Tinggalkan Jam Ngajar

 NGANJUK – ANJUKZONE – Puncak peringatan hari guru nasional (HGN) 2018 tingkat Provinsi Jatim dan Hari Aksara Internasional (HAI), serta HUT ke 73 PGRI tahun ini dipusatkan di Kabupaten Sumenep, Madura. Diperkirakan, sekitar 55 ribu guru memenuhi di Stadion A. Yani, Penglegur, Sumenep, Sabtu, 17 November 2018. Mereka datang dari seluruh daerah kabupaten di Jawa Timur.

Tidak terkecuali, ribuan aparatur sipil negara (ASN) guru dan kepala sekolah asal lingkup Dinas Pendidikan Kabupaten Nganjuk juga meninggalkan tugas utama mengajarnya, sekadar menghadiri upacara di pulau garam itu.

Kontan aksi ribuan anggota PGRI asal Nganjuk tersebut mendapat kritikan keras dari salah satu Lembaga Swadaya Masyarat (LSM) Forum Peduli Guru (FPG) Kabupaten Nganjuk.

Supriono, Ketua LSM FPG Kabupaten Nganjuk menyebut, aksi meninggalkan tugas mengajar besar-besaran para guru dan kepala sekolah asal Nganjuk tersebut dinilai sangat merugikan dunia pendidikan. Mereka meninggalkan tugas utama mengajarnya, dan membiarkan kelasnya kosong.

“Padahal, seperti yang sudah-sudah, para guru Nganjuk setiap menghadiri HUT PGRI, di sana hanya kluyuran sambil selfie-selfie, karena kapasitas stadion terbatas, tidak semua yang datang dapat tertampung dalam stadion,” ujar Supriono, Sabtu, 17 November 2018.

Supriono, Ketua LSM FPG Kabupaten Nganjuk (foto:pri)

Supriono mencatat, dari 20 kecamatan di Nganjuk, rata-rata memberangkatkan satu hingga dua bus. Bila satu bus berisi 50 guru, berarti dunia pendidikan di Nganjuk telah ditinggalkan sekitar 2000 guru dari semua jenjang pendidikan.

“Kalau tujuannya hanya menghadiri upacara, sebenarnya bisa diwakili secara bergantian dari salah satu kecamatan. Sehingga, jumlahnya tidak mencapai ribuan guru yang meninggalkan tugas mengajar,” tegas ketua LSM yang getol mengkritisi adanya penyimpangan dunia pendidikan di Nganjuk ini.

Menurut Supriono, seharusnya Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Nganjuk, M. Yasin bertanggungjawab agar ribuan guru tidak berbondong-bondong meninggalkan tugas mengajar hanya sekadar menghadiri upacara HUR PGRI di Sumenep.

“Harusnya Kadinas Pendidikan ikut bertanggungjawab, membuat surat edaran, yang berangkat ke Sumenep dibatasi,” ujarnya.

Dampaknya, lanjut Supriono, di setiap ranting memberangkatkan rata-rata satu bus yang dikoordinir oleh korwil yang merangkap sebagai Ketua PGRI di tingkat kecamatan.

“Guru-guru mau menolak tidak berani, karena yang mengkoordinir korwil-nya sendiri,” tukas Supriono.

Ketua PGRI Cabang Nganjuk, Sujito menyampaikan, tahun ini, Kabupaten Nganjuk tidak mengirimkan anggota PGRI untuk menghadiri upacara peringatan HUT PGRI tingkat Jawa Timur dengan leluasa. Tiap kecamatan rata-rata dibatasi satu bus dengan kapasitas sekitar 60 orang.

“Tahun ini dibatasi hanya satu bus tiap kecamatan. Hitung saja, kalau satu bus berisi 60 orang kali 20 kecamatan, ada seribu lebih,” terang ketua PGRI Cabang Nganjuk yang juga menjabata Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Nganjuk.

Terpisah, Wakil Bupati Nganjuk, Marhaen Jumadi menyayangkan, peringatan HUT PGRI tingkat Jawa Timur tahun ini harus mengerahkan para guru hingga ribuan orang.

“Ini pilihan yang tidak pas. Kalau hanya upacara, bisa dilakukan di Nganjuk, sehingga tidak mengganggu jam mengajar,” sentil wakil Bupati Nganjuk yang akrab disapa Kang Marhaen.

Reporter : Sukadi

Editor: Yuniar N.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *