Uncategorized

Laskar Pu Sindok, Prahalaya Sima Anjukladang ( Kerikil Gunung Merapi – Episode 7)

Suasana Bumi Medang terus mencekam. Suara gemuruh dari letupan Gunung Merapi tiada henti-hentinya. Awan panas membias ke seluruh kota dan desa. Sawah, ladang dan pepohonan terus meronta kesakitan. Binatang ternak dan unggas berteriak minta perlindungan. Namun percuma, setiap kehidupan terpaksa menyelamatkan diri, memburu tempat yang lebih aman dari amukan sang badai.

Sindok terpaksa kembali ke istana kotaraja diam-diam di paruh malam. Para telik sandi kepatihan telah menjalankan tugasnya masing-masing. Tanpa komando dan isyarat, mereka mendobrak pintu-pintu penduduk dan menyuruh keluar rumah, lari sekencang-kencangnya ke arah timur. Yang lain sudah siap membimbing jalan menuju hutan belantara ke arah Gunung Wilis. Selebihnya merajut segala peralatan dan harta benda sebagai bekal di perjalanan. Rakryan Bawang Dyah Srawana, ayahanda Dyah Kebi, membujuk putrinya segera naik keretanya. Sementara Sang Pamgat Susuhan dengan wajah tertutup cadar, memaksa Rakryan Mangibil melompat ke punggung kuda. Sedangkan Sindok sendiri mengendap-endap di tengah badai gemuruh letupan Gunung Merapi menuju tempat tidur Dyah Wawa. Tidak sulit bagi Sindok menembus tembok kamar sang raja. Kesaktian yang dimilikinya, Sindok dapat masuk kamar Dyah Wawa lewat sorot cahaya lampu. Di tengah dua anak manusia, Dyah Wawa yang sedang tidur pulas di samping sang permaisuri, tergeletak sebuah mahkota kerajaan Medang. Secepat dentuman suara muntahan lahar Gunung Merapi, tangan Sindok menyambar mahkota kerajaan dan dibawa lari. Sindok keluar melewati jalan menuju Gedung Pusaka. Dia mencari dua pusaka agul-agul istana Medang. Tiba-tiba terlihat kelebat sosok manusia bercadar. Sindok menahan nafas sejenak menuju balik rerimbunan – lewat lorong rahasia.

”Dia pasti bukan penjaga gedung pusaka kerajaan Medang atau telik sandi yang kuutus, saya hafal betul orang-orang Medang, ” gumamnya. ”Lantas siapa mereka, dan mau apa?.”

Sindok dengan leluasa melihat dua orang asing itu yang sedang mengamati-amati keadaan sekitar gedung pusaka. Satunya terlihat mondar-mandir berjaga di luar.

”St..stt…!, dua pusaka kerajaan itu ada di dalam gedung sini. Ini pasti gedung pusaka,” bisik salah satu orang asing itu lirih.

”He…!, siapa itu…?!,” tiba-tiba terdengar suara penjaga gedung pusaka dari arah belakang.

Seketika dua orang bercadar itu lari tunggang-langgang. Sesaat kemudian berdatangan para prajurit lain yang sedang piket malam itu. Menyusul Dyah Wawa di antara kerumuan para prajurit istana kebingungan setelah mengetahui dua sosok manusia bercadar berada di sekitar gedung pusaka.

Di depan pintu gedung pusaka, Dyah Wawa berusaha memerintahkan membuka pintu yang masih terkunci rapat. Sayang sekali, kondisi pintu tidak bisa dibuka, telah ada orang yang sengaja menguncinya dari dalam.

“Sudah berkali-kali pintu itu berusaha kita dobrak gusti raja, namun tidak juga terbuka” kata Bekel Wulangsih, salah satu pemimpin penjaga gedung pusaka malam itu.

“Kerahkan lebih banyak lagi prajurit untuk mendobraknya, kalau perlu kau hancurkan saja pintu itu dengan segala cara, aku segera ingin tahu apakah senjata agul-agul kerajaan masih utuh,” perintah Dyah Wawa.

Sendhika gusti,” jawab Bekel Wulangsih yang kemudian segera menyuruh lebih banyak lagi prajurit untuk membobol pintu gedung pusaka.

Setelah puluhan orang penjaga gedung pusaka mendobrak pintu dengan sebatang kayu glugu besar, akhirnya pintu gudang pusaka yang terbuat dari kayu tebal itupun berhasil dibobol paksa. Begitu melihat pintu telah terbuka, Raja Dyah Wawa terkejut melihat dua pusaka agul-agul raib, padahal pusaka yang lainnya tetap utuh di tempatnya.

“Keparat, seseorang telah mencuri pusaka kerajaan,” teriak Dyah Wawa dengan amarah meluap-luap

Sementara Bekel Wulangsih yang berdiri di sampingnya juga merasa heran dengan keadaan itu. Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri ada dua orang asing telah menysup ke istana kerajaan namun keburu dipergoki penjaga sebelum bisa masuk gudang pusaka. Kedua orang itu telah lari entah kemana.

“Mereka pasti berhasil meloloskan diri lewat balik gedung pusaka ini, gusti” kata Bekel Wulangsih.

“Bongkar semua yang ada di ruangan ini, mungkin dia masih sembunyi di balik guci-guci itu!,” bentak Dyah Wawa terlihat kesal.

Sendika gusti,” jawab semua prajurit serempak.

Semua prajurit yang ada tanpa menunggu perintah lagi segera mengobrak-abrik semua benda yang ada dalam ruangan itu. Guci-guci yang tertata rapi dibongkar, dirobohkan hingga berantakan. Namun tidak ditemukan sosok manusia yang telah membawa kabur dua pusaka handalan istana kerajaan Medang.

“Aku menemukannya… ada lubang di bawah lemari ini,” teriak salah satu prajurit yang tengah membongkar lemari di pojok ruangan gudang pusaka itu. Teriakannya  menarik perhatian semua orang yang ada di ruangan  termasuk raja Dyah Wawa dan Bekel Wulangsih. Bergegas keduanya menuju tempat di mana prajurit itu berdiri.

Terlihat sebuah lubang menganga yang lebarnya hanya cukup untuk satu badan berbentuk melingkar.

“Ambilkan aku obor, kita masuki lorong ini…Kau duluan,” teriak Bekel Wulangsih menunjuk ke arah prajurit yang tadi pertama menemukan lubang itu.

Dengan muka pucat pasi prajurit itu, memasuki lobang pintu sambil memegang sebuah obor. Kemudian berturut – turut di belakangnya Bekel Wulangsih, raja Dyah Wawa dan beberapa orang prajurit sambil tetap siap siaga melindungi jujungannya.

Belum genap langkah rombongan Raja Dyah Wawa memasuki lorong bawah tanah, tiba-tiba tanah dan dinding lorong itu bergetar hebat, diawali  tanah bagian depan runtuh hingga membuat prajurit yang berjalan paling depan tak mampu lagi menyelamatkan diri, terkubur. Getaran dari arah Gunung Merapi kembali mengamuk.

“Mundur…! mundur…!, balik ke tempat semula…!,” teriak beberapa orang  dari arah depan. Beberapa prajurit yang berada di depan dan belakang Dyah Wawa dengan sigap bergerak menyelamatkan rajanya.

“Bangsat…!, ini jelas-jelas jebakan…, benar-benar pencuri itu tahu persis seluk-beluk kerajaan. Aku sendiri tidak tahu kalau dalam gudang pusaka ini dipasang lobang jebakan itu. Orang ini pasti tahu masalah pusaka, tapi siapa?,” gerutunya.

Namun terlambat, apa pun yang telah diperbuat Dyah Wawa beserta rombongan prajuritnya yang berusaha mendapatkan kembali dua pusaka kerajaan yang dicuri orang, karena Sindok telah lebih dulu menyelamatkan dan membawa kabur bersama mahkota kerajaan. (Bersambung episode 8)

Laskar Pu Sindok, Prahalaya Sima Anjukladang ( Kerikil Gunung Merapi – Episode 6)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *