Berita Utama Budaya Entertainment

Laskar Pu Sindok, Prahalaya Sima Anjukladang ( Kerikil Gunung Merapi – Episode 6)

Muntahan lahar Gunung Merapi terus mengamuk tiada siuman. Buncahan lahar terus menggulung seluruh isi kotaraja. Membabi buta seluruh penduduk Medang yang enggan mengungsi. Merajam dan mengoyak-koyak tubuh semua kehidupan yang masih ada. Istana kotaraja Medang terendam lahar dan gundukan batu kerikil panas dari sang mulut raksasa Gunung Merapi. Ke arah selatan menumpuk –  membentuk Gunung Gendol dan hamparan Bukit Menoreh. Meluber hingga menyumbat aliran sungai Bogowonto, Progo, dan Elo. Untungnya mahkota dan dua pusaka kejayaan istana Medang terselamatkan oleh tangan Sindok.

 DI balai agung istana Medang tampak sepi. Tidak ada paseban agung maupun latihan prajurit di pelataran istana kerajaan pagi itu. Hari terlihat lengang, tanpa ada aktivitas para nayakapraja atau pun para abdi dalem seperti biasanya – yang selalu sibuk dengan urusan dalam istana. Sementara bunyi kicau burung prenjak bersaut-sautan di atap teras pendapa agung. Sementara suasana di luar istana, rakyat Medang sangat merisaukan keselamatan jiwanya. Teror Gunung Merapi terus mencekam, menyusul krisis ekonomi dan gejolak keamanan Medang. Selalu saja terjadi bentrok dan adu fisik di antara rakyat Medang sendiri. Perampokan dan hasutan mudah terjadi di mana-mana. Seorang mata-mata Kerajaan Sriwijaya telah memainkan perannya untuk segera melumpuhkan Medang. Segala upaya dilakukan agar Medang segera lumpuh dan tunduk di bawah kendali Sriwijaya.

Ironisnya, Dyah Wawa tidak segera turun dan mengambil sikap mengatasi krisis yang terus menerus. Waktu setahun terus berjalan seiring masa pemerintahan Dyah Wawa. Namun perubahan kesejahteraan rakyat masih jauh dari harapan. Justru yang terjadi banyak rakyat kelaparan, penyakit merajalela, banyak ternak dan pertanian mati akibat udara panas dari arah Gunung Merapi. Di tengah kegalauan rakyat Medang, Sindok berusaha menyibak tirai krisis yang menimpa. Melewati pintu gerbang istana Medang Sindok dihampiri dua prajurit jaga.

”Mohon ampun tuan Mapatih Sindok, dengan senang hati hamba menyampaikan maksud kehadiran tuan ke hadapan Prabu Dyah Wawa,” sapa salah satu prajurit jaga pintu gerbang istana kepada Sindok yang hendak menghadap raja Dyah Wawa.

”Tolong haturkan di hadapan Kanjeng Prabu Dyah Wawa, Sindok hendak menghadap,” jawab Sindok bersabar.

Sendika dhawuh Mapatih Sindok, mohon bersabar.”

Sesaat kemudian, prajurit jaga lari tergopoh-gopoh menyampaikan perintah sang raja untuk segera menghantarkan Sang Mapatih Sindok menghadap.

Ampun seribu ampun sinuwun prabu Dyah Wawa sesembahan hamba. Hamba telah berani menghadap tanpa diundang,” ucap Sindok merendah sambil duduk bersimpuh di hadapan Dyah Wawa. Di belakangnya dua prajurit jaga mendampingi.

”Silakan Mapatih Sindok, tidak baik terlalu merasa bersalah. Saya merasa senang Mapatih sudi datang menghadap. Barang kali ada sesuatu yang sangat berati untuk segera saya terima,” ujar Dyah Wawa menandaskan.

”Mohon ampun gusti bila ujaran hamba terlalu berlebihan. Hamba melihat kondisi rakyat Medang yang sangat memprihatinkan dan segera membutuhkan sikap dan kearifan dari yang mulia raja,” Sindok mengawali kata-katanya.

”Maksud patih ?”

”Berdasarkan laporan yang hamba terima dari para telik sandi kepatihan, sudah setahun berjalan ini rakyat Medang hidup menderita dalam ketakutan. Teror Gunung Merapi terus mencekam, menyusul krisis ekonomi akibat gagal panen dan gejolak keamanan Medang. Selalu saja terjadi bentrok dan adu fisik di antara rakyat Medang sendiri. Para bupati di pesisir utara banyak yang mbalela, tidak lagi mau membayar upeti kepada Sang Prabu. Perampokan dan hasutan yang dipimpin Begal Maryuti terjadi di mana-mana. Seorang mata-mata Kerajaan Sriwijaya berhasrat segera melumpuhkan Medang. Segala upaya dilakukan agar Medang segera lumpuh dan tunduk di bawah kendali Sriwijaya. Sepasukan perang selalu gagal membawa kemenangan menghadapi bala tentara Sriwijaya di daerah perbatasan, karena tidak didukung oleh para bupati dan raja telukan. Yang menyedihkan, banyak rakyat kelaparan, penyakit merajalela, ternak dan pertanian mati akibat udara panas dari arah Gunung Merapi,” beber Sindok.

”Saudaraku Patih Sindok, kabar yang patih sampaikan itu terlalu mengada-ada. Selama ini, saya tidak pernah mendengar secuwil pun kabar bohong itu. Lantas, sejauh mana yang patih perbuat selama ini. Datang menghadap hanya membawa kabar kesedihan,” ujar Dyah Wawa mulai berang mendengar laporan Sindok.

”Mohon ampun tuanku. Hamba bicara benar. Hamba sendiri telah menyaksikan keluhan minta tolong dari rakyat Medang. Hamba mohon paduka segera bertindak.”

”Terus saya harus bertindak apa?,” bentak Dyah Wawa.

”Rakyat Medang harus selamat dari semuanya paduka. Kita ungsikan mereka segera termasuk seluruh isi istana dikosongkan.”

”Maksudmu isi istana itu saya dan permaisuri,…iya…?”

Sindok hanya terdiam mendengar Dyah Wawa membentak dan menolak untuk segera mengosongkan istana.

”Tidak mungkin terjadi…! Itu semua omong kosong! Sadumuk bathuk sanyari bumi, sumpahku tanah Medang tetap saya pertahankan. Tidak pernah terjadi Dyah Wawa memindahkan istana Medang,” lanjut Dyah Wawa.

”Ampun…beribu ampun paduka bila semuanya telah membuat hati paduka tidak berkenan. Sesungguhnya apa yang hamba sampaikan sebagaimana pernah disampaikan Sri Maharaja Dyah Balitung. Hamba mohon pamit,” pungkas Sindok.

Segera Sindok meninggalkan istana kotaraja menuju kepatihan. Dua istri setianya sudah menunggu di taman hapsari. Begitu Sindok datang dengan wajah murung segera Dyah Kebi menghampiri.

”Mohon ampun kanda bila dinda telah membuat hati kanda bersedih. Hukuman apa yang patut dinda terima. Jiwa raga dinda hanya semata-mata dinda abdikan untuk kanda, percayalah!,” hibur Dyah Kebi didampingi Mangibil.

”Dinda Dyah Kebi dan  Mangibil kekasih kanda. Hidup tanpa arti bila melihat rakyat Medang hidup sengsara. Dyah Wawa, raja Medang sudah tidak mempercayai ucapan kanda. Yang kanda pikirkan keselamatan rakyat Medang dari segala marabahaya,” ucap Sindok kepada kedua istrinya usai menghadap raja Wawa.

”Dinda hanya menurut sabda kanda. Apa pun yang kanda sabdakan kepada dinda adalah dharma. Dinda rela lakukan itu semua.”

”Sebelum terbit matahari, rakyat Medang harus sudah keluar dari badai yang menimpa. Istana Medang harus kita selamatkan dan kita baru bisa  hidup tenteram bersama rakyatku yang setia.” (Bersambung episode 7)

Laskar Pu Sindok, Prahalaya Sima Anjukladang ( Demi Tahta – Episode 5)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *