Budaya Entertainment

Laskar Pu Sindok, Prahalaya Sima Anjukladang ( Demi Tahta – Episode 4)

Kita tidak boleh gegabah mengambil langkah sebelum mendapat perintah dari Sang Maharaja Dyah Wawa, meskipun kekuatan prajurit Medang berimbang. Namun strategi dan etika perang harus tetap dipegang teguh. Kalau bisa kita mengalahkan musuh tanpa harus mengerahkan prajurit perang, strategi itu yang sedang saya pikirkan saudaraku. Saya akan menghadap Sang Maharaja Dyah Wawa untuk segera memindahkan istana kerajaan Medang ke timur untuk mengelabuhi musuh sewaktu-waktu menyerang. Namun usaha ini semua harus dilakukan dengan sangat rahasia jangan ada di antara kita yang membocorkan rahasia ini. Kita berusaha membujuk Sang Maharaja.

Sebelum menuju istana kotaraja, saya membutuhkan beberapa orang telik sandi handalan untuk memastikan kondisi tentara Sriwijaya dan sekutunya. Bila suasana sudah memungkinkan, seluruh rakyat Medang yang setia harus ikut bergerak ke timur mengikuti aliran Bengawan Solo, sebagian lewat darat sebelum matahari terbit. Kita jangan sampai kedahuluan prajurit Sriwijaya menyerang istana kotaraja.

”Kami sendika dhawuh Sang Mapatih Sindok,” sambung Ki Buyut Manggali.

Ada delapan orang yang disiapkan sebagai telik sandi. Mereka adalah Sahasra, Srawana, Madhura Lokaranjana, Buyut Manggali, Jatu Ireng, Susuhan, Sahitya, dan Kundo.

”Saya ingin bicara dulu dengan para telik sandi, yang lain boleh istirahat,” perintah Sindok yang sudah tidak sabar ingin mengakhiri konflik di Medang.

Sembilan prajurit pilihan sudah siap menerima petuah dari Sindok di ruang tersembunyi – tanpa diketahui prajurit dan siswa yang lain. Suasana pembicaraan yang penuh kehati-hatian telah membawa suasana pertemuan terasa sunyi. Tiada kata dan sapa terucap dari para prajurit telik sandi. Mereka hanya terdiam dan sendika dhawuh menerima perintah untuk menyelamatkan istana Medang dari amukan badai Gunung Merapi dan rong-rongan mata-mata pasukan Sriwijaya.

Satu per satu para telik sandi pilihan menghadap Sindok dalam ruangannya. Tidak satu dengan yang lain pun mengetahui apa yang telah dibisikkan oleh Sindok saat telik sandi pertama, Ki Buyut Manggali dipanggil masuk ruangannya setelah itu disuruh pergi lewat pintu rahasia.

Saudara yang terpilih dari sepuluh ribu prajurit di Medang. Di tangan saudaraku nasib bangsa Medang ini terselamatkan. Hidup dan mati mereka ada di tangan saudaraku. Tindakan cepat dan tepat segera kita lakukan sebelum Medang digempur habis oleh musuh dan diluluh lantakkan oleh kemurkaan Gunung Merapi yang sedang marah, serta kelaparan akibat persediaan makan habis. Kemurkaan Yang Maha Kuasa sudah pada ujungnya, menunggu saat yang tepat dilampiaskan kepada rakyat Medang. Entah dosa apa yang telah diperbuat trah Rakai Pikatan hingga Sang Pencipta menaruh hukuman sangat berat.

Saudaraku…menyebarlah ke seluruh pelosok negeri, mencari sisik melik dalam segala hal, mulai dari urusan politik, sosial, ekonomi, budaya, agama dan keamanan di negeri Medang. Katakan kepada rakyatku untuk menahan diri dan bersabar menghadapi cobaan. Sampaikan salamku agar hati mereka tenang. Gerak langkah saudaraku jangan sampai ketahuan oleh siapa saja, bila kerahasiaan ini terungkap lebih baik aku mati di tangan-tangan saudaraku, aku berjanji. Anak, istri ataupun kolega terdekat tidak pantas menerima kabar ini. Usaha yang akan kita lakukan adalah menyelamatkan negeri ini. Catat semua yang ada jangan ada yang terlewatkan. Berikan susu kepada bayi yang baru lahir, sebarkan kepeng kepada rakyatku yang kelaparan. Ucapkan salam bagi rakyatku yang sedang lewat agar hati mereka teguh dan bersabar, aku tetap memikirkannya.

Saudaraku, waktu satu tahun cukuplah untuk memindahkan istana Medang ke arah timur agar negeri ini selamat dan hidup tentram selamanya. Di sana kehidupan lebih menjanjikan, rakyatnya lebih bersahaja, jauh dari kejaran musuh dan Medang bisa leluasa menjalin hubungan perdagangan dengan dunia luar di tepian Bengawan Brantas. Saudaraku dan rakyat Medang bisa hidup tenteram bersama anak dan istri.

Saudaraku, sampaikan kepada rakyatku dan orang-orang yang belum mengenali aku dengan sebutan ”Bala Sewu,” biar mereka paham dan hatinya tenang setelah mengenang perbuatan kita.

Segera menyebarlah dan kita langsung bergerak ke arah timur manakala ada tanda dari saya. Dan jangan lupa tinggalkan pesan sandi kita ”Bala Sewu,” kepada rakyatku. Aku segera memohon Sang Maharaja Dyah Wawa untuk rela meninggalkan Medang menuju tepian Bengawan Brantas.

Suasana hening telah pudar, menyusul perintah Sindok untuk segera bubar dari pertemuan siluman itu. Satu per satu dari pintu yang berbeda para telik sandi keluar dari ruang kecil di sudut padepokan. Mereka masing-masing keluar sambil membawa sebuah bumbung kecil seukuran telunjuk jari dengan panjang sejengkal telapak tangan. Dalamnya yang berlobang telah berisi daun lontar berbeda dari satu telik sandi dengan yang lainnya. ”Simpan dan jaga baik-baik apa yang ada dalam bumbung ini, saudaraku boleh membukanya bila keadaan sudah aman,” pesan Sindok kepada masing-masing telik sandi sambil memberikan bumbung.

Mereka sudah paham akan pekerjaan berat menyelamatkan istana Medang di bawah satu komando Sindok. Sedangkan Sindok sendiri pergi ke istana kotaraja Medang tanpa pengawalan seorang prajurit istana maupun tukang pukul. Semua dilakukan serba cepat. (Bersambung episode 5)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *