Budaya Entertainment

Laskar Pu Sindok, Prahalaya Sima Anjukladang ( Demi Tahta – Episode 3)

USAI bertemu kedua istrinya semalam, Sindok mulai teringat tugas yang begitu berat. Sebuah tugas menyelamatkan nasib rakyat Medang dari amukan Gunung Merapi dan koyakan Prajurit Sriwijaya beserta sekutunya. Bergegas Sindok menuju padepokan di desa Kajurugusalyan. Di sebuah desa kecil ini Sindok biasa menggembleng para prajurit pilihan dengan berbagai ilmu kanoragan dan wejangan. Dari padepokan ini pula tempat membuat berbagai jenis senjata perang. Dari tangan para pu pilihan telah terkumpul ribuan senjata siap perang. Banyak prajurit handal kerajaan yang digembleng dari ”Kawah Candradimuka” Padepokan Kajurugusalyan ini.

Melihat kelebat Sindok, Ki Buyut Manggali menyambut kehadiran Sang Guru.

”Hamba sendika dhawuh menjalankan perintah sinuwun Mapatih Hino,” pimpinan Padepokan  Kajurugusalyan menyambut kehadiran Sindok di depan pintu gerbang, diikuti ratusan prajurit dan cantrik yang terus berlatih aji jaya kawijayan.

”Jangan terlalu merendah wahai saudaraku. Saya bukan seorang pejabat kerajaan seperti yang saudaraku pikirkan. Saya tetap rakyat biasa, sebelum jabatan Mapatih Hino itu melekat pada tubuhku. Rasanya tidak pantas aku menyandang gelar itu kalau masih melihat rakyatku hidup menderita di bawah tekanan dan perampasan hak oleh seorang penguasa kerajaan. Harusnya saudaraku semuanya hidup tenteram tanpa ada rasa was-was dan takut sedikit pun,” hibur Sindok yang melihat siswanya mulai menaruh rasa sungkan terhadapnya.

”Tidak tuanku. Kami hanya sebagai hamba sahaya yang pantas menerima hukuman setimpal derajat hamba bila kami melakukan kelalaian dan kesalahan terhadap negara. Kami bisa hidup tenang, makan dan minum kenyang dari Bumi Medang tuanku. Bila tidak ada tuanku, kami bukan berarti apa-apa,” ucap Ki Buyut Manggali merendah.

”Sudah …sudah… jangan diteruskan! Mari kita duduk berdampingan saling mendengar dan berucap di tengah pelataran pendadaran sana. Akan aku sampaikan apa yang sudah aku terima dan lihat selama saya berada di istana kotaraja Medang,” bimbing Sindok yang kian tidak tega melihat kecemasan para cantrik dan prajurit setianya.

Sindok yang sejak lama meninggalkan padepokan Kajurugusalyan guna membantu Dyah Wawa menghancurkan Dyah Tulodhong membuat hati para siswanya penasaran. Mereka saling berebut ingin mengetahui ikhwal yang digenggam dalam batin Sindok. Tidak sewajarnya seorang mahamantri kerajaan harus duduk berjajar dengan rakyat jelata tanpa alasan berarti. Sindok terus mendesak para siswanya untuk menata tempat duduknya. Mereka duduk melingkar menghadap kepada satu titik seorang Mahapatih Hino Sindok yang baru saja dinobatkan. Ratusan pasang mata menatap penuh harap dari seorang pemimpin. Tidak sepatah kata pun terlontar saat Sindok mulai bicara. Buyut Manggali yang duduk di samping Sindok mulai memberi isyarat sebuah sarasehan dimulai. Di kanan-kirinya diapit para prajurit pilihan; Sahasra, Srawana, Madhura Lokaranjana, Buyut Manggali, Jatu Ireng, Susuhan, Sahitya, dan Kundo.

”Saudaraku yang begitu mulia di hadapan Gusti Yang Maha Agung. Apa pun yang telah kami lakukan untuk membantu mengalahkan Dyah Tulodhong sesungguhnya hanya sebuah siasat dari seorang Dyah Wawa yang berambisi berkuasa. Namun cara yang ditempuh adalah keji dan terpaksa membutuhkan tumbal dari rakyat jelata yang tidak bersalah. Mereka terpaksa mati di medan laga hanya untuk mempertahankan bumi pertiwi. Mereka adalah saudara-saudara kita sendiri,” terang Sindok mengawali pembicaraannya.

Sesungguhnya, lanjut Sindok, Dyah Wawa tidak memiliki darah keturunan untuk menjadi raja Medang. Dyah Wawa mengaku sebagai anak Kryan Landheyan sang Lumah ri Alas – putra Kryan Landheyan yang dimakamkan di hutan. Nama ayahnya ini mirip dengan Rakryan Landhayan, yaitu ipar Rakai Kayuwangi yang melakukan penculikan dalam peristiwa Wuatan Tija dulu.

Saudara perempuan Rakryan Landhayan yang menjadi istri Rakai Kayuwangi bernama Rakryan Manak, yang melahirkan Dyah Bumijaya. Ibu dan anak itu suatu hari diculik Rakryan Landhayan, namun keduanya berhasil meloloskan diri di desa Tangar. Anehnya, Rakryan Manak memilih bunuh diri di desa Taas, sedangkan Dyah Bumijaya ditemukan para pemuka desa Wuatan Tija dan diantarkan pulang ke hadapan Rakai Kayuwangi.

Rakryan Landhayan sang pelaku penculikan akhirnya tertangkap oleh tentara Medang dan dibunuh di dalam hutan. Saat itu Dyah Wawa masih kecil. Jadi, Dyah Wawa merupakan sepupu dari Dyah Bumijaya, putra Rakai Kayuwangi.

Dengan demikian, Dyah Wawa tidak memiliki hak atas takhta Dyah Tulodhong. Dyah Wawa melakukan kudeta untuk merebut takhta Kerajaan Medang.

”Lantas apa yang bisa hamba lakukan terhadap Medang, Sinuwun Mapatih?,” sela Ki Buyut Manggali.

Saya hanya memikirkan keselamatan rakyatku…, saudaraku. Rakyat Medang yang selalu dihantui rasa was-was dan ketakutan oleh kemurkaan Gunung Merapi yang dari hari ke hari terus menampakkan kemarahannya. Letusan dan semburan awan panas terus membubung ke angkasa dan panasnya menyengat tubuh hingga banyak kehidupan dan rajakaya mati terbunuh. Rakyat Medang lari pontang-panting menyelamatkan diri. Belum lagi tekanan dari bala tentara Kerajaan Sriwijaya terus memaksa Medang untuk tunduk menjadi jajahannya. Para telik sandi Kerajaan Medang banyak mati terbunuh dan disiksa oleh tentara Sriwijaya saat tertangkap. Keserakahan tentara Sriwijaya terasa lebih beringas ketimbang semburan awan panas Gunung Merapi saudaraku. Lebih-lebih usahanya telah mendapat bantuan dari sekutunya – kerajaan Wura-wari dari Luwaram – semakin menambah kesengsaraan rakyat Medang. Perekonomian banyak yang disabotase. Lumbung-lumbung cadangan makanan banyak yang dibakar, dan kapal-kapal dagang di aliran Bengawan Solo telah dirusak oleh musuh. Mereka sudah mendirikan tenda-tenda di balik Gunung Merapi dengan peralatan senjata lengkap siap menyerang Medang.

”Apa tidak sebaiknya kita mendahului menyerang pasukan Sriwijaya dan antek-anteknya tuanku Sindok,” Ki Buyut Manggali menyarankan. (Bersambung episode 4)

Laskar Pu Sindok, Prahalaya Sima Anjukladang ( Demi Tahta – Episode 2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *