Budaya Entertainment

Laskar Pu Sindok, Prahalaya Sima Anjukladang ( Demi Tahta – Episode 2)

Kekuasaan telah membutakan mata hati seorang pejabat istana. Dia tega merebut kekuasaan dan menghabisi nyawa sang padukanya sendiri. Duh Gusti, dosa apa yang sedang Engkau timpakan kepada rakyat Mataram hingga kini. Cobaan ini teramat berat, kami tidak kuasa menanggungnya. (Rakai Hino Pu Ketuwijaya)

Rakai Sumba segera mengumpulkan para prajurit yang setia kepadanya di istana Medang yang tinggal puing-puing itu. Di sampingnya Rakryan Halu Sindok sudah bersiap menerima perintah dan petuah dari Sang Rakai Sumba, diikuti sekelilingnya para pejabat tinggi istana kotaraja bersimpuh menundukkan kepala. Di luar istana kotaraja menunggu sabda apa yang bakal diucapkan oleh Sang Rakai Sumba.

”Wahai kawulaku yang setia sepenuh tulus. Yang Maha Adil telah berbaik hati kepada kita yang masih hidup. Kini Singgasana Medang sudah ada di genggaman kita. Di hadapan seluruh kawula Medang dan para petinggi kotaraja yang setia, perkenankanlah aku menobatkan diri menjadi Raja sesembahan seluruh kawula Medang di Bumi Mataram untuk selama-lamanya. Saya adalah Sri Maharaja Rakai Sumba Dyah Wawa Sri Wijayalokanamottungga, juga  Dyah Wawa. Gelarku adalah Rakai Pangkaja,” ikrar Rakai Sumba di hadapan ribuan rakyat Medang.  Sontak ribuan pasang tangan bertepuk tangan diiringi sorak sorai riuh rendah berkali-kali. Disambut getaran Gunung Merapi terus-menerus.

”Kawulaku yang setia, pada paseban kali ini pula saya nobatkan saudaraku Rakryan Halu Sindok menjadi Rakryan Mapatih Hino, menggantikan Rakryan Mapatih Pu Ketuwijaya yang telah berkhianat kepada Medang,” tegas Dyah Wawa.

Sebelumnya, yaitu pada masa pemerintahan Dyah Tulodhong, Sindok menjabat sebagai Rakryan Halu, sedangkan Rakai Hino dijabat oleh Pu Ketuwijaya.

”Bersediakah saudaraku mendampingi saya selama menjalankan roda pemerintahan Singgasana Medang,” tandas Dyah Wawa kepada Sindok yang disaksikan seluruh nayakapraja Medang.

Sendika dhawuh Sinuwun Prabu. Hamba menurut apa yang menjadi sabda paduka. Hidup dan mati hamba, tercurah seluruhnya di hadapan paduka yang mulia,” ujar Sindok sambil menundukkan kepalanya.

”Seluruh kawulaku dan seluruh nayakapraja yang hadir di hadapanku, saudara telah menjadi saksi atas kemungkaran Dyah Tulodhong. Keangkaramurkaan yang sempat menyengsarakan rakyat Medang selama ini telah menerima imbalan yang setimpal dengan dosa-dosanya. Kini saatnya kita bangkit dan membangun kembali negeri yang kita cintai ini,” tandasnya kembali yang diiringi sorak sorai para punggawa kotaraja dan abdi dalem.

”Hidup Sang Maharaja…!”

”Hidup Sang Maharaja…!”

”Hidup Sang Maharaja Dyah Wawa…!”

”Hidup Sang Maharaja Dyah Wawa…!”

”Sejahtera Sang Maharaja…!”

”Sejahtera Sang Maharaja…!”

”Sejahtera Sang Maharaja Dyah Wawa…!”

”Sejahtera Sang Maharaja Dyah Wawa…!”

Berkali-kali Sang Juru Kala meneriakkan yel-yel keselamatan bagi junjungannya yang baru saja menobatkan diri menjadi raja Medang.

”Baik…Ki Juru Kala!, bubarkan paseban dalam persidangan ini. Kabarkan kepada seluruh rakyat Medang atas penobatan ini. Segeralah mereka tunduk dan patuh terhadap segala perintah dan petuahku!,” perintah Dyah Wawa mengakhiri persidangan penobatan dirinya itu.

Sendika dhawuh sesembahan hamba. Perkenankan hamba mohon diri melaksanakan segala perintah dan petuah Sang Prabu,” ucap Ki Juru Kala mohon diri.

Kabar penobatan diri sebagai Sang Maharaja Kotaraja Medang Dyah Wawa dan Rakryan Mapatih Hino Sindok cepat tersebar ke seluruh negeri hingga ke negara manca, seperti Sriwijaya dan Wura-wari dari Luwaram – musuh bebuyutan Medang.

Sementara, kehancuran istana Kotaraja Medang membuat hati Sindok gundah gulana. Meskipun dia telah dinobatkan sebagai Rakryan Mapatih Hino, Sindok terus memikirkan nasib dan kehidupan rakyat Medang yang tersisa akibat dendam yang dikobarkan Dyah Wawa kepada Dyah Tulodhong. Dalam batinnya selalu diselimuti rasa bersalah telah membantu melakukan kudeta – merebut Singgasana Medang.

Sekembali dari istana kotaraja Medang – usai upacara penobatan – Sindok bersama kedua istrinya, Kebi dan Mangibil singgah ke istana kepatihan Medang. Sebuah istana yang sebelumnya tidak pernah diimpikan, kini telah menjadi miliknya. Di dekat istana sudah ada taman hapsari yang dipenuhi tumbuhan dan bunga-bunga beraneka bentuk dan warna. Sejenak ketiga insan anak manusia yang baru saja menjalani bahtera kehidupan itu melepas kepenatan setelah sekian lama terpisahkan oleh urusan negara masing-masing. Sindok yang seorang prajurit harus tetap mengabdi kepada negara sepenuh tulus, sedangkan kedua istrinya setia menunggu sang pujaan hatinya pulang dari medan perang. Kedua putri istana berparas cantik bak bidadari turun ke mayapada hanya sekadar mendampingi seorang ’malaikat’ yang menjelma sebagai manusia, yang siap menyelamatkan rakyat Medang dari segala bencana dan keangkaramurkaan.

”Dinda Kebi dan Mangibil, betapa segarnya hati kanda memandangi wajah dinda berdua meskipun sekelebat kilatan cahaya. Hati kanda langsung berbunga-bunga seiring senyuman bibir merekah yang dikirim dari swargaloka. Paras dinda sungguh anugerah dari Yang Maha Suci yang diturunkan dari langit hanya untuk kanda,” bisik Sindok saat kembali bertemu kedua istrinya tepat di dekat telinganya.

”Kanda terlalu memuji dinda berdua,” timpal Kebi sambil membilas-bilas dada sang malaikatnya, yang sudah lama meniggalkannya.

”Iya…kanda, dinda sungguh merindukan kanda. Dinda sangat mengkhawatirkan keselamatan kanda,” imbuh Mangibil sambil meletakkan keningnya ke lengan suaminya.

”Tidak…dindaku. Kanda hanya menjalankan tugas negara, setelah itu pasti seluruh hidup dan jiwa raga ini tercurah dinda berdua,” rayu Sindok.

Udara panas Gunung Merapi tidak membuat gerah ketiga anak manusia di taman hapsari saat itu. Suasana kegembiraan justru cepat menghantarkan mereka dalam sebuah lamunan kenikmatan semalam. Aroma bunga-bunga sedap malam di sekitar taman menyeruak ke setiap sudut ruangan, menelusup sanubari dan jiwa-jiwa penuh hasrat – memikat kencang dan kian kencang hingga ke penghujung kesempurnaan kenikmatan yang sebenar-benarnya. Rayuan dan cumbuan diiringi sentuhan halus penuh ketulusan dan perasaan mempercepat getaran nafas – lepas-lepas hingga membuyarkan seluruh kulit buah swargaloka.

”Terima kasih kanda telah sudi meneguk secawan anggur merah yang kami tuangkan berdua. Hanya minuman tidak berguna ini yang bisa dinda suguhkan di hadapan kanda,” bisik Dyah Kebi lirih-lirih.

”Tidak dindaku berdua, sebuah minuman dewa telah dinda tuangkan untuk kanda, sudah lebih dari cukup,” balasnya. (Bersambung…episode 3)

Laskar Pu Sindok, Prahalaya Sima Anjukladang ( Demi Tahta – Episode 1)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *