Budaya Entertainment

Laskar Pu Sindok, Prahalaya Sima Anjukladang ( Demi Tahta – Episode 1)

Kekuasaan telah membutakan mata hati seorang pejabat istana. Dia tega merebut kekuasaan dan menghabisi nyawa sang padukanya sendiri. Duh Gusti, dosa apa yang sedang Engkau timpakan kepada rakyat Mataram hingga kini. Cobaan ini teramat berat, kami tidak kuasa menanggungnya.(Rakai Hino Pu Ketuwijaya)

UDARA panas dari arah Gunung Merapi terus menyeruak di empat penjuru arah mata angin.  Seiring kepulan asap tebal dari kubah gunung itu terus menyembur ke angkasa. Terkadang kerikil dan pasir panas muncrat dan terbang terbawa arah angin kencang. Sesekali suara gemuruh dari letupan gunung itu memekakkan telingga penduduk Medang Bumi Mataram. Kehidupan mulai tidak bersahabat. Alam sedang murka. Penduduk Medang lari pontang-panting mencari perlindungan. Itik pun turut kabur dan ternak rajakaya lari berhamburan. Binatang buas dan melata turun gunung keluar hutan mencari tempat yang lebih sejuk dan aman. Mata-mata telanjang dari kaum yang tanpa daya hanya sanggup menerawang ke angkasa sambil mengusap-usap peluh luruh di sekujur tubuh. Tanpa hasrat dan kekuatan. Mata-mata mulai memerah, darah mulai mendidih, memohon belas kasihan dari Sang Maha Perkasa – kapan cobaan segera sirna. Tiada henti-hentinya mendung bergelayutan di antara tiang-tiang penyangga langit, seakan runtuh segera. Kekejaman alam pun menelusup di sanubari Sang Pamgat Sumba. Jabatan telah membutakan hasrat mulia sebagai seorang adyaksa istana Medang untuk segera mengenyahkan Dyah Tulodhong, sesembahannya sendiri. Dendam kesumat yang terpendam sejak masa kecil, kini meletus seiring letupan Gunung Merapi. Sang Dyah Tulodhong tidak berdaya mengimbangi kekuatan dan siasat yang dimiliki Sang Pamgat. Dalam sekali tebas oleh kekuatan para pengikut setianya mengakibatkan semburan darah segar mengucur dari setiap jengkal mayat-mayat yang berserakan di antara kepulan asap dan bara api dan sekaligus menghancurkan tiang-tiang pendapa agung istana Medang.

Prahalaya telah terjadi. Istana Medang luluh lantak oleh sapuan badai angkara murka Sang Rakai Sumba yang dibantu Rakryan Halu dan bala tentaranya. Luluh lantak di antara jeritan dan tangisan istri nayakapraja meratapi kematian suaminya, histeris di antara babi hutan dan serigala yang mengais-ngais ceceran darah segar para mayat pasukan Istana Medang.

Tari kemenangan para prajurit pendhem pimpinan Sang Rakryan Halu terdengar di seantero Bumi Medang Mataram. Sementara seluruh  penduduk penjuru kotaraja, bercampur isak tangis tanpa daya seorang abdi dalem, anak mencari ibunya, isteri mencari suaminya, sanak mencari keluarganya, berbaur, membaur dalam satu ratapan kematian.

”Kekuasaan telah membutakan mata hati seorang pejabat istana. Dia tega merebut kekuasaan dan menghabisi nyawa sang padukanya sendiri. Duh Gusti, dosa apa yang sedang Engkau timpakan kepada rakyat Medang hingga kini. Cobaan ini teramat berat, kami tidak kuasa menanggungnya,” ratap Rakai Hino Pu Ketuwijaya di tengah kobaran api yang melalap seluruh isi kotaraja, tak ada yang tersisa, tak ada yang tertinggal. Ribuan tubuh mayat diseret – ditumpuk-tumpuk di halaman istana, mayat rakyat jelata, mayat prajurit Medang, senopati bahkan mayat Srimaharaja Dyah Tulodhong beserta kerabatnya, semua dijadikan satu bagai seonggok sampah yang tak berguna. Bau bangkai menyengat di seluruh penjuru angin, para dedemit bekasakan dan engklek-engklek banaspati berpesta pora, menari-nari di atara tangisan kematian, melahap sisa-sisa ruh yang tengah gentayangan menuju kesempurnaan surgawi. Sebuah tragedi kebiadaban manusia tengah terjadi terus menerus dalam perebutan sebuah tahta di Bumi Mataram. Alam seakan menangis meratapi beban yang amat berat tatkala kedurjanaan membabat habis seluruh isi kotaraja Medang, kecuali Pu Ketuwijaya dan pengikut Srimaharaja Dyah Tulodhong yang masih hidup ditangkap dan dimasukkan penjara bawah tanah. Seorang lelaki berdiri kaku saat prajurit Rakai Sumba memaksa menyeret menuju ruang pesakitan. Ketuwijaya tak kuasa menahan gejolak kepedihan yang merejam hatinya. Sorot matanya menggambarkan kedukaan yang amat dalam. Di antara tumpukan tubuh – tubuh yang tergolek tak berdaya itu ada orang – orang yang dihormatinya, disayang dan disanjungnya, tapi kini jasadnya hanya menjadi permainan dan santapan lezat burung gagak.  (Bersambung … episode 2)

http://Laskar Pu Sindok, Prahalaya Sima Anjukladang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *