Berita Utama Budaya Entertainment Lintas Daerah News Wisata

Berlatih Tari Rejang Dewa Sambut Peodalan Umat Hindu Bajulan

NGANJUK – ANJUKZONE – Dalam menyambut upacara Peodalan ke-18, umat Hindu Dharma di Pure Kerta Bhuana Giri Wilis, di Dusun Curik, Desa Bajulan, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk, puluhan anak melakukan latihan Tari Rejeng Dewa. Tarian tersebut nantinya ditampilkan pada saat upacara Peodalan, yang jatuh pada tanggal 24 September 2018 mendatang.

Tari Rejang Dewa adalah tarian yang berasal dari Bali, sebagai tari selamat datang. Hanya saja yang disambut bukan tamu manusia, melainkan untuk menyambut sekaligus menghibur para dewa yang sedang turun ke bumi, bertepatan upacara Peodalan.

Latihan Tari Rejang Dewa, persiapan upacara Peodalan di Pura Kerta Bhuwana Giri Wilis, Desa Bajulan, Kecamatan Loceret, Kabupaten nganjuk – foto-sukadi)

Selain itu, tari Rejang Dewa juga memiliki nilai spiritual yang tinggi, sehingga tarian tersebut dianggap suci dan dilakukan dengan penuh rasa pengabdian.
“Tarian ini (Rejang Dewa,Red) dimainkan oleh sejumlah penari wanita dengan ketentuan mereka adalah anak-anak, karena menurut pamangku, anak-anak masih sukle atau masih suci karena belum pernah mestruasi, dengan mengikatkan selendang pada pinggang untuk dipadukan dengan gerak tangan,” terang Daminto Gede, Sekretaris Pasraman Pure Kerta Bhuana Giri Wilis, Jumat, 14 September 2018.

Salin itu, latihan tari Rejang Dewa dilaksanakan setiap hari, di halaman Pure Kerta Bhuana Giri Wilis. Latihan diikuti oleh anak-anak tanpa adanya unsure paksaan atau disuruh oleh orang tuanya, melainkan mereka datang dan berlatih dengan penuh sukarela.

“Termasuk pelatih tarinya juga aktif, jadi dapat mendorong anak-anak untuk berlatih nari dengan cepat,” ujarnya.

Lanjut Darminto, ilmu tari Rajang Dewa diturunkan oleh para senior kepada adik-adiknya di bawahnya. Sehingga yang lebih senior harus lebih sabar dan aktif memberikan pelajaran kepada juniornya.

“Hal ini berlangsung secara turun-temurun, sehingga anak-anak lebih terampil, budaya asli ini tidak mati dan berlangsung sepanjang zaman,” tukasnya.

Reporter : Sukadi

Editor: yuniar N.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *