Berita Utama Edukasi Lintas Daerah News

SMPN 1 Bagor, Imunisasi Difteri Lanjutan Hujan Tangis dan Anak Pinsan

NGANJUK –– Program imunisasi Difteri lanjutan yang dilaksanakan di SMPN 1 Bagor, Kecamatan Bagor, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, diwarnai adanya beberapa anak menangis dan dua anak pinsan usai disuntik. Meski sudah kali kedua, imunisasi Difteri diberikan di sekolah yang satu ini, namun rasa takut terhadap jarum suntik tetap menghantui beberapa siswa.

Kartini, ketua tim imunisasi difteri Puskesmas Bagor menyampaikan, banyak anak yang nangis, baik sebelum maupun setelah disuntik imunisasi difteri, bukan karena faktor obat yang dimasukkan. Mereka rata-rata merasa takut yang berlebihan terhadap ujung jarum suntik. Apalagi saat menunggu giliran, mereka melihat temannya berekspresi kesakitan, rasa takutnya bertambah. Bahkan ada yang menolak untuk disuntik, hingga terjadi kejar-kejaran dengan petugas dari puskesmas.

Menangis histeris, menolak diimunisasi sebelum pinsan (foto-sukadi)

“Sebenarnya, karena faktor obat imunasi yang membuat anak-anak nangis, tapi karena rasa takut terhadap jarum suntik dan melihat teman lain saat disuntik,” terang Kartini, saat memberikan imunasi di SMPN 1 Bagor, Sabtu pagi, 04 Agustus 2018.

Kalau rasa takutnya berlebihan, lanjut Kartini, anak bisa shock hingga pinsan. Namun setelah diberikan pertolongan, tak lama kemudian bisa siuman.

Menurut Kartini, imunisasi Difteri dilakukan serentak di seluruh wilayah Indonesia, sejak Kementerian Kesehatan menetapkan status KLB terhadap Difteri. Untuk itu, anak-anak mulai usia 1 tahun hingga 19 tahun harus mendapatkan imunisasi agar tidak terjangkit penyakit berhaya tersebut.

Pinsan setelah diimunisasi, dibawa ke UKS untuk diberikan pertolongan (foto-sukadi)

Bagi anak-anak yang berumur di bawah lima tahun (balita) dilakukan lewat posyandu, sedang untuk pelajar, mulai dari anak taman kanak-kanak, hingga SLTA. Imunisasi diberikan tiga kali, masing-masing anak.

“Imunisasi Difteri diberikan harus tuntas sebanyak tiga kali,” ujarnya.

Nak yang sudah mendapatkan imunisasi Difteri lengkap, akan memiliki kekebalan tubuh terhadap penyakit Difteri yang mematikan. Karena, penyakit ini sangat menular dan dapat menyebabkan kematian jika tidak ditangani secara cepat. Kendati demikian, imunisasi difteri tidak diberikan bagi anak yang sedang sakit atau habis sakit.

“Namun penyakit ini dapat dicegah dengan imunisasi rutin yang lengkap,” tegasnya.

Untuk itu, bagi anak-anak yang hari ini tidak masuk atau menghindar tidak mau diimunisasi, tim medis bersama pihak sekolah tetap akan mendata dan memberikan imunisasi.

“Ini untuk kepentingan kesehatan anak-anak sendiri, jangan sampai terkena penyakit mematikan ini,” pungkasnya.

Reporter : Sukadi

Editor: Yuniar N

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *