Berita Utama Lintas Daerah News

Begini Cerita Penjual Nasi Aking di Pasar Wage Nganjuk Naik Haji

NGANJUK – – Seorang penjual nasi aking, Tariyah, (78), warga Kelurahan Bogo, Kecamatan/Kabupaten Nganjuk, JawaTimur sempat menarik perhatian publik. Dari hasil jualan nasi aking, berhasil mewujudkan impiannya untuk pergi haji tahun ini. Dia berangkat pada kloter 59, embarkasi Surabaya nomor 711.

Menurut Tariyah, usaha mengumpulkan uang untuk naik haji dilakoni selama 15 tahun. Sejak suaminya masih setia mendampingi hidupnya, berjualan nasi aking di Pasar Wage Nganjuk. Namun, malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Segala sesuatu dalam kehidupan Tariyah sudah ada yang mengatur, yaitu Tuhan Yang Maha Kuasa. Suami tercintanya, meninggal dunia 15 tahun silam, karena sakit. Terpaksa, Tariyah tinggal hidup bersama cucunya, di rumah sederhana, tinggalan suaminya.

Sejak itu, semua pekerjaan mulai dikerjakan sendiri. Pagi, setelah menjalankan shalat Subuh harus sudah berjalan kaki sejauh sekitar dua kilometer menuju tempat dimana setiap hari menjual barang dagangannya berupa nasi aking di Pasar Wage Nganjuk. Tidak hanya nasi aking yang ada di hadapannya, melainkan ada sejumlah barang dagangan lain, seperti kertas bekas, botol minuman air mineral bekas, serta empon-empon.

“Dulu, masih ada bapake, ada yang membantu bawa barang dagangan. Sejaka bapake tidak ada (meninggal dunia,Red), saya sendiri yang gendong ke pasar,” ucap Tariyem ditemui wartawan di rumahnya.

Sebenarnya, aktifitas berjualan nasi aking dan barang-barang bekas sudah dijalani sejak umur mencapai 60 tahun. Namun, keinginan untuk menjalankan rukun Islam ke-lima muncul setelah suaminya meninggal, 15 tahun silam. Setelah berjalan sekitar 7 tahun, uang hasil jualan terkumpul Rp 20 juta. Uang yang ditabung di bawah bantal tersebut lantas dijadikan uang muka pembayaran pendafataran naik haji, pada tahun 2010 lalu.  Merasa biaya naik haji masih kurang dari Rp 25.000.250,- Tariyah pinjam dari tetangganya. Sambil menunggu jadwal pemberangkatan, Tariyah terus menyisihkan hasil penjualan nasi akingnya untuk melunasi hutangnya.

“Pas daftar, uang saya belum cukup untuk bayar. Akhirnya saya pinjam tetangga, sambil nunggu jadwal pemberangkatan, hutang sudah bisa lunas,” tegasnya.

Menjelang pemberangkatan ke tanah suci, Tariyah mendapat ucapan selamat dari rekan sesame pedagang di Pasar Wage dan para tetangganya. Lantaran, tidak disangka, dari hasil jualan nasi aking, dapat naik haji.

Reporter: Sukadi

Editor: Yuniar N.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *