Berita Utama Birokrasi Nasional News Politik

Budiono Anggota MPR RI Sosialisasikan PORPI Nganjuk 4 Pilar Kebangsaan

NGANJUK-– Anggota DPD RI perwakilan Provinsi Jawa Timur, H. A. Budiono, M. Ed secara rutin turun ke daerah pemilihannya, bertemu warga di basis konstituen yang diwakilinya, di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.

Kali ini wakil rakyat yang juga anggota MPR RI itu bertemu konstituen dari salah satu komunitas, yakni Persatuan Olah Raga Pernapasan Indonesia (PORPI) Cabang Nganjuk di Gedung Balai Budaya Pu Sindok, Nganjuk, Senin, 23 Juli 2018.

Sebelum agenda sosialisasi disampaikan, diawali dengan senam pernapasan dari PORPI Cabang Nganjuk.

Sambil bertemu konstituennya, Budiono sebagai anggota DPD/MPR RI, menyampaikan wawasan empat  pilar kebangsaan, yakni, Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI.

Menurut Budiono, pemahaman tentang wawasan kebangsaan, utamanya Pencasila belakangan mengalami penurunan di kalangan bangsa Indonesia. Bahkan penurunan tidak sebatas pada pemahaman, namun sudah pada penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Tak heran, banyak ditemukan penyimpangan hingga mengancam terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Anggota DPD/MPR RI Drs. H.A. Budiono, M.Ed bertemu konstituennya (PORPI) Cabang Nganjuk dalam Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan di Gedung Balai Budaya Pu Sindok, Nganjuk (foto-sukadi)

“Tujuannya supaya negara tidak mudah terpecah-belah,” ujar anggota DPD-RI asal Nganjuk.

Menurut Budiono, Negara Indonesia adalah negara kepulauan. Bahkan, di antara pulau-pulau yang terbentang dari Sabang hingga Merauke, ada beberapa pulau yang masih kosong, belum ada penghuninya.

Kendati demikian, dunia tetap mengakui bahwa Indonesia sebagai negara yang memiliki pulau terbanyak di Dunia.

“Banyak juga yang belum punya nama, saking banyaknya pulau,” ujarnya.
Untuk itu, tiap pulau pasti memiliki adat istiadat dan bahasa daerah yang beragam, serta jumlah penduduk Indonesia terbanyak ke empat di dunia.

“Adanya keberagaman, dibutuhkan alat pemersatu bangsa yaitu Pancasila,” tegasnya.

Drs. Rasid Anggara, MM, nara sumber, menegaskan, penurunan penghayatan Pancasila terlihat, masih banyak pejabat, anggota dewan atau warga masyarakat yang tidak hafal sila-sila Pancasila.

“Yang terpenting bukan hanya hafal sila-sila Pancasila, tapi penghayatan dan pengamalan dalam kehidupan sehari-sehari,” terang nara sumber yang juga dosen salah satu perguruan tinggi swasta di Nganjuk ini.

Menurut Rasid Anggara, Pancasila dikenal sebagai ideologi, norma, atau pun sumber dari segala sumber hukum dan sebagainya. Sehingga harus kita jaga keberadaannya sebagai dasar negara.

“Pancasila itu wujud karakter bangsa Indonesia, dalam kehidupan sehari-sehari sebisa mungkin tercermin dalam kehidupan sehari-sehari, ” pungkasnya.
Diakhir sesi, diisi dengan tanya jawab, hasilnya akan disampaikan dalam rapat paripurna MPR RI.
Reporter :Sukadi
Editor :Yuniar N.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *