Berita Utama Budaya Entertainment Lintas Daerah News

Meski Langka, Tradisi Angon Putu di Nganjuk Masih Ada

Kakek Nenek Gembalakan Puluhan Anak- cucu Keliling Kampung

NGANJUK –– Tradisi angon putu atau menggembala cucu saat ini sudah jarang dilakukan. Namun sebuah keluarga besar Mbah Sakidjo, warga Nganjuk, Jawa Timur, masih mempertahankan tradisi leluhur ini.

Tradisi angon putu yang dilakukan keluarga besar Mbah Sakidjo, (86) dengan istrinya Mbah Poni, (76), warga Desa Petak, Kecamatan Bagor, Nganjuk diawali dengan ritual sungkeman. Pertama, anak tertua memulai sungkem hingga  ke yang paling kecil, menantu, cucu dan yang terakhir cicitnya. Tangis bahagiapun mengiringi tradisi sungkeman ini, sementara Mbah Poni,  sembari memberikan doa kepada  cucu dan  cicitnya. Ia juga memberikan uang jajan kepada generasi penerusnya tersebut. Total Mbah Sakidjo dan Mbah Poni memiliki 9 anak, dan 9 menantu,  25 cucu,  dan 2 cicit.

tradisi angon putu keliling kampung (foto-sukadi)

Setelah semua keluarga besar berkumpul, dilakukan pemotongan tumpeng oleh anak tertua untuk diberikan kepada Mbah Sakidjo. Oleh Mbah Sakidjo, nasi tumpeng lengkap dengan lauk-pauknya tersebut disuapkan kepada istrinya, Mbah Poni dan dilanjutkan kepada anak cucu dan cicitnya.

Ritual dilanjutkan tabur bunga oleh Mbah Sakidjo kepada seluruh anak, cucu,  dan cicitnya dan dilanjutkan dengan ritual puncak angon putu berkeliling kampong, seperti orang mengembala ternak.

Seluruh  anak, menantu, cucu dan cicitnya berkeliling kampung dengan berjalan kaki, sementara Mbah Sakidjo dan istrinya naik kereta kuda . Kesembilan anaknya membawa cemethi,  menantunya membawa bakul berisi jajan pasar untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang yang mereka temui di tepi jalan. Sementara para cucu dan cicitnya dibiarkan menghabiskan uang saku yang diberikan untuk membeli barang atau jajan di warung. Ada tiga warung yang yang dituju, yakni warung berjualan jajan, barang,  dan minuman dawet.

Suratman, anak kesembilan Mbah Sakidjo dan Mbah Poni menyampaikan,  tradisi angon putu dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur kepada tuhan atas karunia umur panjang,  kesehatan,  dan rejeki yang dilimpahkan kepada seluruh keluarga bersar Mbah Sakidjo dan Mbah Poni. Tradisi angon putu saat ini sudah jarang dilakukan, karena  untuk menggelar tradisi ini, minimal keluarga tersebut harus memiliki 25 cucu.

“Yang utama, kami berdoa agar semua keluarga diberi kesehatan, umur panjang, dan rejeki yang barokah,” ujar Suratman, Minggu pagi, 22 Juli 2018.

Terpisah, sejarawan Nganjuk, Sumadi menyampaikan filosofi tradisi angon putu. Sumadi mengaku, tradisi angon putu mulai punah adanya perkembangan jaman. Salah satu penyebabnya adalah program keluarga berencana, dua anak cukup. Sehingga sulit ditemukan sebuah keluarga yang memiliki anak dan cucu berjumlah sedikitnya 25 orang.

“Di jaman sekarang, sudah mulai sulit ditemukan tradisi angon putu, karena untuk mendapatkan cucu minal 25 orang sangat sulit. Apalagi dengan adanya program pemrintah keluarga berencana, jumlah anak rata-rata dua,” terang Sumadi.

Sebagai ungkapan kegembiraan, juga  dilangsungkan berbagai hiburan rakyat, diantaranya pertunjukan seni tradisional reog Ponorogo, campursari dan pelawak.

Reporter : Sukadi

Editor: Yuniar N.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *