Berita Utama Bisnis Ekonomi Nasional News UMKM

Ini Alasan Harga Telur di Nganjuk Meroket

Akibat Larangan Pemakaian Pakan Kimia dan Dampak Cuaca Dingin Picu Ayam Stress

NGANJUK –– Harga telur terus melonjak, bahkan kenaikannya cenderung meroket sejak Puasa atau hingga Lebaran usai. Di pasaran, harga telur tembus hingga Rp 29 ribu per kilogramnya. Padahal lebaran lalu, harga telur masih berkisar Rp 22 ribu per kilogramnya. Dampak kenaikan harga telur tersebut juga dirasakan hingga daerah Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.

Suhariyono, peternak ayam dari Dusun Jajar, Desa Mancon, Kecamatan Wilangan, Kabupaten Nganjuk menyatakan penyebab utama kenaikan harga telur adanya pelarangan dari pemerintah tentang pemakaian Antibiotic Growth Promotor (AGP), menjadi pemicu melonjaknya harga telur ayam di pasaran.

“Sebab, larangan pemakaian AGP membuat produktivitas ayam petelur berkurang yang berimbas rendahnya pasokan telur di pasar dan berdampak kenaikan harga,” terang Suhariyono.

Suhariyono, peternak ayam petelur Dusun Jajar, Desa Mancon, Kecamatan Wilangan, Kabupaten Nganjuk mengkarantina ayam-ayam petelurnya yang sakit akibat stress terkena cuaca dingin (foto-sukadi)

Penyebab lain rendahnya tingkat produktivitas ayam petelur adalah cuaca dingin. sehingga banyak ayam yang stress dan mati. Padahal, pemakaian AGP dalam bentuk konsentrat sangat membantu tingkat efektivitas kesehatan ayam petelur agar kondisi tubuh tetap hangat saat memasuki cuaca sejuk seperti sekarang ini.

Tidak ingin rugi terlalu banyak, Suhariyono tetap bertahan menggunakan campuran bahan kimia meski harganya cukup tinggi, dicampur dengan jagung dan bekatul.

Sebenarnya, Suhariyono telah menyiapkan kandang untuk kapasitas 600 ekor, namun akibat harga pakan mengalami kenaikan, serta faktor cuaca dingin sementara diisi 200 ekor ayam.

Ini pun setiap hari dapat menghasilkan sekitar 10 kilogram telur bila kondisi ayam tidak stress dan cuaca sedang baik. Namun akhir-akhir ini, akibat kaget terkena cuaca dingin, tiap hari hanya dapat bertelur sekitar delapan setengah kilogramnya saja.

“Dampak dari semua itu, berakibat stock telur berkurang, sedangkan permintaan konsumen tetap tinggi,” tegasnya.

Meski terkendala pakan konsentrat mengalami  kenaikan dan cuaca buruk berpangaruh terhadap tingkat produktivitas telur ayamnya, Suhariyono tidak  serta merta dapat menaikan harga jual produksi telur ayamnya. Bila lebaran lalu, per kilogramnya dijual Rp 19 ribu, kali ini hanya Rp 20 ribu per kilogramnya.

“Cukup untuk memenuhi kebutuhan warga sekitar, mereka datang sendiri, tidak perlu disetor ke toko-toko,” pungkas peternak ayam petelur pemula ini.

Reporter: Sukadi

Editor : Yuniar N.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *