Berita Utama Birokrasi Nasional News Pertanian

Bendungan Semantok Molor Ini Masalahnya

NGANJUK –– Pembangunan mega proyek Bendungan Semantok, di wilayah Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk Jawa Timur bakal dimulai pekerjaannya awal Agustus tahun 2018. Hanya hingga kini, masih banyak masalah yang menghadang, terutama persoalan pembebasan lahan dan relokasi rumah permukiman warga belum tuntas. Pembangunan berskala Nasional di Nganjuk dengan luas sekitar 412 hektare rencananya untuk mengatasi masalah kekeringan di wilayah Nganjuk utara, dan mereduksi banjir yang melanda wilayah Rejoso saat musim hujan tiap tahunnya, serta dapat meningkatkan taraf ekonomi warga Rejoso dan sekitarnya.

Fauzi Idris, Kepala Balai Besar Jawa Timur menyampaikan, pembangunan Bendungan Semantok tersebut memanfaatkan lahan milik Perhutani seluas 372 hektare dan milik warga seluas 40 hektare.

Guna mengatasi pembebasan lahan, pemerintah sudah mengupayakan lahan pengganti milik Perhutani di daerah Purbolinggo, Jawa Timur, dan lahan relokasi bagi warga terdampak, Dusun Kedungpingit, Desa Sambikerep, Kecamatan Rejoso di lokasi sekitar bendungan.

“Kita harus bangga, proyek Nasional ada di wilayah kita, karena tidak mudah untuk merealisasi proyek ini, butuh waktu dan pemikiran yang sangat panjang. Jangan mudah terpengaruh dengan berita hoax. Apabila terjadi permasalahan diharapkan mencari solusi yang terbaik,” terang Fauzi Idris di hadapan  Forkompimda Nganjuk, Pimpnan PT. Hutama Karya, PT Brantas Abi Praya, Forkompimca Rejoso, dan ratusan warga terdampak, Jumat, 13 Juli 2018.

Menurut Fauzi Idris, tujuan pembangunan Bendungan Semantok guna meningkatakan tarap hidup masyarakat setempat, khususnya para petani, serta dapat mereduksi bencana banjir, tiap tahun melanda wilayah Rejoso, serta salah satu pengembangan tata ruang Kabupaten Nganjuk.

“Selama ini pemerintah telah mengupayakan tanah pengganti agar segera dilakukan relokasi bagi warga terdampak juga lahan pengganti bagi Perhutani, agar semuanya segera teratasi,” tegasnya.

Selain mengatasi masalah kekeringan dan banjir, keberadaan Bendungan Semantok juga menjadi destinasi wisata handalan di Kabupaten Nganjuk. Sehingga dapat mendatangkan wisatawan, baik bagi Nganjuk sendiri maupun luar daerah.

“Warga terdampak diharapkan ke depan harus lebih makmur, karena pembangunan ini dapat menjadi destinasi wisata baru bagi Kabupaten Nganjuk,” ujarnya.

Agus Juhandoko, Kepala Desa Sambikerep, Kecamatan Rejoso menyampaikan, yang menjadi kendala utama hingga saat ini adalah proses relokasi permukiman warga terdampak dengan pihak Perhutani, belum selesai. Sedikitnya ada 543 jiwa dari 180 kepala keluarga yang bakal terkena relokasi. Mereka berada di atas lahan sekitar 40 hektare yang harus mendapat ganti di lokasi sekitar bendungan.

“Kendala yang dialami selama ini, masalah kapan dilakukannya relokasi, karena ada kegamangan warga Sambikerep. Warga juga kuatir bila tanah perhutani itu tidak dapat disertifikatkan. Kelambatan ini disebabkan sulitnya proses tukar guling dari perhutani ke warga Sambikerep,” terang Kades Desa Sambikerep.

Menurut Agus, masyarakat terdampak sebenarnya sangat mendukung adanya pembangunan Bendungan Semantok, karena nantinya dapat mendukung system perekonpmian dan taraf hidup warga masyarakat.

Reporter : Sukadi

Editor: Yuniar N.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *