Berita Utama Lintas Daerah News Politik

Desy-Yakin Berpeluang Menang

Paslon Paling Sonder Isu Negatif dan Penolakan Masyarakat Nganjuk

NGANJUK –– Berdasarkan hasil takaran Dr. H. Suis Qoim Abdullah, M.Fil.I, Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya, tentang peluang ketiga paslon di Pilkada Nganjuk, menyampaikan paslon Desy – Yakin paling berpeluang menang pada Pilkada Nganjuk 2018.

Analisis kualitatifnya menyebut, peluang menang dalam kontestasi Pilkada Nganjuk, paslon nomor urut 3 dinilai lebih menjangkau seluruh elemen masyarakat di Nganjuk dan relatif tidak banyak diterpa isu-isu negatif dan tidak pernah mendapatkan penolakan dari masyarakat Nganjuk.

Selama lima bulan, diintensifkan untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat dengan berbagi peran. Desy melakukan sosialisasi ke masyarakat umum melalui serangkaian kegiatan blusukan ke berbagai komunitas masyarakat, seperti pemuda, insan olah raga dan seni, petani, UMKM, pasar, kelompok pengajian, simpul-simpul masyarakat, dan komunitas masyarakat lainnya. Sedangkan Ainul Yakin melakukan pendekatan ke sejumlah pesantren, ormas Islam, kiai-kiai kampung, lintas agama, PKL, kesenian jaranan dan sholawatan, kelompok pemuda, dan lain-lain.

“Pasangan ini relatif tidak resisten dengan beragam isu, bahkan nyaris tak diterpa isu yang mendistorsi keduanya,” terang Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya.

Menurutnya, paslon Desy-Yakin disebut-sebut sebagai “kuda hitam” yang dapat menggeser peluang paslon nomor 1 dan 2. Isu lain yang ditujukan ke paslon nomor 3 adalah kedekatannya dengan kelompok “abangan” dan lintas agama.

“Hanya dalam pengamatan agaknya isu ini (abangan,red) juga tidak terbukti,” tegasnya.

Pasalnya, pasangan Desy-Yakin selain dekat dengan kelompok abangan dan lintas agama, mereka juga telah membangun kesepahaman dengan pesantren dan kalangan ulama – termasuk ulama NU dan kiai kampung. Hal ini ditunjukkan dengan pergerakan mereka ke sejumlah pesantren dan kiai-kiai di Nganjuk, yang pada umumnya tidak tersentuh paslon lain.

“Menjelang pemungutan suara, pasangan Desy-Yakin semakin leading setelah sejumlah komunitas dan tokoh yang awalnya mendukung paslon tertentu, lalu menarik dukungannya, kemudian merapat ke paslon nomor tiga,” tukasnya.

Pasangan Hanung-Bima juga tidak bebas dari isu. Terjadinya kekisruhan di antara pendukungnya pada saat kampanye terbuka di lapangan Warujayeng disebut-sebut sebagai bentuk inkonsistensi bahkan hipokrasi yang dilakukan paslon Hanung-Bima kepada para pendukungnya sendiri. Hanung yang sudah memasuki usia senja juga dinilai oleh sebagian masyarakat sebagai sosok yang tidak produktif lagi.

“Tampilnya Hanung sebagai calon bupati Nganjuk 2018-2023 dianggap sebagai siasat politik tersembunyi dalam rangka mempersiapkan Bimantoro Wiyono menjadi orang nomor satu di Nganjuk,” paparnya.

Sejumlah isu tak sedap juga menerpa pasangan Novi-Marhaen, antara lain: isu rentenir yang bergulir jauh-jauh hari sebelum penetapan calon bupati/wakil bupati Nganjuk 2018. Isu ini terus menggelinding sampai sekarang seperti bola liar yang tak bisa dikendalikan. Isu lain yang tak kalah menariknya adalah program ziarah wali dan pembagian zakat menjelang idul fitri. Dua isu tersebut sangat kontra produktif dengan misi untuk meraup sebesar-besarnya dukungan masyarakat. Isu ziarah wali yang awalnya didedikasikan untuk masyarakat desa ternyata menjadi boomerang.

“Karena tidak semua masyarakat desa terakomodir dalam kegiatan ziarah, akibatnya – mereka yang gagal atau tidak berangkat, memilih untuk mengambil posisi berhadapan dalam pilihan politiknya,” ucapnya.

Demikian juga dengan isu pembagian beras di akhir ramadhan yang dibungkus dengan zakat telah mengundang pertanyaan kritis di tengah-tengah masyarakat. Menurut sebagian masyarakat, pembagian zakat yang diberikan menjelang Pilkada sangat bernuansa politis dan cenderung merusak nilai-nilai agama dan tatanan demokrasi. “Dalam catatan yang terekam dalam kasus ini, tercatat ada sebagian masyarakat yang tidak berani mendistribusikan beras tersebut kepada masyarakat karena alasan agama dan aturan main dalam Pilkada,” pungkas Suis Qoim Abdullah.

Reporter: Sukadi

Editor: Yuniar N.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *