Berita Utama Lintas Daerah News Politik

Kajian Tiga Paslon di Pilkada Nganjuk (Bagian 1)

Jadwal Pemilukada Nganjuk tinggal menghitung hari. Tepatnya Rabu, 27 Juni 2018. Tiga pasangan calon (paslon) telah bersiap menuju mimbar pesta demokrasi untuk menjadi kontestan pemilihan bupati dan wakil bupati Nganjuk periode 2018 – 2023. Masing-masing paslon nomor urut 1 Novi – Marhaen, nomor urut 2 Hanung – Bima, dan paslon nomor urut 3 Desy Yakin. Ketiga paslon telah menunjukkan kelebihan dan kekurangannya masing-masing selama masuk dalam bursa pencalonan menjadi orang nomor satu di Kabupaten Nganjuk. Tinggal masyarakat Nganjuk diuji untuk lebih teliti, tidak salah pilih saat berada di dalam bilik tempat pemungutan suara (TPS). Satu kesalahan memilih, bakal berakibat fatal untuk 5 tahun ke depan. Apakah, pemilih memilih berdasarkan janji-janji politik, memilih karena pemberian uang dan sembako, ataukah memilih karena berdasarkan hati nurani, ingin memiliki pemimpin yang dapat memperbaiki kondisi ekonomi kabupaten Nganjuk. Semua tergantung kepada pilihan warga Nganjuk sendiri. Berikut hasil kajian salah seorang pengamat politik untuk menakar peluang ketiga paslon di Pilkada Nganjuk 2018, Dr. H. Suis Qoim Abdullah, M.Fil.I, Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Satu per satu paslon akan disajikan dalam kemasan analisis selama ketiga paslon melakukan pencitraan dan sosialisasi menuju panggung Pilkada 27 Juni 2018.

NGANJUK –– Menurut Suis Qoim Abdullah, pilkada Nganjuk 2018 memiliki nuansa berbeda dengan Pilkada lima tahun yang lalu. Setidaknya terdapat beberapa catatan kritis yang membedakannya.

Pertama, Pilkada tahun ini diikuti oleh tiga Pasangan Calon (Paslon) yang relatif memiliki basis dukungan seimbang di masyarakat.

Asumsi ini disebabkan karena tidak ada satupun Paslon menggunakan jasa konsultan politik yang melakukan survei mendalam atas popularitas dan elektabilitas masing-masing Paslon. Ketiganya seperti bersaing di balantara dengan hipotesa subyektif atas keunggulan masing-masing Paslon.

Kadua, pergerakan Paslon untuk meraih dukungan publik kurang menunjukkan greget, tidak sistematis dan terukur. Sosialisasi dan upaya meraih suara bersifat sporadis, temporal, bahkan cenderung ada yang menggunakan pola-pola pragmatisme yang anti demokrasi. Selama musim kampanye.

ketiga, Paslon tidak ada yang memanfaatkan secara maksimal untuk malakukan pendekatan kepada masyarakat. Momentum kampanye tertutup misalnya, tercatat sejumlah Paslon tidak berada di tempat karena sejumlah alasan subyektif – Bahkan ketika debat publik ke dua yang disiarkan lansung beberapa media elektronik ada salah satu Paslon yang tidak hadir.

Selain itu, saat kampanye terbuka salah satu Paslon “menumpang” kedatangan elit politik tertentu untuk dijadikan ajang kampanye terbuka. Ironisnya, kampanye terbuka tersebut menyisakan masalah di mana para pendukungnya melakukan demo karena alasan janji yang tidak ditepati.

Kedua alasan di atas setidaknya dapat dijadikan alasan untuk melihat potret umum Pilkada Nganjuk yang akan digelar pada 27 Juni 2018 mendatang. Pertanyaannya adalah, siapakah dari ketiga Paslon tersebut yang memiliki keunggulan kompetitif dan berpeluang menjadi pemenangnya?

Untuk menjawab pertanyaan ini, pisau analisis yang dapat digunakan adalah pendekatan kualitatif yang berorientasi pada gejala-gejala, sifatnya natural (alamiah) dan pemahaman mendalam atas fenomena yang terjadi di lapangan. Dari sini muncul sebuah asumsi yang bersifat deskriptif atas pokok masalah yang sedang diteliti.

Analisis kualitatif yang digunakan untuk megukur potensi dan peluang Paslon bersumber pada pendapat, tanggapan, informasi, konsep-konsep dan keterangan berbentuk uraian yang dihimpun dari masyarakat dan simpul-simpulnya, intensitas Paslon dalam melakukan sosialisasi dan konsolidasi, isu-isu yang berkembang di tengah masyarakat, perilaku pemilih, serta sambutan masyarakat dan harapan-harapannya kepada Paslon yang bersangkutan.

Pilkada Nganjuk 2018 diikuti oleh tiga pasangan calon, yakni:

(1) Novi Rahman Hidayat berpasangan dengan Marhaen Djumadi yang diusung oleh PDIP, PKB dan HANURA;

(2) Siti Nurhayati berpasangan dengan Bimantoro Wiyono, diusung oleh Gerindra, Demokrat, PAN, dan PPP; dan

(3) Desy Natalia Widya berpasangan dengan Ainul Yakin, diusung oleh NasDem, Golkar dan PKS. (*)

Reporter : Sukadi

Editor : Yuniar N.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *