Berita Utama Ekonomi Pertanian

Waduk Sengon Mengering Warga Tanami Jagung

NGANJUK –– Puluhan hektare sawah di lima dusun, Desa Balonggebang, Kecamatan Gondang, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur mengalami kekurangan air. Lantaran kondisi air Waduk Sengon, yang berada di Dusun Kawedegan, Desa Balonggebang telah mengering sejak satu setengah bulan lalu. Tidak ingin nganggur, petani terpaksa menanam jagung di dasar Waduk Sengon.

Puluhan hektare tanaman padi yang selama ini menggantungkan irigasi dari Waduk Sengon banyak yang mengering. Bahkan beberapa lahan dibiarkan mangkrak karena petani tidak mampu membiayai untuk menyewa pengairan dari air diesel.

Waduk Sengon mengering, warga tanami jagung selama hujan belum turun (foto-sukadi)

Arifin, petani Dusun Kawedegan menyampaikan, waduk Sengon menjadi pengairan satu-satunya bagi petani di lima dusun di Desa Balonggebang. Yakni Dusun Kawedegan, Balonggebang, Balongrejo, Kedungrejo, dan Sawahan. Selama musim penghujan, petani hanya menggantungkan pengairan dari waduk sengon hingga massa tanam ketiga.

“Sudah tiga bulan tidak turun hujan,” terang Arifin, Selasa, 19 Juni 2018.

Menurutnya, petani setempat, kondisi kandungan air di Waduk Sengon cepat mengering lantaran tidak dapat menampung air hujan terlalu banyak. Selain kondisi dasar waduk mulai dangkal, lahan yang diairi terlalu luas. Sebagian petani banyak beralih kepada irigari sumur pantek, namun dirasa biaya operasional terlalu mahal. Petani yang ingin menyewa sumur pantek, harus membayar Rp 17 ribu hingga Rp 30 per jamnya. Padahal, untuk lahan dengan luas seperempat hektare membutuhkan 10 jam agar seluruh tanaman tercukupi kebutuhan airnya.

Untuk masa tenam kedua tersebut, petani terpaksa membiarkan lahan sawahnya mengering karena tidak mampu membiayai untuk pengairan dari sumur pantek. Tidak ingin rugi terlalu banyak, beberapa petani Dusun Wedegan memanfaatkan dasar Waduk Sengon yang telah mengering untuk ditanami jagung. Sedikitnya ada 40 petani yang kini telah bercocok tanam jagung yang sudah berumur 3 minggu tersebut.

Kendati pihak pengairan telah memberi tanda larangan, agar tidak menanami dasar waduk, namun warga setempat tetap nekat. Bahkan mereka tetap akan menanami jagung lagi hingga musim hujan turun sebagai kompensasi lahan sawahnya yang tidak dapat ditanami.

“Sebenarnya tidak boleh ditanami, tapi petani harus bekerja apa kalau sawahnya kering. Yang penting nanti kami siap untuk membersihakan sampah setelah masa panen,” tegasnya.

Warga berharap, pemerintah secepatnya melakukan pengerukan sehingga waduk dapat menampung air lebih banyak sebagai cadangan irigasi bila musim kemarau tiba.

Reporter : Sukadi

Editor: Yuniar N.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *