Berita Utama Birokrasi News

Tangisan Ibu Lepas Perpisahan Satgas TMMD

Teringat Saat Bercengkrama dan Minta Dibuatkan Kopi

NGANJUK –– Suasan haru mewarnai perpisahan para prajurit TNI di Dusun Gurit, Desa Lengkonglor, Kecamatan Ngluyu, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Ini setelah, target program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-101 tahun 2018 Kodim 0810/Nganjuk tuntas. Para satgas TMMD tersebut harus kembali ke markasnya masing-masing setelah program ditutup oleh Pangdam V/Brawijaya, Kamis, 03 Mei 2018.

Awalnya, prosesi perpisahan sederhana berjalan biasa-biasa saja. Salah seorang anggota satgas TMMD, formalitas mewakili anggota lain untuk menyampaikan kata-kate permohonan maaf kepada tuan rumah yang selama 30 hari ditempati menginap. Suasana bertambah hening, ketika kata-kata yang diucapkan mulai terbata-bata. Namun sebagai seorang prajurit harus terlihat tegar dan kuat di hadapan orang yang selama ini menjamunya setiap hari, menjelang berangakat ke lokasi TMMD dan menyiapkan makan malam sepulangnya.

Entah apa yang memicu, ketika si tuan rumah tiba-tiba merangkul satu per satu anggota yang berpamitan.Hujan air mata membasahi suasana rumah keluarga Galido dan Sukinem. Dekapan pun semakin erat mengiringi isak tangis yang tak kuasa terbendung di kedua belah pihak.

Sukinem, warga dusun Gurit, Desa Lengkonglor tidak kuasa membendung air mata ketika para satgas TMMD minta pamit (foto-yun)

Kegagahan seorang prajuritpun tiba-tiba layu dalam dekapan seorang ibu yang mencintai sepenuh tulus itu. Kendati berat untuk melangkah kaki keluar pintu rumah yang sudah sebulan dibuat bercengkrama, namun panggilan dari markas mengharuskan sang pengabdi negara tersebut harus tunduk. Keluarga Galido pun harus ikhlas, meski sudah terlanjur menganggapnya, ibarat anak-anaknya sendiri.

“Kami belum bisa berbuat banyak, belum bisa membalas kebaikan bapak-bapak tentara semua yang dengan ikhlas membantu warga desa kami. Tidak sebanding dengan apa yang kami berikan. Maafkan atas kekurangan keluarga kami selama melayani di rumah ini,” ucap Sukinem patah-patah.

Tak kuasa menahan tangis, tampak satu per satu prajurit meninggalkan pertemuan haru siang itu, menghindari kucuran air mata kian deras. Namun suara tangis Sukinem belum juga reda hingga semua anggota satgas meninggalkan menuju kendaraan yang sudah disiapkan di depan rumah.

Ditemui, Sukinem masih terlihat sembab dan matanya membekas merah. Suaminya, Galido tampak terus mendampingi sambil berucap, “Sudah jangan terlalu larut dalam kesedihan. Kita sudah berusaha berbuat baik semampu kita, kalau ada kekurangan pasti mereka memaklumi.”

Mengapa kepergian para prajurit TNI tersebut begitu menyisakan haru yang mendalam keluarga Galido?

Selama menginap di rumah Galido, para korp baju doreng tersebut sudah dinggap sebagai keluarga sendiri. Mereka membaur layaknya anak dengan orang tuanya sendiri. Tanpa harus diminta, sang ibu sudah menyiapkan makan dan minum. Itu dilakukan setiap hari selama berada di rumahnya.

“Mereka terlalu baik, teringat kalau sedang guyon sesama temannya seperti anak kecil. Kadang-kadang crita, teringat anak-anaknya yang masih sekolah dan istrinya harus mengurus semua pekerjaan di rumah. Ada yang tanpa basi-basi minta dibuatkan kopi, sambil bak-buk, bak-buk,” kata Sukinem mengingat tingkah laku para tentara selama berada di rumahnya.

Sekadar diketahui, di Desa Lengkonglor, Kecamatan Ngluyu sedang dibangun jalan tembus sepanjang 5,2 kilometer dengan lebar 5 meter. Jalan tembus menjurus Desa Lengkonglor – Losari. Selain jalan tembus, program TMMD juga merenovasi rumah tidak layak huni (RTLH) milik 10 warga tidak mampu, serta program non-fisik.

Selama program berjalan, anggota satgas TMMD menginap di rumah-rumah warga. Mereka membaur bersama warga setempat, siang dan malam selama 30 hari lamanya.

Reporter: Sukadi

Editor : Yuniar N.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *