Berita Utama Birokrasi Budaya Entertainment News

Berawal Mitos Jadi Nyata

Hanya Selendang Kuning yang Bisa Menembus Lengkonglor – Losari

NGANJUK“Yen wis titi wancine ana rejane jaman, desa ngadesa ratane amba-amba, iya mung ‘Selendang Kuning’ kang bisa mbedah antarane Lengkonglor – Losari, merga alas gung liwang-liwung ora kena dijamah manungsa, mula rakyat isa dadi mulya. (Kalau sudah tiba saatnya, jaman sudah maju, antar desa jalannya lebar-lebar, iya cuma ‘Selendang Kuning’ yang mampu membuka antara Lengkonglor (desa,red) menuju Losari (desa,red), karena hutannya yang lebat dan berbahaya, tidak bisa disentuh oleh manusia, maka rakyat bisa hidup sejahtera.”

Selain mitos pantangan mengenakan motif batik parang rusak yang berkembang di wilayah Kecamatan Ngluyu, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, masih ada mitos “Selendang Kuning” yang sangat melekat dengan kehidupan masyarakat di Lereng Pegunungan Kendeng Utara ini. Mitos Selendang Kuning paling kental berkembang di Desa Lengkonglor, wilayah setempat.

Walles sebagai perumpamaan mitos Selendang Kuning di Desa Lengkonglor yang bisa menembus hutan menjadi jalan (foto-zal)

Meski telah berkembang secara turun-temurun menjadi cerita dari mulut ke mulut, namun tidak satu pun orang yang dapat menerjemahkan mitos Selendang Kuning. Kecuali mitos pantangan mengenakan batik parang rusak yang dapat dirasakan akibatnya bagi siapa saja yang melanggarnya, bencana berupa hujan deras diikuti kilat menyambar terjadi. Bahkan mitos motif batik parang rusak masih berkembang hingga jaman modern ini.

Agus Wanto, (40) warga Dusun Gurit, Desa Lengkonglor, orang yang sering kasak-kusuk membicarakan adanya seorang tokoh yang akan datang ke desanya, mengenakan selendang kuning. Sang tokoh itulah yang mampu mensejahterakan kehidupan warga Desa Lengkonglor dan sekitarnya setelah berhasil menembus hutan menjadi jalan dari Desa Lengkonglor menuju Losari.

Ucapan Agus Wanto, yang dipercaya warga setempat memiliki kekuatan supra natural dan ditokohkan sebagai salah satu tokoh yang berilmu ghaib yang tinggi, akhirnya mitos Selendang Kuning menyebar kemana-mana. Namun tetap saja, tidak satu pun yang dapat menerjemahkan.

Baru sekitar tiga bulan yang lalu, bertepatan adanya beberapa alat berat, backhoe, tractor, dan walles berbondong-bondong datang ke Desa Lengkonglor, membuat Agus Wanto terkejut dan langsung teringat sebuah mitos Selendang Kuning yang sudah ratusan tahun berkembang di desanya. Hanya, Agus Wanto belum berani mengungkap makna dari alat-alat berat yang semuanya bercat kuning, konon akan digunakan untuk menerobos hutan untuk dibuat jalan baru tersebut.

Backhoe, alat berat yang digunakan untuk menembus hutan menjadi jalan, perumpamaan Selendang Kuning bagi warga Desa Lengkonglor (foto-sukadi)

Kendati demikian, Agus Wanto masih belum percaya, apakah alat-alat berat yang serba berwarna kuning mengkilat tersebut sebagai perumpamaan dari mitos Selendang Kuning yang selama ini dinanti-nanti.

Baru sekitar sebulan yang lalu, ketika program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-101 tahun 2018 Kodim 0810/Nganjuk resmi dibuka, dan kegiatannya dipusatkan di Desa Lengkonglor, Agus Wanto berucap,

“Ini ternyata jawaban dari pesan leluhur yang mengatakan, Yen wis titi wancine ana rejane jaman, desa ngadesa ratane amba-amba, iya mung ‘Selendang Kuning’ kang bisa mbedah antarane Lengkonglor – Losari, merga alas gung liwang-liwung ora kena dijamah manungsa, mula rakyat isa dadi mulya.”

Di hadapan Komandan Kodim 0810/Nganjuk Letkol Arh. Sri Rusyono, tokoh masyarakat Desa Lengkonglor ini banyak bercerita ikhwal “Selendang Kuning” merupakan perumpamaan dari alat-alat berat yang berwarna serba kuning. Sebuah alat yang digunakan untuk membedah hutan, dari Desa Lengkonglor menuju Losari menjadi jalan.

Kebahagiaan warga Desa Lengkonglor pun tak terbendung, begitu jalan yang semula berupa hutan lebat dan hanya berupa jalan setapak berlumpur, kini berubah menjadi jalan beraspal mulus.

“Sudah, sekarang mulai jelas bahwa yang dimaksud Selendang Kuning dari pesan mbah-mbah jaman dulu, yang bisa membuka hutan menjadi jalan tembus adalah para tentara, menggunakan alat berat berwarna serba kuning,” jelas Agus Wanto, Selasa, 01 Mei 2018.

Dandim 0810/Nganjuk pun tidak menyangka adanya mitos yang begitu kuat berkembang di Desa Lengkonglor sebelumnya. Pihaknya hanya menjalankan tugas sebagai abdi Negara untuk menyukseskan program-program pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan. Untuk itu, Desa Lengkonglor, Kecamatan Ngluyu menjadi pilihan program TMMD tahun 2018.

Bahkan pernyataan Agus Wanto terulang kembali di hadapan Dandim Letkol Arh. Sri Rusyono dua hari menjelang upacara penutupan TMMD, Kamis, 03 Mei 2018. Ini saat Dandim melakukan kegiatan komunisasi sosial ke rumah-rumah warga yang ditempati selama program TMMD berjalan.

“Penting kami lakukan komunikasi sosial kepada warga, karena warga yang membantu menyuseskan program TMMD,  baik bantuan tenaga, moral, maupun penginapan selama anggota kami menjalankan tugas,” pungkasnya.

Reporter : Sukadi

Editor: Nidya P.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *