Berita Utama Birokrasi Budaya Entertainment News Wisata

Kidung Cinta Parang Rusak Merayu Selendang Sutra Prajurit TNI

Perjalanan Warga Lengkonglor Memiliki Mimpi Jalan Tembus Menuju Losari

NGANJUK– Dahulu sekitar tahun 1830-an, semasa Pangeran Diponegoro kalah perang melawan Belanda, banyak prajuritnya yang melarikan diri ke seluruh penjuru tanah Jawa. Diantaranya, Djalaludin atau Sinari, Gedong, Puncu, dan Bajang. Untuk menyelamatkan diri dari kejaran tentara Belanda, keempat prajurit Pangeran Diponegoro tersebut tidak menetap dalam satu tempat. Djalaludin atau Sinari bersembunyi di Puncak Gunung Panjalu, ditemani kedua istrinya. Gedong berada di Desa Ngluyu, Puncu berada di Desa Gampeng, dan Bajang berada di Lereng Gunung Perahu. Hanya, masing-masing berada dalam satu wilayah di Kecamatan Ngluyu.

Konon, keempat tokoh tersebut masih bersaudara dan memiliki wajah yang mirip. Mereka selalu bersama-sama saat berjuang bersama Pangeran Diponegoro melawan Belanda.  Hanya, untuk mengelabuhi tentara musuh-musuhnya, mereka melepas segala identitas yang melekat, termasuk pakaian adat Jawa Tengah dan berganti nama.

Sebelumnya, keempat bersauadara tersebut suka mengenakan pakaian, bawahan jarit dan baju bermotif batik parang rusak dengan udeng gadung melati. Sehingga penampilan orang tersebut mudah dikenali.

Kondisi jalan baru Desa Losari menuju Lengkonglor mulus (foto-sukadi)

Hanya, dalam penyamaran semua identitas tersebut dilepas, cukup mengenakan pakaian sebagaimana pakaian penduduk asli, sehingga ketika membaur tidak dapat dikenali lagi. Kendati demikian, keempat tokoh tersebut dikenal memiliki kesaktian lebih dan bijaksana. Termasuk ilmu agama Islam yang diyakini. Tak heran, keberadaan prajurit Pangeran Diponegoro tersebut membuat warga setempat tertarik dan ingin berguru.

Salah satunya adalah Djalaludin yang berganti nama Sinari, mengajari para muridnya di Puncak Gunung Panjalu. Kepada murid-muridnya, Sinari berpesan, “Bagi siapa saja, jangan ada yang mengenakan pakaian, bawahan jarit dan baju bermotif batik parang rusak dengan udeng gadung melati,” pesan Sinari tanpa menyebutkan alasannya.

Sebelum kedatangan Sinari, tempat yang kini bernama Lengkonglor berlokasi di tengah hutan lebat dan terisolir. Akses jalan sulit dijangkau dari segala penjuru, sehingga sering dijadikan tempat yang aman untuk bersembunyi para pelarian dan penjahat. Hanya para pelarian tersebut memiliki kesukaan judi sabung ayam. Melihat kebiasaan penduduk Desa Lengkonglor, yang suka judi sabung ayam, membuat Sinari marah. Hingga mengobrak abrik setiap ada warga yang bebotohan sabung ayam. Karuan keberanian Sinari mendapat perlawanan dari para bebotoh.

Suatu ketika, Sinari menantang salah satu bebotoh yang jagonya tidak pernah terkalahkan. Tatangan Sinari diterima dengan syarat bila jagonya kalah, maka Sinari bersama dua istrinya harus pergi meninggalkan Desa Lengkonglor. Sebaliknya, bila jago bebotoh yang kalah, maka dia siap menerima hukuman apa saja.

Keesokan harinya, Sinari dan bebotoh sudah siap dengan jagonya masing-masing dan siap untuk diadu. Namun begitu kedua jago dilepas di tengah arena sabung ayam, jago bebotoh tidak mau berkokok, justru lari meninggalkan arena.

Sejak itu, judi sabung ayam di Desa Lengkong tidak lagi ada, sementara para bebotoh dan warga Desa Lengkonglor banyak yang berguru kepada Sinari. Nama Sinari sendiri mulai dikenal hingga ke tetangga desa. Sinari mulai dihormati dengan sebutan “Eyang Sinari.”

Namun dalam perjalanan, kebiasaan bebotoh yang telah dikalahkan oleh Eyang Sinari sering kambuh. Bahkan penampilannya sering melanggar pesan Eyang Sinari, termasuk motif pakaian dan udeng yang dikenakan.

Merasa dihina, Eyang Sinari mencari keberadaan bebotoh yang dulu pernah dikalahkan saat adu jago. Eyang Sinari akhirnya dapat menemukan bebotoh dengan mudah dalam sebuah arena adu jago. Benar, terlihat seorang laki-laki gagah mengenakan jarik motif parang rusak dengan udeng gadung melati sedang judi adu jago. Persis sama, motif jarik dan udeng yang dikenakan oleh Eyang Sinari. “Kalau tidak segera diakhiri, bisa-bisa penyamaran kami dapat diketahui oleh musuh,” kata Eyang Sinari dalam hati.

Kontan perkelahian terjadi di tengah arena adu jago. Tidak kuat menahan amarah, Eyang Sinari mendatangkan hujan deras bercampur angin kencang dan kilat menyambar, sambil berujar,”Bagi siapa saja yang menghina saya (Eyang Sinari,red), akan saya kejar dan saya samakan dosanya dengan muridku yang durhaka ini.”

Semenjak itu, warga Ngluyu tidak berani lagi melanggar pesan dari Eyang Sinari, mengenakan pakaian bermotif parang rusak, apalagi dilengkapi dengan udeng gadung melati.

Penduduk Lereng Gunung Panjalu bertambah patuh dan taat kepada Eyang Sinari. Mereka lebih bersemangat dan tenang tinggal bersama Eyang Sinari. Mendalami ilmu keagamaan dan olah kanoragan. Mereka tidak pergi kemana-mana, meski ke desa terdekat. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya saat itu, mereka menggunakan sistem barter, tukar menukar barang yang dimiliki. Mereka mengolah lahan sawah yang ada, dan memanfaatkan hasil hutan. Hingga suatu ketika, Eyang Sinari wafat dan dimakamkan di puncak Gunung Panjalu, dekat padepokan tempat mengajar para muridnya. Menyusul istri tuanya wafat dimakamkan berdekatan dengan Eyang Sinari. Terakhir istrinya mudanya menyusul, dimakamkan agak jauh dari kedua makam sebelumnya.

Disoal, mengapa makam istri mudanya tidak dimakamkan jadi satu, berdekatan dengan Eyang Sinari? Karena semasa hidupnya, antara istri tua dengan istri muda tidak bisa saling hidup rukun. Sehingga, istri tua Eyang Sinari bersumpah, bila meninggal kelak, tidak ingin jenazahnya dikubur dalam satu lokasi dengan madunya.

Waktu terus berlalu, hari terus berganti. Warga Desa Lengkonglor terlihat hidup dalam kesederhanaan. Pantauan , kondisi perekonomian masyarakat Ngluyu tergolong miskin dibanding wilayah kecamatan lain di Nganjuk. Penghasilan penduduk setempat rata-rata bertani padi dan palawija. Kondisi tanah berkapur dan mudah kering. Untuk turun ke sawah, petani mengandalkan air tadah hujan. Sementara irigari dari sumber atau bendungan, sangat minim.

Sebagian ada yang beternak, sapi, kerbau, kambing, dan unggas. Namun sebagian besar berternak kambing. Hanya sistem beternak masih konvensional.Ternak tidak dirawat dalam kandang dengan diberi makan rumput atau konsentrat, melainkan diliarkan merumput di hutan.

Ini tampaknya yang menggerakkan hati Komandan Kodim 0810 Nganjuk, Letkol Arh. Sri Rusyono memusatkan program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-101 tahun 2018 di Desa Lengkonglor, Kecamatan Ngluyu. Karena, salah satu desa ini, penduduknya tergolong tertinggal dari desa-desa lain di Nganjuk. Selain lokasinya berada di lereng pegunungan Kendeng Utara, juga kondisi masyarakatnya banyak yang sangat hidup sederhana.

Letkol Arh. Sri Rusyono menyampaikan, salah satu indikator program TMMD untuk memajukan daerah tertinggal. Seperti TMMD yang dipusatkan di Desa Lengkonglor, Kecamatan Ngluyu ini, salah satu wujud Operasi Bhakti TNI, yang merupakan program terpadu lintas sektoral antara TNI dengan pemerintahan daerah Kabupaten Nganjuk, dilaksanakan secara terintegrasi bersama masyarakat. Tujuannya, meningkatkan akselerasi kegiatan pembangunan di daerah pedesaan, khususnya daerah yang tergolong tertinggal, terisolasi, perbatasan, dan daerah kumuh perkotaan serta daerah lain yang terkena dampak akibat bencana.

“Termasuk di Desa Lengkonglor ini, sudah memenuhi kriteria untuk dilaksanakan program TMMD, termasuk akses jalan utama yang hanya satu menjurus ke wilayah kecamatan lain. Dan hanya di Ngluyu yang hanya memiliki satu jalan utama, sehingga arus kendaraan hanya bergerak bolak-balik,” terangnya.

Untuk itu, lanjutnya, telah dibuka jalan baru sepanjang 5,2 kilometer, dengan lebar 5 meter dari Desa Lengkonglor menuju Desa Losari, Kecamatan Gondang. Satgas TNI bersama warga setempat, dibantu beberapa pelajar, pramuka, dan ormas bahu-membahu membangun jalan tembus, menerobos hutan dan perkampungan. Sehingga akses jalan, tidak lagi hanya satu, masyarakat Kecamatan Ngluyu bisa menggunakan akses jalan baru bila hendak ke wilayah kecamatan lain.

“Ini merupakan upaya TNI untuk berkontribusi melestarikan sejarah terutama nilai kemanunggalan TNI-Rakyat,” tegasnya.

Dengan dibangunnya jalan baru, mobilitas sistem perekonomian menjadi lancar. Petani tidak lagi bermasalah dengan sarana transportasi untuk mengangkut hasil panen. Juga warga lain dapat membangun jaringan bisnis baru dengan warga lain yang ada di daerah lain. Desa tidak lagi sepi, mereka dengan mudah berinteraksi dengan masyarakat luar Desa Lengkonglor.

“TMMD dapat dikatakan sebagai lompatan pembangunan awal di pedesaan, selebihnya bisa dilanjutkan oleh pemerintahan desa atau pemerintah daerah. Yang penting bukti permulaan sudah terbentuk, tinggal bagaimana tindak lanjutnya,” tukas Dandim.

Pemerintah telah berupaya sekuat tenaga semata-mata untuk mensejahterakan warga desa tertinggal, seperti Desa Lengkonglor lewat program TMMD. Bahkan sentuhan-sentuhan keras tangan-tangan para prajurit TNI tiba-tiba menjadi lembut, selembut selendang sutra agar secepatnya kondisi perekonomian warga pinggiran ini sejajar wilayah lain. Buaian jalan tembus yang sulit dinalar bila dikerjakan oleh warga sendiri pun terjamah, serta sanjungan psikologis agar hidup lebih bersemangat dan bermakna. Tak ada lagi yang kurang. Hanyalah tidak mungkin, buaian dan sanjungan terus dicurahkan bagi warga Desa Lengkonglor, pasti menunggu saatnya untuk dapat berjalan sendiri, tanpa sentuhan tangan keras yang melembut dari prajurit TNI lagi. Jadilah, “Kidung Cinta Parang Rusak Merayu Selendang Sutra Prajurit TNI.”

“Ironisnya, justru mitos tragis motif batik Parang Rusak yang masih tumbuh subur di lereng Gunung Kendeng Utara ini.”

Reporter : Sukadi // Editor : Nidya Pratiwi

Sumber: Jaito, (65), juru kunci Gunung Panjalu, Desa Lengkonglor, Kecamatan Ngluyu. Jaito mendapat cerita tentang Gunung Panjalu, tempat makam Eyang Sinari dan kedua istrinya dari ibunya, Jainem juga juri kunci Gunung Panjalu.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *