Berita Utama News Politik

Wartawan Dilarang Liput Debat Pilkada Nganjuk

Pihak EO Terancam Dilaporkan ke Polisi dan Dewan Pers

NGANJUK – – Debat publik pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Nganjuk 2018 diwarnai ketegangan antara pihak penyelenggara dengan sejumlah wartawan. Debat publik kedua yang berlangsug di Gedung Wanita Nganjuk, Selasa malam, 24 April 2018, tiba-tiba pihak moderator melarang awak media untuk meliput jalannya debat. Kontan, terjadi protes wartawan kepada komisioner KPU Nganjuk sebagai penyelenggara debat. Akibatnya, wartawan memboikot meliput acara debat.

Protes keras hingga nyaris ricuh itu terjadi saat acara tengah bersangsung.

Suasana tidak kondusif malam itu terjadi akibat dari pihak event organizer (EO), pihak ketiga yang menangani acara debat melarang semua awak media, kecuali yang menjalin kerjasama dengan EO, untuk tidak mengambil gambar atau suara dalam bentuk apapapun.

Karena belum ada titik temu, pihak wartawan sempat memilih untuk memboikot acara debat pilkada tersebut dengan tidak memberitakan jalannya debat. Bahkan mereka melepas kartu identitas dan alat peliputan sebagai tanda protes.

wartawan melepas kartu identitas dan alat peliputan sebagai tanda protes (foto-sukadi)

Ketua KPUD Nganjuk, Agus Rahman Hakim mengaku terkejut mendengar moderator melarang wartawan agar tidak meliput jalannya debat.

“Kami kaget, langsung kami tegur supaya dicabut larangan wartawan untuk tidak meliput. Tapi justru diulang lagi oleh pembawa acara, wartawan tidak boleh mengambil gambar dalam bentuk apapun baik video maupun suara,” terang Agus Rahman Hakim.

Menurut Agus, larangan wartawan untuk tidak meliput bukan berangkat dari komisioner KPU, melainkan dari pihak EO yang disampaikan lewat moderator dan pembawa acara.

Hanya setelah sekitar 30 menit terjadi koordinasi antara pihak komisioner dengan EO, awak media kembali diperbolehkan meliput.

“Tadi setelah kami menegur yang kedua, baru diralat, akhirnya wartawan boleh meliput,” tegas ketua KPU Nganjuk.

Kendati pihak EO telah memperbolehkan kembali meliput, wartawan mengaku kecewa terhadap larangan wartawan tidak boleh meliput. Selama kurun waktu sekitar 30 menit, wartawan mengaku kehilangan banyak moment penting debat. Untuk itu, mereka mengancam melaporkan pihak pelaksana kegiatan debat ke kepolisian dan dewan pers, karena dianggap menghalangi kerja media.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *