News Opini Politik

Debat Kedua Pilkada Nganjuk Ditinggal Umroh Cabup Novi

Muncul Spekulasi Novi Ciderai Demokrasi dan Sakiti Hati Rakyat

NGANJUK –– Debat publik kedua, pemilihan Bupati dan Wakil Bupati (cabup – cawabup) Nganjuk 2018 diwarnai ketimpangan. Salah satu calon bupati Nganjuk, Novi Rahman Hidayat mangkir menghadiri debat terbuka yang digelar di Gedung Wanita Nganjuk, Selasa malam, 24 April 2018. Sehingga, pasangan calon (paslon) bupati Nganjuk nomor urut satu ini hanya diwakilkan kepada cawabupnya, Marhaen Djumadi.

Kontan ketidakhadiran paslon Novi memunculkan reaksi keras dan spekulasi dari beberapa masyarakat Nganjuk. Diantaranya, membuat para calon pendukungnya kecewa. Mereka menuduh Novi tidak sungguh-sungguh mencalonkan jadi Bupati Nganjuk berpasangan dengan Marhaen. Sehingga, lebih mementingkan dirinya sendiri ketimbang urusan nasib orang Nganjuk.

Biaya untuk sebuah pilkada, menghabiskan miliaran rupiah dan melibatkan banyak elemen masyarakat. Mulai dari penyelenggara pemilu tingkat desa hingga kabupaten, telah bekerja keras menyukseskan pilkada Nganjuk. Mereka tidak ingin terjadi kesalahan dan pelanggaran pilkada sedikitpun demi mewujudkan seorang pemimpin yang baik.

Cawabup Marhen sendiri ditinggal Cabup-nya umroh (foto-sukadi)

Apalagi, debat dirilis oleh sejumlah media elektronik, cetak maupun cyber. Tujuannya agar masyarakat Nganjuk dapat melihat kemampuan dari masing-masing calon pemimpin lewat media massa, sebelum kemudian menentukan pilihannya.

Spekulasi kedua, disimpulkan dari hasil debat pertama, Novi sengaja menghindar untuk beradu visi dan missi kepada dua paslon lain pada debat kedua. Dia takut kredibilitasnya terbongkar saat debat kedua sehingga memerosotkan tingkat popularitasnya. Lantaran tidak menguasai materi debat yang dilontarkan moderator.

Berikutnya, Novi menciderai amanah demokrasi dan menyakiti hati rakyat. Untuk urusan pilkada, tidak hanya urusan antar paslon dengan paslon, melainkan melibatkan nasib semua masyarakat Nganjuk, baik janin yang masih dalam kandungan hingga sudah tua. Mereka semua menggantungkan nasibnya dengan memilih calon pemimpinnya yang tepat dengan melihat dari dekat.

Tidak seperti memilih kucing dalam karung, memilih seorang pemimpin dari kata-kata atau uang yang melimpah. Tapi dari sebuah komitmen untuk mensejahterakan masyarakat, karena dipilih dari rakyat untuk rakyat.

Ulah Novi seperti ini, tidak hanya sekali. Hampir di setiap kegiatan yang diselenggarakan oleh KPU, sering terjadi. Seperti, pulang lebih dulu pada acara kampanye damai di lapangan GOR Bungkarno, datang terlambat pada acara penetapan calon bupati dan wakil bupati Nganjuk di Gedung Balai Budaya, datang terlambat pada technical meeting debat perdana di kantor KPU, dan lain-lain. Beruntung paslon lain berhati mulia, tidak melakukan protes atau somasi meski sering dibuat harus menunggu dan kecewa.

Dikonfirmasi ketidak hadiran Novi, cawabup Nganjuk Marhaen menjawab ringan. Cabup-nya sedang menjalankan ibadah umroh, sehingga mewakilkan dirinya saat debat kedua.

Selintas jawaban Marhaen bisa dibenarkan, karena menjalankan ibadah adalah urusan pribadi, bukan urusan masyarakat Nganjuk. Namun ditilik kepentingan pilkada, bukan persoalan urusan pribadi, Novi bersama wakilnya, atau partai pengusung dan pendukungnya. Mengingat, tahapan pilkada dirancang sedemikian rupa, sehingga meminimalisir kesalahan dan kecurangan pra, proses, dan pasca pilkada. Sehingga untuk urusan ibadah, apalagi bukan ibadah wajib setidaknya bisa dimaklumkan bila dijalankan tidak berbenturan dengan jadwal yang telah diputuskan penyelenggara pemilu.

Netralitas penyelenggara pilkada teruji. Meski ada salah satu calon bupati diketahui tidak dapat hadir saat debat, jadwal dijalankan sesuai keputusan. Tidak dimajukan dan pula tidak dimundurkan. Undang-Undang telah mengatur, bagi pasangan calon pilkada dimaklumi untuk tidak hadir saat debat, ada dua hal. Yakni karena sakit yang ditunjukkan dengan surat dokter dan menjalankan ibadah dengan didukung berkas-berkas menguatkan. Ketua KPU Nganjuk, Agus Rahman Hakim pun juga tidak menyayangkan meski ada salah satu calon bupati tidak hadir saat debat. Karena memang itu sudah menjadi pilihan calon untuk tidak hadir, proses debat kedua tetap berjalan sesuai keputusan.

Penulis: Sukadi

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *