Berita Utama Birokrasi Budaya Entertainment News

Satgas TMMD 2018 Kodim/Nganjuk Gali Potensi Sejarah Lengkonglor

Legenda Eyang Sinari Gunung Panjalu

NGANJUK –– Satgas TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-101 2018 Kodim 0810/Nganjuk melakukan eksplorasi potensi sejarah di Desa Lengkonglor, Kecamatan Ngluyu, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Salah satu anggota Satgas TMMD, Serda Syaifudin mendatangi Jaito, (65) juru kunci Gunung Panjalu di Dusun Sumberayu, Desa Lengkonglor. Kepada Serda Syaifudin, Jaito menyampaikan, Gunung Panjalu adalah sebuah lokasi makam seorang tokoh terkenal di Desa Lengkonglor bernama Eyang Sinari bersama dua istrinya.

Eyang Sinari sendiri adalah seorang prajurit Pangeran Diponegoro yang melarikan diri karena dikejar-kejar oleh tentara Belanda. Saat itu, Eyang Sinari ditemani tiga saudara laki-laki dan dua istrinya. Hanya ketiga saudaranya tersebar hingga kesasar di beberapa tempat. Ketiga saudaranya adalah Gedong, Puncu dan Bajang. Mereka tersebar menyelamatkan diri dari pencarian tentara Belanda. Sedangkan Sinari ditemani oleh kedua istrinya, ketiganya meninggal dimakamkan di Gunung Panjalu.

“Yang di dalam cungkup ada dua makam, yaitu Eyang Sinari dan istri tuanya. Sedangkan yang di luar ada satu makam, yaitu istri muda Eyang Sinari,” terang Mbah Jaito, juru kunci Gunung Panjalu yang sudah 18 tahun merawat makam Eyang Sinari dan kedua istrinya.

Disoal, mengapa makam istri mudanya tidak dimakamkan jadi satu di dalam cungkup, Mbah Jaito menandaskan, karena semasa hidupnya, antara istri tua dengan istri muda tidak bisa saling hidup rukun. Sehingga, istri tua Eyang Sinari bersumpah, bila meninggal kelak, tidak ingin jenazahnya dikubur dalam satu lokasi dengan madunya.

Semasa hidup di Desa Lengkonglor, Eyang Sinari dikenal sebagai tokoh yang sakti mandraguna dan bijaksana. Termasuk tiga saudaranya yang lain, Gedong, Puncu, dan Bajang, masing-masing memiliki kesaktian yang luar biasa.

Sebelum kedatangan Eyang Sinari, Desa Lengkonglor berlokasi di tengah hutan lebat dan terisolir. Akses jalan sulit dijangkau dari segala penjuru, sehingga sering dijadikan tempat yang aman untuk bersembunyi para pelarian dan penjahat. Hanya para pelarian tersebut memiliki kesukaan judi sabung ayam. Melihat kebiasaan penduduk Desa Lengkonglor, yang suka judi sabung ayam, membuat Eyang Sinari marah. Hingga mengobrak abrik setiap ada warga yang bebotohan sabung ayam. Karuan keberanian Eyang Sinari mendapat perlawanan dari para bebotoh.

Suatu ketika, Eyang Sinari menantang salah satu bebotoh yang jagonya tidak pernah terkalahkan. Tatangan Eyang Sinari diterima dengan syarat bila jagonya kalah, maka Eyang Sinari bersama dua istrinya harus pergi meninggalkan Desa Lengkonglor. Sebaliknya, bila jago bebotoh yang kalah, maka dia siap menerima hukuman apa saja.

Keesokan harinya, Eyang Sinari dan bebotoh sudah siap dengan jagonya masing-masing dan siap untuk diadu. Namun begitu kedua jagi dilepas di tengah arena sabung ayam, jago bebotoh tidak mau berkokok, justru lari meninggalkan arena.

Sejak itu, judi sabung ayam di Desa Lengkong tidak lagi ada, sementara sementara para bebotoh dan warga Desa Lengkonglor banyak yang berguru kepada Eyang Sinari.

Namun dalam perjalanan, kebiasaan bebotoh yang telah dikalahkan oleh Eyang Sinari sering kambuh. Bahkan penampilannya sering menyamai Eyang Sinari, termasuk motif pakaian dan blangkon yang dikenakan.

Merasa dihina, Eyang Sinari mencari keberadaan bebotoh yang dulu pernah dikalahkan saat adu jago. Eyang Sinari akhirnya dapat menemukan bebotoh dengan mudah dalam sebuah arena adu jago. Benar, terlihat seorang laki-laki gagah mengenakan jarik motif parang rusak dengan udeng Gadung Melati sedang judi adu jago. Persis sama, motif jarik dan udeng yang dikenakan oleh Eyang Sinari.

Kontan perkelahian terjadi di tengah arena adu jago. Tidak kuat menahan amarah, Eyang Sinari mendatangkan hujan deras bercampur angin kencang dan kilat menyambar, sambil berujar,”Bagi siapa saja yang menghina saya (Eyang Sinari,red), akan saya kejar dan samakan dosanya dengan muridku yang durhaka.”

Reporter: Sukadi

Editor: Nidya Pratiwi

Sumber: Jaito, (65), juru kunci Gunung Panjalu, Desa Lengkonglor, Kecamatan Ngluyu. Jaito mendapat cerita tentang Gunung Panjalu, tempat makam Eyang Sinari dan kedua istrinya dari ibunya, Jainem juga juri kunci Gunung Panjalu.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *