Berita Utama Birokrasi Bisnis Ekonomi News

Perajin Gembol Ngluyu Rambah Luar Daerah

Tarik Hasrat Satgas TMMD Kembangkan Bisnis Bonggol Kayu Jati

NGANJUK – ANJUKZONE – Bonggol atau tonggak kayu jati yang biasanya hanya dimanfaatkan sebagai kayu bakar, tidak demikian bila jatuh di tangan seorang seniman. Bonggol kayu dapat berubah menjadi perabot rumah tangga ataupun sebuah relief bernilai artistik. Harga jualnya pun bisa mencapai puluhan juta rupiah bila sudah berubah menjadi relief.

Seperti ditekuni, Rafan, (40), seorang pengusaha bonggol kayu jati yang berlokasi di Dusun Gurit, Desa Lengkonglor, Kecamatan Ngluyu, Kabupaten Nganjuk Jawa Timur ini. Bonggol kayu jati yang biasa dia sebut gembol , oyot atau akar itu diolah menjadi perabot rumah tangga yang artistik, seperti meja, kursi, tempat tidur, peralatan dapur, vas bungga, dan sebagainya.

Koleksi Rafan, karya perajin gembol Ngluyu (foto-zal)

Bukan hanya menjadi perabotan rumah tangga, akar kayu jati tersebut juga diolah menjadi patung relief dalam berbagai bentuk dan ukuran. bahkan, nilai jualnya pun bisa mencapai puluhan juta rupiah untuk satu unit hasil karya.

Menurut Rafan, hasil karyanya sudah merambah hingga luar daerah, seperti Madiun, Lamongan, Kediri, Malang, Jakarta, hingga Bali. Mereka rata-rata, membeli dalam bentuk setengah jadi. Sementara, finishing-nya ditangani sendiri.

“Yang banyak disukai pembeli tersebut, antara lain hasil karya berupa meja, kursi, dan  patung relief binatang,” jelas Rafan, Rabu, 04 April 2018.

Untuk meja dan kursi, perajin akar kayu jati yang sudah menekuni usahanya selama puluhan tahun ini, menjual bijian.  Untuk satu buah kursi dijual seharga sekitar satu juta rupiah, untuk meja ukuran sedang seharga tiga hingga Rp 4 juta rupiah. Sedangkan untuk jenis ukiran-ukiran, dipatok seharga antara Rp 7 juta hingga belasan juta rupiah, untuk ukuran sedang.

Kopda Simun mempraktikkan cara membuat kursi berbahan bonggol kayu jati dari MBah Raseno (foto-sukadi)

Yang menentukan tinggi rendahnya harga, adalah faktor pengerjaan. bila tingkat kerumitan tinggi dan ukurannya besar, harga juga ikut tinggi. Seperti baru saja relief yang diberi judul “Singa Edan,” terjual seharga Rp 12 juta.

“Yang membeli orang Malang,” tegasnya.

Untuk bahan baku, Rafan, mengaku tidak mengalami kesulitan. Perajin tonggak jati rata-rata mendapatkan bahan dari daerah yang memiliki hutan jati. seperti di daerah Madiun, Bojonegoro dan dari Nganjuk sendiri.

Selain memproduksi sendiri, Rafan juga mengepul dari hasil perajin lain yang ada di sekitarnya. Mereka diajari terlebih dahulu untuk membuat berbagai bentuk dan motif yang diinginkan, hasilnya dijual kepadanya. Mereka menjual ke kami masih dalam bentuk mentahan, kemudian kami perhalus,” terang Rafan ditemui di galeri yang menyatu dengan rumah yang ditempati.

Seperti perajin Mbah Raseno, tiap hari memproduksi kerajinan bonggol jati untuk memenuhi pesanan dari pengepul, Rafan tetangganya.  Menurut Rafan, karya Mbah Raseno tergolong berkualitas bagus. Sehingga, karya-karya cepat laku setelah dilakukan pemolesan.

Ini tampaknya yang menyulut hasrat Kopda Simun untuk berguru kepada Mbah Raseno, kerajinan gembol bisa bernilai bisnis yang tinggi. Salah satu anggota Satgas TMMD Reguler ke-101 tahun 2018 Kodim 0810/Nganjuk yang dipusatkan di Desa Lengkonglor, Kecamatan Ngluyu, Kabupaten Nganjuk ini, minta diajari bagaimana caranya mengolah bahan baku bonggol kayu jati yang masih mentah untuk bisa menjadi hasil karya artistik. Bukan hanya itu, Kopda Simun juga berguru bagaimana caranya untuk mendapatkan bahan baku dan marketing.

“Biasanya untuk sebuah usaha baru itu yang dikeluhkan adalah pasokan bahan baku dan cara pemasarannya. Nanti sudah terlanjut memproduksi dalam jumlah besar, ternayata mencari bahan baku sulit, terus pemasarannya juga,” ujar anggota Satgas TMMD ini.

Menurut Simun, ilmu yang dia dapat dari berguru bisnis kerajinan kayu gambol, selain untuk pekerjaan sampingan selama masih berstatus sebagai anggota TNI, juga sebagai persiapan masa pensiun.

Mbah Raseno sendiri dengan ikhlas menularkan ilmunya bagi siapa saja yang ingin menekuni bisnis kayu gambol. Termasuk kepada Kopda Simun, Mbah Raseno mempraktikkan caranya memilih bahan baku untuk kemudian dijadikan kerajinan sesuai selera.

“Semua kayu genbol bisa kita jadikan kerajinan sesuai selera kita, asal kita telaten,” pungkas Mbah Raseno.

Reporter : Sukadi

Editor : Yuniar Nurrohmah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *