Berita Utama Birokrasi Ekonomi News Pertanian

Jagung Jadi Handalan Petani Lengkonglor

Tak Lagi Tergantung Tengkulak Jual Hasil Panen

NGANJUK – ANJUKZONE – Selain padi dan bawang merah, produksi pertanian warga Desa Lengkonglor, Kecamatan Ngluyu adalah jagung. Bahkan produksi jagung di desa yang kini tengah dibangun jalan baru, menembus Desa Losari, Kecamatan Gondang ini, menjadi penghasilan handalan petani.

Dari lahan 287 hektare yang ditanami jagung, dapat menghasilkan sekitar 73 ton setiap tahunnya. Menyusul produksi tanaman padi, dari lahan 247 hektare dapat menghasilkan sekitar 60 ton. Sementara produksi tanaman bawang merah, dari lahan 9 hektare dapat menghasilkan sekitar 108 kwintal. Selebihnya, warga Desa Lengkonglor bertanam cabe, kacang tanah, kacang hijau, dan sayuran.

Tanaman jagung yang menjadi handalan petani Desa Lengkonglor (foto-sukadi)

Pidin, (58), warga Dusun Gurit, desa setempat menyampaikan, produksi pertanian di desanya, masih katagori rendah bila dibanding desa lain yang ada di wilayah Kecamatan Ngluyu, yakni Desa Sugihwaras, Ngluyu, Gampeng, Tempuran, dan Bajang. Lantaran, sistem pertanian di desanya sepenuhnya menggantungkan sistem irigasi tadah hujan. Sehingga, petani turun ke sawah hanya setahun sekali ketika musim hujan turun.

“Kalau ada hujan turun, petani mulai ke sawah tanam padi dan bawang merah,” terang Paidin ditemui ANJUKZONE di area TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-101 yang dipusatkan di desanya, Sabtu pagi, 07 April 2018.

Untuk itu, petani lebih suka menanam tanaman yang tidak begitu banyak membutuhkan pengairan, seperti jagung, cabe, dan kacang hijau. Ketiga tanaman tersebut menjadi pilihan bila kondisi pengairan mulai sulit. Terutama tanaman jagung, yang sejak puluhan tahun dibudidayakan oleh warga hutan Kendeng Utara tersebut.

Petani Desa Lengkonglor juga budidaya tanaman cabe (foto-sukadi)

Hanya yang dikeluhkan warga petani, setiap musim panen tiba, sulit untuk mengangkut hasil pertaniannya. Lantaran kondisi jalan masih makadam dan jalan tanah. Lebih-lebih bila musim hujan, jalan tanah mendadak berubah menjadi lumpur, sulit untuk dilalui. Hanya sekitar 2,6 kilometer yang sudah beraspal menghubungkan Desa Gampeng di sisi Barat Desa Lengkonglor. Mereka hanya bisa menumpuk di rumah sambil menunggu para tengkulak datang. Sementara, untuk mengangkut hasil pertanian menuju Pasar Ngluyu jarang dilakukan.

“Warga petani desa sini (Lengkonglor,Red) hampir tidak ada yang menjual hasil panennya ke pasar, karena sudah didatangi pembeli,” Jelasnya.

Tak heran, persoalan akses transportasi menjadi kendala utama di desa pinggiran ini, sehingga seringkali hasil panen menurun kualitasnya, faktor terlalu lama ditimbun di rumah. Sementara, para tengkulak yang setiap masa panen selalu diharapkan dapat membeli produksi pertaniannya, dengan harga murah.

Kacang tanah cocok ditanam di lahan kering desa Lengkonglor (foto-sukadi)

Selain bercocok tanam, warga Desa Lengkonglor juga gemar beternak. Meski sistem ternak yang dibudidayakan masih katagori konvensional, yakni dilepas di hutan pagi hari dan dikandangkan menjelang sore, namun dapat menopang perekonomian desa yang berpenduduk sekitar 2 ribu warga tersebut. Diantaranya, sapi, kerbau, kambing, dan unggas.

Lagi-lagi persoalan sarana transportasi yang menjadi kendala untuk menjual hasil ternak mereka. Paidin menyebut, lantaran akses jalan yang hanya satu jalur menuju wilayah kecamatan lain, menyebabkan hasil ternak dijual di tempat kepada tengkulak.

Beruntung di Desa Lengkonglor telah dibuka jalan baru oleh Kodim 0810 Nganjuk, menembus Desa Losari, Kecamatan Gondang. Sehingga askses transportasi kian lancar, tidak hanya menggantungkan satu akses jalan bila hendak ke wilayah kecamatan lain.

“Kalau jalan tembus menuju Desa Losari ini sudah dibuka, warga sini bisa lebih leluasa menjual hasil panen dan ternak. Hubungan bisnis dengan warga lain juga semakin mudah, bisa tahu harga di luar,” tukasnya.

Reporter : Sukadi

Editor : Yuniar Nurrohmah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *