Berita Utama News Politik Regional

Khofifah Jatim Berdaya – Desy Desa Berdaya

Sama-sama Programkan ‘One Village One Product’ Entaskan Kemiskinan

NGANJUK – ANJUKZONE – Antara Khofifah-Emil, calon gubernur (cagub)  dan wakil gubernur (cawagub) Jawa Timur dengan Desy – Yakin, calon bupati (cabup) dan wakil bupati (cawabup) Nganjuk sama-sama memiliki program ‘berdaya’. Bila pasangan calon (paslon) Khofifah – Emil memiliki program ‘Nawa Bhakti Satya’ yang didalamnya ada misi ‘Jatim Berdaya untuk memajukan tingkat perekonomian warga Jawa Timur,’ sedangkan paslon Desy – Yakin memiliki program ‘Desa Berdaya,’ untuk mengentaskan ketimpangan ekonomi di Nganjuk.

Linierisasi program ‘berdaya’ ini, paslon gubernur Jawa Timur nomor urut 1 memiliki komitmen dalam hal pengembangan ekonomi kecil. Apalagi di Jawa Timur banyak warga masyarakat, terutama pemuda dan pemudi yang jadi wirausahawan.

Seperti banyak pemuda di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Mojokerto, berwirausaha sebagai perajin patung dari tanah liat. Juga perajin batik tulis yang digandrung para turis saat berkunjung ke tempat bersejarah Trowulan.

Khofifah juga berkunjung ke sentra pembuatan cetakan kue berbasis alumunium. Salah satu pengelola usaha mengeluhkan soal sumber material untuk membuat kue.

Khofifah mengunjungi pelaku usaha UMKM di pasar tradisional (*)

Melihat potensi usaha mikro kecil dan menengang (UMKM) di sejumlah daerah Jawa Timur tersebut, Khofifah menyebut, perlu adanya dukungan maksimal dari pemerintah. Termasuk dukungan penyediaan lapangan kerja, pelatihan wirausaha, serta menyediakan program khusus bagi pemberdayaan UMKM.

“Ketika demand-nya tinggi supply-nya kurang, pasti akan berpengaruh, sedangkan market-nya sangat luas. Oleh karena itu, bagaimana supply raw material cetak kue tersebut bisa dimediasi pemerintah, terutama paling tidak member informasi di sini dan di sini (di lokasi usaha,red) mendapat raw material supaya proses pencetakan bisa dikembangkan,” ujar Khofifah saat mengunjungi salah satu pelaku usaha kue di Mojokerto.

Program pemberdayaan UMKM tersebut sudah dirancang dalam program Nawa Bhakti Satya, di dalamnya terdapat program Jatim Berdaya. Khofifah bertekad mendorong sektor riil, dengan programnya ‘one village one product one corporate and agropolitan, commununal branding untuk UMKM. Plus informasi super koridor yang disiapkan pemerintah untuk membantu pemasaran, pengemasan, sekaligus bantuan managemen pemasaran.

Sama halnya program Desy – Yakin yang dikenal dengan program ‘Desa Berdaya’.

Paslon nomor urut tiga ini, untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memajukan daerah Nganjuk melalui pemberdayaan masyarakat desa untuk menjadi desa mandiri, dengan sistem ‘one village one product,’ sama seperti program Khofifah. Semisal, di suatu daerah didirikan pabrik kecap. Antara kedua pihak, pabrik kecap dengan petani secara otomatis terjadi hubungan timbal balik. Pabrik dapat menghidupi petani karena membeli hasil tanaman kedelainya, sementara pabrik mendapat bahan dasar kedelai dari petani, hasil binaannya sendiri.

Desy Natalia Widya, Cabup Nganjuk 2018 mengunjungi pelaku usaha UMKM di Pasar tradisonal Lengkong (foto-soel)

Guna memprogram desa bedaya, Desy membedakan antara dana desa dengan desa berdaya yang menjadi tagline pemenangannya. Pencanangan desa berdaya dengan dana Rp 5 juta hingga Rp 2 milyar tiap desa sangat realistis dijalankan oleh siapa sja. Karena dana diambil dari APBD Nganjuk. Data silpa Kabupaten Nganjuk tahun 2016 yang dirilis oleh Kantor BPS Kabupaten Nganjuk tahun 2017 menunjukkan sisa anggaran Rp 300 milyar tidak terserap pembangunan.

“Ini menandakan penyerapan anggaran yang tidak maksimal atau planning yang sudah dilakukan tidak berjalan dengan baik,” jlentreh Desy.

Maka kedepan, lanjut Desy, akan dilakukan penataan kembali mana yang perlu dan mana yang tidak perlu dianggarkan. Sehingga silpa yang cukup besar ini tidak lagi terjadi di tahun-tahun mendatang.

Namun tidak otomatis seluruh desa akan mendapat kucuran dana. Dan tidak serta merta pula akan disetujui jika proposal yang diajukan tidak realistis.

Dimisalkan, seluruh desa mendapat kucuran dana rata-rata Rp 1 milyar tiap tahun. Maka hanya akan dibutuhkan dana sekitar Rp 284 milyar atau sekitar 12 % hingga 15 % dari dana APBD Nganjuk.

“Dana desa berdaya ini tidak hanya untuk pembentukan sekitar 14 ribu wira usaha baru untuk jangka 5 tahun ke depan. Namun juga bisa dikucurkan untuk mengurangi angka putus sekolah di masyarakat dengan gerakan desa literasinya,” tukasnya.

Reporter : Sukadi

Editor: Yuniar

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *