Berita Utama Hukum Kriminal Nasional News

Sidang Suap Eks Bupati Nganjuk : Tergiur Jabat Kasek Rela Suap Rp 80 Juta

Terungkap Dana BOS dan Uang Rapor Siswa Dihimpiun MKKS

SURABAYA – ANJUKZONE – Sidang lanjutan kasus dugaan suap terhadap eks Bupati Nganjuk Taufiqurrahman kembali digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Surabaya, Senin, 26 Maret 2018.

Sidang yang dipimpin oleh hakim I Wayan Sosiawan tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menghadirkan empat saksi kunci. Masing-masing adalah Teguh Sujatmiko Kepala SMPN 1 Tanjung Anom, Suroto Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Nganjuk, Cahyo Sarwo Edi Kepala Bidang Ketenagaan Disdik Kabupaten Nganjuk, Sutrisno Kepala SMPN 5 Nganjuk, dan Sugito Kepala SMPN 2 Sawahan.

Dalam persidangan, Suroto membeberkan dalam kasus dugaan suap, dirinya berperan sebagai penghimpun dana yang disetor oleh sejumlah kepala sekolah yang baru saja dilantik. Peran tersebut diberikan oleh atasannya, Ibnu Hajar yang menjabat Kepala Disdik Kabupaten Nganjuk. Dikatakan bahwa dana yang didapat dari kepala sekolah adalah sebagai uang syukuran.

Sedikitnya ada empat kepala sekolah yang dimintai uang dengan nominal bervariasi, tergantung dari status sekolah dan ambisi kepala sekolah. Tiga kepala sekolah membayar Rp 80 juta, sedangkan satu kepala sekolah membayar Rp 60 juta.

Cahyo Sarwo Edi, anak buah Ibnu Hajar juga diminta untuk menagih uang syukuran kepada Sugito, Kepala SMPN 2 Sawahan. Pasalnya, kepala sekolah yang satu ini, setelah dilantik belum mebayar senilai Rp 60 juta, seperti dijanjikan sebelumnya.

Di hadapan hakim, Sugito mengaku rela membayar uang yang diminta Ibnu Hajar yang kini ditetapkan sebagai terdakwa itu, lantaran tergiur dengan tunjangan sebagai kepala sekolah sebesar Rp 600 ribu tiap bulannya.

Hanya kesaksian Sugito tersebut sempat membuat JPU KPK Fitroh Rohcayanto dan Ni Nengah Gina Saraswati ragu. Justru Jaksa KPK tersebut curiga, ada sesuatu yang istimewa dari jabatan kepala sekolah.

“Masak keuntungan jadi kepala sekolah cuma dapat Rp 600 ribu, itu besar lho uang yang anda setorkan, berapa lama itu baliknya,” cecar JPU KPK Fitroh Rohcayanto.

Jaksa juga mencurigai, jika dana suap yang dibayar ke Ibnu Hajar lewat Cahyo tersebut berasal dari dana BOS dan sumber dana pendidikan lain di sekolah yang dipimpinnya. Hanya Sugito mengaku, hutang yang dijanjikan akan dilunasi menggunakan uang pribadi.

Dugaan suap berikutnya dilakukan oleh Sutrisno Kepala SMPN 5 Nganjuk kepada Suwandi Kepala SMPN 3 Ngronggot. Untuk sebuah jabatan pengawas sekolah, Sutrisno harus membayar Rp 40 juta kepada Suwandi.

Sutrisno rela melepas uang tabungan hasil tunjangan profesi pendidik (TPP) yang diterima Rp 11 juta tiap 3 bulannya, lantaran kepala sekolah yang telah ditetapkan sebagai terdakwa bersama Ibnu Hajar itu dikenal sebagai orang kepercayaan Ibnu Hajar dan Taufiqurrahman.

Saksi berikutnya adalah Teguh Sujatmiko, Kepala SMPN 1 Tanjunganom. Kepala sekolah yang merangkap jabatan Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Nganjuk ini mengaku pernah memberikan uang Rp 176 juta kepada Ibnu Hajar. Uang diambilkan dari hadiah rekanan jasa konsultan dan uang rapor siswa.

Dari fakta persidangan, uang suap yang diberikan Teguh kepada Ibnu Hajar berasal dari dana BOS dan uang rapor yang dihimpun dari para siswa. Tiap siswa diminta membayar Rp 40 ribu, MKKS mengambil keuntungan Rp 21 juta, digunakan sebagai uang syukuran.

“Dana BOS untuk menyiapkan rapor yang dikelola MKKS, per siswa bayar Rp 40 ribu, masing-masing sekolah setor uang ke MKKS, dipakai Teguh biar dapat nama dan dianggap punya loyalitas pada atasan,” terang Jaksa Fitroh.

Dalam fakta persidangan juga terungkap, jika selama transaksi suap, mereka menggunakan media telepon seluler (ponsel) khusus. Bukan ponsel yang digunakan sehari-hari, tujuannya agar tidak mudah disadap oleh KPK. Salah satu saksi yang mendapat ponsel khusus dari Ibnu Hajar adalah Suroto untuk digunakan sebagai media transaksi suap.(*)

Reporter : Sukadi

Editor: Yuniar Nurrohmah

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *