Berita Utama News Politik Regional

Debat Publik: Adu Jurus Pamungkas Tarik Simpatik Konstituen

Tiga Paslon Bupati dan Wakil Bupati Nganjuk 2018 Masih Draw 

NGANJUK – ANJUKZONE – Perseteruan sengit tiga pasang calon (paslon) bupati dan wakil bupati Nganjuk terjadi di atas panggung debat terbuka perdana di Gedung Juang ’45 Nganjuk, Sabtu malam, 24 Maret 2018. Ketiga paslon, memamerkan jurus-jurus jitu untuk menarik simpati konstituennya.

Masing-masing paslon saling serang satu sama lainnya, dipandu dua orang host. Sebagai pemanasan, tiap paslon melancarkan jurus visi dan misi, kemudian menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh host. Di sini, adu kecerdasan mulai teruji ketika host melontarkan pertanyaan kepada paslon nomor urut dua, Hanung – Bima seputar kiat pamungkas meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memajukan daerah Nganjuk. Paslon Hanung – Bima melancarkan salah satu jurus usaha kecil menengah (UKM) dan perdagangan secara menyeluruh untuk mengatasi permasalahan perekonomian. Termasuk persoalan pertanian, peternakan dengan pemanfaatan teknologi modern. “Pertanian harus berinteraksi sampai pasca panen didukung teknologi tepat guna sehingga produksi meningkat,” terang Hanung.

Paslon Hanung – Bima dalam debat publik di Gedung Juang ’45 (yuniar)

Namun serangan bertubi-tubi datang dari paslon Desy – Yakin. Menanggapi jurus-jurus Hanung – Bima, Desy mengcounter upaya yang akan dilakukan paslon nomor urut dua tersebut adalah suatu upaya yang masih samar-samar. Pasalnya, jurus yang digadang-gadang tidak serta merta memberikan jawaban secara lengkap untuk mengatasi persoalan ekonomi di Nganjuk.

“Lantas bagaimana cara menumbuhkan hal tersebut, bila tidak dijelaskan secara lengkap,” elak Desy menanggapi pernyataan paslon dua.

Baik pernyataan paslon dua maupun tanggapan paslon tiga kontan mendapat tangkisan dari paslon satu. Pasangan Novi – Marhen ini kontan menangkis dengan asumsi, bila kabupaten Nganjuk ingin meningkatkan perekonomian dilihat terlebih dahulu produk domestik regional bruto (PDRB). Dimana sumbangan besar yang pertama adalah sektor pertanian disusul sektor kehutanan, terakhir pengairan yang didukung oleh sektor perdagangan.

Giliran paslon Desy – Yakin melancarkan jurus-jurus jitunya. Kini paslon nomor urut tiga, untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memajukan daerah Nganjuk melalui sektor pertanian berbasis industri modern, dengan sistem ‘one village one product.’ Semisal, di suatu daerah didirikan pabrik kecap. Antara kedua pihak, pabrik kecap dengan petani secara otomatis terjadi hubungan timbal balik. Pabrik dapat menghidupi petani karena membeli hasil tanaman kedelainya, sementara pabrik mendapat bahan dasar kedelai dari petani, hasil binaannya sendiri.

Desy – Yakin dalam debat terbuka di Gedung Juang ’45 (yuniar)

“Begitu seterusnya dengan kerjasama bentuk lain, untuk meningkatkan kesejahteraan petani dengan keterlibatan dunia industri,” terang Desy.

Menyambut pernyataan Desy – Yakin, paslon Novi – Marhen menyampaikan, Kabupaten Nganjuk ke depan harusnya terjadi keseimbangan antara pertumbuhan industri dengan agraris, sehingga tercipta pertumbuhan industri yang mampu menyerap tengaga kerja di Kabupaten Nganjuk.

“Jadi tidak ada lagi pengangguran,” ujar Novi.

Keseimbangan sektor industri dan agraris di Nganjuk, sekaligus menjawab tantangan konsep ekonomi gotong royong untuk mencukupi kebutuhan pokok.

“Tentunya sektor industri kita pilih, tidak semua bisa kita masukkan,” tegas Novi.

Perseteruan kian seru saat paslon Hanung – Bima turut bicara soal sektor pertanian untuk mengembangkan potensi ekonomi di Nganjuk. Hanung lebih memilih UKM center untuk menampung aspirasi para pelaku agraris. Yaitu untuk mewadahi usaha kecil, memfasilitasi promosi ke luar daerah Nganjuk, termasuk pemasarannya. Juga, paslon Hanung – Bima optimistis akan memberikan pelatihan kepada pelaku usaha kecil, sehingga mereka benar-benar dapat mengembangkan kemampuannya untuk meningkatkan kesejahteraan di bidang ekonomi.

Perdebatan kian seru ketika paslon Novi – Marhen menyoal sumber dana Rp 500 juta  hingga Rp 2 milyar untuk pengembangan desa berdaya yang diidam-idamkan paslon Desy – Yakin bila mendapat amanah menjadi orang nomor satu di Nganjuk. Novi menyebut, dana yang dicanangkan paslon Desy – Yakin sangat bertentangan dengan program pemerintah pusat oleh Jokowi, karena pemerintah pusat sudah memprogramkan dana untuk desa lewat APBN.

Paslon Novi – Marhen dalam debat terbuka di Gedung Juang ’45 (yuniar)

“Apakah mungkin, pemerintah sudah menganggarkan lewat APBN, lantas daerah membiayai lewat APBD. Jadi tidak tepat bila daerah kembali menganggarkan Rp 500 juta hingga Rp 2 milyar lewat APBD. Kecuali kalau pemerintah desa meberikan reward (penghargaan,red) kepada masing-masing desa berprestasi,” sanggah Novi.

Menanggapi sanggahan paslon Novi – Marhen, paslon Desy – Yakin tidak tinggal diam. Tangkisan maut dilancarkan untuk membendung serangan paslon nomor urut satu tersebut.

Desy menegaskan, beda jauh antara dana desa dengan desa berdaya yang menjadi tagline pemenangannya. Pencanangan desa berdaya dengan dana Rp 5 juta hingga Rp 2 milyar tiap desa sangat realistis dijalankan oleh siapa sja. Karena dana diambil dari APBD Nganjuk. Data silpa Kabupaten Nganjuk tahun 2016 yang dirilis oleh Kantor BPS Kabupaten Nganjuk tahun 2017 menunjukkan sisa anggaran Rp 300 milyar tidak terserap pembangunan.

“Ini menandakan penyerapan anggaran yang tidak maksimal atau planning yang sudah dilakukan tidak berjalan dengan baik,” jlentreh Desy.

Maka kedepan, lanjut Desy, akan dilakukan penataan kembali mana yang perlu dan mana yang tidak perlu dianggarkan. Sehingga silpa yang cukup besar ini tidak lagi terjadi di tahun-tahun mendatang.

Namun tidak otomatis seluruh desa akan mendapat kucuran dana. Dan tidak serta merta pula akan disetujui jika proposal yang diajukan tidak realistis.

Dimisalkan, seluruh desa mendapat kucuran dana rata-rata Rp 1 milyar tiap tahun. Maka hanya akan dibutuhkan dana sekitar Rp 284 milyar atau sekitar 12 % hingga 15 % dari dana APBD Nganjuk.

“Dana desa berdaya ini tidak hanya untuk pembentukan sekitar 14 ribu wira usaha baru untuk jangka 5 tahun ke depan. Namun juga bisa dikucurkan untuk mengurangi angka putus sekolah di masyarakat dengan gerakan desa literasinya,” tukasnya.

Sialnya, program ketiga paslon yang hebat dalam debat publik perdana KPUD Nganjuk tidak dapat dinikmati oleh warga pemilih Nganjuk. Lantaran, media televisi yang digandeng, tayangannya tidak dapat menjangkau seluruh wilayah. Selain itu kualitas siaran dan akomodasi serta tata lighting tidak jelas diterima pesawat televisi.*

Reporter : Sukadi

Editor: Yuniar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *