Berita Utama News Politik

Buah Kecewa Debat Perdana Cabup Cawabup. Simak Keluhan Warga Nganjuk!

NGANJUK – ANJUKZONE – Debat terbuka tiga pasangan calon (paslon) bupati dan wakil bupati Nganjuk 2018 di Gedung Juang ’45, Sabtu malam, 24 Maret 2018 membuat kecewa banyak pihak. Kekecewaan datang bukan hanya dari warga pendukung ketiga paslon, namun beberapa warga masyarakat Nganjuk yang turut menyaksikan jalannya debat ikut kecewa. Mereka menilai jalannya debat tidak berjalan mulus, sebagaimana diharapkan, sehingga pemaparan visi dan misi serta sesi debat dari ketiga paslon sulit untuk dipahami warga pemilih. Kegagalan memahami materi bukan hanya dirasakan saat debat berlangsung dalam gedung, namun juga dirasakan warga pemilih usai menyaksikan tayangan langsung di televisi. Lantaran, vokal suara yang keluar tidak jelas, ditambah dukungan sound system dan lighting kurang masksimal.

Imam Ghozali, SH, salah satu tim pemenangan paslon Hanung – Bima menyesalkan jalannya debat, dimulai saat masing-masing paslon menyampaikan visi dan misi hingga sesi debat. Beberapa kali mike mengalami masalah ketika peserta debat mulai bicara. Tak heran, mereka harus berulang kali tukar mike dan mengetes kondisi perangkat ketika ingin bicara.

“Kami langsung melakukan protes kepada panitia penyelenggara debat, supaya dievaluasi agar pada debat berikutnya tidak lagi terjadi kesalahan,’ keluhnya.

Selain mempersoalkan kualitas sound system, praktisi hukum ini juga mengeluhkan kondisi lighting dan akomodasi. Penataan tempat duduk paslon tidak memperhatikan pencahayaan yang ada. Kondisi screen di belakang tempat duduk paslon menyorot lebih terang dibanding cahaya dari depan. Sehingga, gambar terlihat gelap bila dishoot kamera atau difoto.

“Gambar paslon kalah dengan cahaya yang ada di screen, sementara cahaya di depan kurang terang,” katanya.

Kekecewaan serupa diakui Soel, salah satu relawan paslon Desy – Yakin. Sebelum acara berlangsung, sudah diprediksi bakal terjadi masalah terhadap pencahayaan. Masalahnya, tempat duduk paslon tepat berada di depan screen, yang cahayanya lebih terang dibanding cahaya yang ada di sekitar lokasi debat.

“Harusnya posisi screen agak ke atas sedikit, di atas kepala paslon, sehingga pada saat diambil gambarnya, tidak kabur. Terus cahaya dari depan ditambah sedikit biar tampilannya tambah bagus,” ujar bagian dokumentasi paslon Desy – Yakin ini.

Berbeda dengan Suradi, warga Desa Jatirejo, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk ini. Pria yang mengaku belum menentukan dukungan terhadap salah satu paslon ini, berulang kali kecewa saat menyaksikan siaran langsung debat lewat layar lebar di depan gedung. Suradi yang datang ke Gedung Juang bersama beberapa rekannya sengaja ingin menyaksikan langsung jalannya debat. Namun terbentur tidak memiliki ID Card untuk masuk ruang debat, mereka memilih menyaksikan di luar. Hanya mereka dibuat kecewa ketika pemandu acara mulai melontarkan pertanyaan ke paslon.

“Ketika paslon mulai menjawab pertanyaan, tiba-tiba suaranya hilang dan bising, terpaksa mereka harus meniup-niup mike, jadi tidak tau mereka omong apa, keburu waktunya sudah habis,” katanya.

Padahal, lanjut Suradi, warga Nganjuk sangat berharap lewat paparan paslon, masyarakat pemilih di Nganjuk bisa mengetahui kualitas masing-masing paslon, sebelum menentukan pilihannya meski lewat tayangan televisi. Sayang, televisi yang digandeng oleh KPUD Nganjuk tidak memiliki jangkauan siar merata di wilayah Nganjuk. Serta kualitas siarannya juga tidak bisa diterima dengan baik.

“Kalau ingin dilihat warga pemilih seluruh Nganjuk, sebaiknya kualitas tayangan televisinya yang bagus dan merata. Sementara TV lokal yang digandeng hanya bisa dilihat di beberapa kecamatan saja,” tegas Suradi.

Dikonfirmasi jalannya debat terbuka, Yudha Harnanto, SH., MH mengakui, debat perdana ini belum bisa berjalan maksimal. Selain terkendala masalah teknis, juga gedung yang digunakan kurang memenuhi standar. Sehingga, saat debat berlangsung, kondisi sound system beberapa kali putus dan suara yang keluar menggema.

“Nanti akan kami evaluasi bersama tim, agar debat berikutnya tidak terjadi lagi kesalahan, dan kondisi gedung tidak menggema,” jelas komisioner KPUD Nganjuk Ketua Devisi Hukum ini.

Sebenarnya, lanjut Yudha, jauh-jauh hari KPU sudah memprogramkan, menggunakan fasilitas Gedung Wanita Nganjuk untuk mengantisipasi gema, namun kadahuluan penyewa lain untuk acara nikahan.

Reporter : Sukadi

Editor : Yuniar Nurrohmah

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *